Mengingat Kembali
Kebusukan Abdul Ghofur Al Malangi
Ditulis oleh:
Abu Fairuz Abdurrohman Al Qudsy Al Jawy Al Indonesy
-semoga Alloh memaafkannya-
Darul Hadits Dammaj
Yaman
-Semoga Alloh menjaganya-
Pengantar Penulis
الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم أما بعد:
Sesungguhnya Alloh ta’ala telah menjadikan hati manusia beraneka ragam,
ada lembut dan mudah menerima kebenaran, ada sangat keras dan tidak
bermanfaat baginya Al Qur’an, tidak bisa tunduk luluh kecuali setelah
dilebur dalam Jahannam. Di antara dua jenis hati tersebut ada sekian banyak tipe hati.
Alloh ta’ala berfirman kepada Bani Isroil:
ثُمَّ
قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ
أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ
الْأَنْهَارُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ
وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ الله وَمَا الله بِغَافِلٍ
عَمَّا تَعْمَلُون [البقرة/74]
“Kemudian
hati kalian menjadi kaku setelah itu. Maka hati kalian seperti batu
atau lebih kaku lagi. Dan sesungguhnya di antara bebatuan itu ada batu
yang memancar darinya sungai-sungai. Dan di antara bebatuan itu ada juga yang pecah lalu mengalir darinya air.
Dan di antara bebatuan itu ada juga yang jatuh karena takut pada Alloh.
Dan Alloh itu tidak lalai terhadap apa yang kalian kerjakan.”
Al Imam As Sa’diy berkata: “Kemudian hati kalian menjadi kaku setelah itu” yaitu: menjadi keras dan tebal, sehingga tidak berpengaruh padanya nasihat. “setelah itu”
yaitu setelah Alloh memberikan kenikmatan pada kalian dengan berbagai
kenikmatan yang agung, dan memperlihatkan pada kalian tanda-tanda
kebesaran-Nya, dan tidak sepantasnya untuk hati kalian itu menjadi kaku,
karena perkara yang kalian saksikan itu termasuk perkara yang
mengharuskan lunaknya hati dan ketaatannya. Kemudian Alloh menggambarkan
kekauan hati-hati mereka dengan: “seperti batu atau lebih kaku lagi” yang mana batu itu lebih kaku daripada besi, karena besi dan timah itu jika dileburkan di dalam api, dia akan melebur, berbeda dengan bebatuan. Firman Alloh “atau lebih kaku lagi” yaitu: hati kalian tidak kurang kakunya dibandingkan dengan kakunya bebatuan. Dan bukanlah makna “atau” di sini adalah “bahkan”. Kemudian Alloh menyebutkan keutamaan bebatuan daripada hati-hati Bani Isroil tadi, dengan berfirman: “Dan
sesungguhnya di antara bebatuan itu ada batu yang memancar darinya
sungai-sungai. Dan di antara bebatuan itu ada juga yang pecah lalu
mengalir darinya air. Dan di antara bebatuan itu ada juga yang jatuh
karena takut pada Alloh” maka dengan perkara-perkara
inilah bebatuan tadi lebih utama daripada hati kalian. Kemudian Alloh
ta’ala mengancam mereka dengan ancaman yang paling keras: “Dan Alloh itu tidak lalai terhadap apa yang kalian kerjakan” bahkan Alloh itu mengetahui amalan kalian dan mengawasinya, baik amalan yang besar ataupun yang kecil, dan Dia
akan membalasi kalian berdasarkan itu dengan balasan yang paling
sempurna dan paling cukup.” (“Taisirul karimir Rohman”/hal. 55).
Itu kisah
Bani Isroil, dan kita dilarang untuk menyerupai mereka atau meniru jejak
mereka. Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata dalam tafsir ayat ini berkata: “Oleh karena itulah Alloh melarang kaum Mukminin untuk menyerupai keadaan mereka. Alloh ta’ala berfirman:
﴿أَلَمْ
يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ الله وَمَا
نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ
مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ
مِنْهُمْ فَاسِقُونَ﴾ [الحديد/16].
“Apakah
belum tiba saatnya bagi orang-orang yang beriman untuk hati-hati mereka
itu tunduk kepada peringatan Alloh dan kepada kebenaran yang telah
turun? Dan jangan sampai mereka menjadi seperti orang-orang yang diberi
kitab sebelum mereka, lalu masa yang panjang berlalu atas mereka
sehingga hati mereka menjadi kaku, dan kebanyakan mereka itu fasiq.”
(“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/1/hal. 304).
Demikian
itulah keadaan seorang hizbiy pengekor hawa nafsu semacam Abdul Ghofur
Al Malangiy, yang hatinya penuh dengan kesombongan, tak mau tunduk
kepada kebenaran setelah runtuhnya argumentasi dan dakwaannya oleh
hujjah-hujjah yang kokoh, tajam dan bercahaya. Dia lebih suka
memperpanjang perdebatan, jika kalah di suatu medan, tidak mau mengikuti
kewajiban dari Robbul ‘alamin untuk rujuk dan mengaku kalah, tapi
melompat ke perkara yang lain. ‘Aisyah رضي الله عنها berkata: Nabi صلى
الله عليه وسلم bersabda:
إن أبغض الرجال إلى الله الألد الخصم.
“Sesungguhnya
orang yang paling dibenci oleh Alloh Alloh adalah orang yang suka
bertengkar dan paling suka berpindah-pindah.” (HR. Al Bukhoriy (2457)
dan Muslim (6951)).
Al Imam An
Nawawiy رحمه الله berkata:(الألدّ) adalah orang yang sangat keras
perkengkarannya. Istilah ini diambil dari lafazh (لدودي الوادي) yaitu
dua tepi lembah, karena orang ini setiap kali kalah debat dengan suatu
argumentasi, dia akan mengambil sisi yang lain lagi. Adapun (الخصم)
adalah orang yang mahir bertengkar. Dan yang tercela adalah pertengkaran
dengan memakai kebatilan, dalam rangka menghilangkan kebenaran, atau
menetapkan kebatilan. Wallohu a’lam.” (“Al Minhaj”/An Nawawiy/ 16/hal.
219).
Maka tipe
orang macam ini jika tidak dirohmati Alloh, dirinya akan terus tercebur
ke dalam kebatilan dan hancur bersama dengan hancurnya kebatilan tadi.
Al Khothib Al Baghdadiy berkata: “Wajib bagi setiap orang yang telah
terbantah dengan kebenaran untuk menerimanya dan tunduk padanya, dan
janganlah berlama-lamanya dia dalam pertengkaran dan perdebatan
membawanya untuk masuk ke dalam kebatilan padahal dia tahu hal itu.
Alloh ta’ala telah berfirman:
﴿بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ﴾ [الأنبياء: 18]
“Bahkan
Kami melemparkan kebenaran kepada kebatilan sehingga kebenaran
menghancurkan kebatilan, maka tiba-tiba saja kebatilan itu sirna.”
.” (“Al Faqih Wal Mutafaqqih”/2/hal. 113/Maktabatut Tau’iyatil Islamiyyah).
Orang yang
mencermati tulisan-tulisan Abdul Ghofur malang ini, sepanjang
tahun-tahun pembelaannya terhadap hizbiyyin fujjar Mar’iyyin Luqmaniyyin
dan upaya kerasnya untuk merusak Salafiyyin, -dan sampai pada hari-hari
ini- di bulan suci Romadhon 1433H- akan mendapati benarnya apa yang
saya paparkan barusan.
Sebagai
contoh kecil, saya akan mengajak para pembaca mengingat kembali
kejahatan dan kebatilan orang ini di dalam tulisan dirinya
“Hampir-hampir Mereka… Jantan” dan alur bantahan saya terhadapnya dengan
judul “Apel Manalagi Buat Cak Malangi” dengan sedikit perbaikan.
Pembaca yang
mendapatkan taufiq dari Alloh ta’ala akan bisa melihat betapa halus dan
lembutnya langkah yang saya tempuh di awal-awal seri, dengan hujjah
yang sangat kuat dan disertai dengan ketawadhu’an, demi meninggikan
kalimat Alloh dengan cara yang lebih baik, dan demi menyadarkan si Dul
dari kesesatannya. Akan tetapi seiring dengan waktu, semakin nyatalah
bagi saya akan kuatnya cengkeraman setan dan hawa nafsu di benak orang
ini, dan nampak sekali kesombongannya sehingga pada seri-seri berikutnya
saya terpaksa menampilkan tamparan dan cakaran, dan sebagiannya saya
membalikkan kosa-kata keji yang dipakai orang zholim ini sendiri
terhadap Ahlussunnah.
Dan di akhir risalah akan saya tampilkan rangkuman catatan poin-poin keburukan Abdul Ghofur Al Hizbiy, insya Alloh.
Taufiq saya hanyalah datang dari Alloh semata. Selamat menyimak.
Dammaj, 15 Romadhon 1433 H.
Daftar Isi
Pengantar Penulis. 2
Apel Manalagi Buat Cak Malangi (seri 1)5
Kesiapan Untuk Mengikuti Kebenaran. 5Meskipun Pahit dan Menyakitkan. 5
Kata Pengantar Seri Satu. 6
Bab Satu: Kita Diciptakan Untuk Beribadah Kepada Alloh ta’ala Semata. 6
Bab Dua: Kesiapan Memikul Konsekuensi 9
Bab Tiga: Sedikit Kesalahan Pada Judul 11
Bab Empat: Kasus Ucapan: “Dijamin Kebenarannya”. 13
Bab Lima: Kasus Firman Hidayat 20
Bab Enam: Istilah “Pusat Dakwah Salafiyyah Paling Murni Sedunia”. 32
Bab Tujuh: Akhunal Fadhil Muhammad Bin Umar -hafizhohulloh- Tidak Ngibul 35
Apel Manalagi Buat Cak Malangi (seri 2)42
Keluarnya Seseorang dari As Sunnah,42
Mungkinkah? Dan Kapankah?. 42
Kata Pengantar Seri Dua. 43
Bab Satu: Kedangkalan Ilmu Pemilik Sepatu Merah Jambu. 43
Bab Dua: Kami Mencela Para Mubtadi’ah, Bukan Mencela Ulama Ahlussunnah. 44
Bab Tiga: Siapakah Dari Umat Muhammad -shollallohu ‘alaihi wasallam- Yang Ma’shum?. 45
1. Dalil Al Qur’an dan As Sunnah. 45
2. Dalil kenyataan. 47
Bab Empat: Pengertian As Sunnah dan Seruan Untuk Memegangnya Dengan Kokoh. 49
Pasal Satu: Pengertian As Sunnah. 49
Pasal Dua: Seruan Untuk Memegang Teguh As Sunnah. 50
Bab Lima: Kapankah Seseorang Dihukumi Telah Keluar dari Ahlussunnah?. 53
Pasal Satu: Seseorang Dihukumi Menjadi Mubtadi’ Jika Menyelisihi Kaidah Umum, atau Banyak Menyelisihi Perkara Cabang. 53
Pasal Dua: Pengertian Perkara Pokok. 54
Pasal Tiga: Agama memang bertingkat-tingkat 56
Bab Enam: Penyelisihan Kedua Anak Al Mar’iy dan Pengikutnya Terhadap Kewajiban Menjaga Persatuan 56
Bab Tujuh: Dua Pokok Pemahaman Dalam Menjatuhkan Hukuman. 70
Bab Delapan: Pokok-pokok Salafiyyah Yang Lain Yang Diselisihi Anak Al Mar’iy dan Pengikutnya 71
Bab Sembilan: Sebagian Alamat Hizbiyyah Anak Al Mar’iy dan Pengikutnya. 72
Bab Sepuluh: Berbagai Perbuatan Kedua Anak Mar’iy dan Pengikutnya Itu Merupakan Ihdats Terhadap Dakwah 76
Bab Sebelas: Bayyinah-bayyinah Tadi Sampai Sekarang Tidak Bisa Dipatahkan oleh Para Penentang Dengan Hujjah Sebagaimana Mestinya. 77
Bab Dua Belas: Hukum Yang Dibangun Dengan Hujjah Yang Kuat Tidak Boleh Dianggap Sebagai Cercaan Kepada Ulama Ahlussunnah. 79
Bab Tiga belas: Tantangan Buat Cak Dul Untuk Meruntuhkan Bayyinah-bayyinah Tadi dengan Hujjah 79
Bab Empat Belas: Siapakah Sebenarnya Pihak Yang Menyetarakan Fatwa Ulamanya Dengan Al Qur’an? 81
Bab Lima Belas: Siapakah Yang Berhak Menjadi Keledai?. 87
Apel Manalagi Buat Cak Malangi (seri 3)90
Kesembronoan Abdul Ghofur Al Malangiy. 90
Dalam Kasus Syaikh Salim Al Hilaliy. 90
Kata Pengantar Seri Tiga. 91
Bab Satu: Masalah Kebersamaan Asy Syaikh Salim Al Hilaliy -hafizhohulloh- dengan Sururiyyin dan Turotsiyyin 92
Bab Dua: Tuduhan Pencurian kitab “Ash Shobr”. 100
Bab Tiga: Tuduhan Penyalahgunaan dana dari Ihya’ut Turots. 111
Apel Manalagi Buat Cak Malangi (seri 4)113
Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy Alim Salafiy,113
Adapun Abdulloh Alu Mar’i Itu Hizbiy. 113
Kata Pengantar Seri Empat. 114
Bab Satu: Dukungan Abdulloh Al Mar’i terhadap Abul Hasan Al Mishriy. 115
Bab Dua: Keahlian Mengambil Uang Orang Lain Dengan Batil Atas Nama Dakwah. 129
Bab Tiga: Teknik Khusus Hizbiyyun: Ceramah Lalu Mengemis. 142
Bab Empat: Abdulloh Mar’i Lebih Pantas Jadi Juragan Daripada Menjadi Sosok Seorang Ulama dakwah Salafiyyah 144
Bab Lima: Mengapa Asy Syaikh Robi’ –hafizhohulloh- Tidak Dijuluki Bagian Dari “Mar’iyyin”?. 145
Apel Manalagi Buat Cak Malangi (seri 5)151
Kebatilan Ubaid Al Jabiriy Tidak Dipungkiri,151
Yang Membongkarnya Justru Dimusuhi151
Kata Pengantar Seri Lima. 152
Bab Satu: Abdul Ghofur Tidak Adil Dalam Memaparkan Kasus. 152
Bab Dua: Si Dul Tergesa-gesa Menilai Sebelum Tahu Duduk Permasalahan. 153
Bab Tiga: Ahmad Asy Syihhiy, Korban fatwa Ubaid Al Jabiriy. 154
Kesimpulan Penting. 162
Catatan Perbedaan antara Abdul Ghofur Al Hizbiy dengan Ahlussunah. 162
Daftar Isi165
Apel Manalagi Buat Cak Malangi (seri 1)
Kesiapan Untuk Mengikuti Kebenaran
Meskipun Pahit dan Menyakitkan
Korektor:
Abu Turob Saif bin Hadhor Al Jawy Al Indonesy
-semoga Alloh memaafkannya-
Ditulis oleh:
Abu Fairuz Abdurrohman Al Qudsy Al Jawy
Al Indonesy
-semoga Alloh memaafkannya-
Darul Hadits Dammaj Yaman
-Semoga Alloh menjaganya-
بسم الله الرحمن الرحيم
Kata Pengantar Seri Satu
الحمد لله واشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله، اللهم صلى الله عليه وآله وسلم وسلم على محمد وآله وسلم، أما بعد:
Telah datang
kepada kami naskah tulisan dari seorang Muslim yang beridentitas Abu
Dzulqornain Abdul Ghofur dari kota Malang, yang berisi penuh dengan caci-makian kepada Salafiyyin Dammaj dan yang bersama dengan mereka.
Juga berisi kesalahpahaman dan pengkaburan fakta. Namun ada juga
koreksian terhadap kesalahan yang dilakukan oleh sebagian ikhwan kita.
Maka sebagian dari ikhwan meminta ana -waffaqoniyallohu- untuk
menanggapi surat tersebut, menjawab pertanyaannya, dan menjawab
kritikannya, dan meluruskan perkara-perkara yang salah.
Berhubung
banyaknya sisi yang dibidik, maka ana -waffaqoniyallohu- pun membagi
tulisan ini dalam beberapa seri ( إن شاء الله تعالى). Dan berhubung ini
adalah awal tegur sapa ana -waffaqoniyallohu- dengan Cak Dul Ghofur
-waffaqohullohu-, ana akan berusaha untuk menempuh gaya bahasa yang halus ( إن شاء الله تعالى).
Ana berharap
jawaban ini bisa bermanfaat untuk beliau, dan keumuman
Muslimin-Salafiyyin. Hanya kepada Alloh kita mohon taufiq dan kelurusan.
Bab Satu:
Kita Diciptakan Untuk Beribadah Kepada Alloh ta’ala Semata
Pada seri
yang pertama ini penulis mengajak seluruh pembaca untuk mengingat
kembali bahwasanya kita diciptakan dan dihadirkan di dunia bukanlah
untuk main-main, ataupun banyak mengobrol, ataupun menghabiskan waktu
dengan nongkrong di internet.
Alloh ta’ala berfirman:
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ [المؤمنون/115]
“Maka
apakah kalian mengira bahwasanya kami menciptakan kalian untuk
kesia-siaan belaka, dan bahwasanya kalian tak akan dikembalikan kepada
Kami?” (QS. Al Mukminun: 115).
Justru kita
semua diciptakan untuk suatu amanah yang agung, yang banyak makhluk yang
perkasa takut untuk memikulnya. Alloh ta’ala berfirman:
إِنَّا
عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ
فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا
الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا *
لِيُعَذِّبَ الله الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ
وَالْمُشْرِكَاتِ وَيَتُوبَ الله عَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
وَكَانَ الله غَفُورًا رَحِيمًا
”Sesungguhnya
Kami telah menawarkan amanah ini kepada langit-langit, bumi dan
gunung-gunung, tapi semuanya enggan untuk memikulnya dan takut
terhadapnya. Dan amanah itu dipikul manusia. Sesungguhnya dia itu sangat
zholim lagi sangat bodoh. Ini Alloh lakukan dalam rangka menyiksa para
munafiq yang laki-laki maupun yang perempuan, dan juga orang musrik yang
laki-laki maupun yang perempuan, dan agar Alloh menerima tobat
orang-orang yang beriman yang laki-laki maupun yang perempuan. Dan Alloh
itu Ghofur (Maha Pengampun) dan Rohim (Maha Menyayangi para hamba).” (QS. Al Ahzab: 72-73).
Al Imam Ibnu Katsir –rohimahulloh- setelah menyebutkan beberapa pendapat tentang makna “amanah” di sini, beliau berkata:
هي
متفقة وراجعة إلى أنها التكليف، وقبول الأوامر والنواهي بشرطها، وهو أنه
إن قام بذلك أثيب، وإن تركها عُوقِبَ، فقبلها الإنسان على ضعفه وجهله
وظلمه، إلا مَنْ وفق الله، وبالله المستعان.
”Seluruh
pendapat ini tadi bertemu dan kembali kepada makna pembebanan, dan
penerimaan perintah dan larangan disertai dengan syaratnya. Syarat
tersebut adalah: jika dia melaksanakannya sebagaimana mestinya, maka dia
akan diberi pahala. Tapi jika dia meninggalkannya, maka dia akan
dihukum. Maka manusia menerima amanah tadi dalam keadaan dia itu lemah,
bodoh, dan zholim, kecuali orang yang diberi taufiq oleh Alloh ta’ala.
Hanya kepada Alloh sajalah kita mohon pertolongan.” (“tafsirul Qur’anil
‘Azhim”/6/hal. 489).
Dan beban syariat kembali kepada makna ibadah, yang untuk itu kita diciptakan. Alloh ta’ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ [الذاريات/56]
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56).
Dunia ini merupakan medan ujian untuk membuktikan siapakah yang terbaik amalannya. Alloh ta’ala berfirman:
إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا [الكهف/7]
”Dan
sungguh kami menjadikan apa saja yang di atas bumi itu sebagai
perhiasan untuk kami menguji mereka siapakah yang terbaik amalannya.” (QS. Al Kahfi: 7).
Dan sungguh
ujian itu amat dahsyat, berhasil memisahkan orang yang jujur dan yang
tidak jujur dalam memikul amanah tadi. Alloh ta’ala berfirman:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آَمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ *
وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ الله
الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ [العنكبوت/2، 3]
“Apakah
manusia mengira bahwasanya mereka itu dibiarkan mengatakan “Kami
beriman” dalam keadaan mereka itu tidak diuji? Sungguh Kami telah
menguji orang-orang sebelum mereka sebelum mereka sehingga Alloh
mengetahui orang-orang yang jujur dan mengetahui para pendusta.” (QS. Al ‘Ankabut: 2-3).
Al Imam Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- berkata:
البلايا تظهر جواهر الرجال وما أسرع ما يفتضح المدعي
“Ujian dan
cobaan itu akan menampakkan jati diri orang-orang. Maka alangkah
cepatnya orang yang mengaku-aku itu terbongkar keasliannya.” (“Badai’ul
Fawaid”/3/hal. 751).
Dan dengan
ujian beban syariat dengan berbagai konsekuensinya tadi terpisahlah
manusia menjadi tiga kelompok: Mukminin, Munafiqin, dan Musyrikin. Kaum
Mukminin dikarenakan kesetiaan mereka kepada Alloh, maka merekapun
mendapatkan rohmat-Nya. Dan rohmat yang terbesar adalah ridho Alloh dan
Jannah-Nya. Memang jarang ada yang sempurna dalam melaksanakan amanah
tadi. Tapi Alloh telah menyiapkan ampunan-Nya buat para Mukminin yang
punya usaha untuk memenuhi tugasnya.
Adapun kaum
Musyrikin, dikarenakan pembangkangan mereka terhadap amanah dari Alloh
tadi, maka merekapun disiksa. Demikian pula para Munafiqin yang secara
lahiriyah mengaku bersama Mukminin, tapi secara batiniyah justru bersama
Musyrikin. (lihat kembali tafsir Ibnu Katsir, dan lainnya terhadap
akhir surat Al Ahzab).
Jadi kesimpulannya: kita diciptakan untuk beribadah kepada Alloh ta’ala,
baik itu berupa amalan hati, lisan ataupun anggota badan. Ucapan
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rohimahulloh- dalam bab ini telah
terkenal.
Dan amalan yang terbesar adalah: Iman kepada Alloh ‘Azza Wajalla. Abu Huroiroh -rodhiyallohu ‘anhu- berkata:
سئل
رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: أي الأعمال أفضل؟ قال: «إيمان بالله».
قال: ثم ماذا؟ قال: «الجهاد فى سبيل الله». قال: ثم ماذا؟ قال: «حج مبرور».
“Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- ditanya: “Amalan apakah yang paling utama?” Beliau menjawab,”Iman kepada Alloh.” Lalu penanya berkata,”Lalu apa?” beliau bersabda: “Jihad di jalan Alloh.” Lalu penanya berkata,”Lalu apa?” beliau bersabda: “Haji yang diterima.” (HR. Al Bukhory dan Muslim).
Lalu perlu
kita ketahui bersama bahwasanya keimanan seseorang itu itu tidak
sempurna sampai dia itu mencintai sesuatu karena Alloh, dan membenci pun
karena Alloh. Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda:
« من أحب لله وأبغض لله وأعطى لله ومنع لله فقد استكمل الإيمان ».
“Barangsiapa
mencintai karena Alloh, membenci karena Alloh, memberi karena Alloh,
dan menahan pemberian karena Alloh, maka sungguh dia telah
menyempurnakan keimanannya.” (HR. Abu Dawud (4/354), Al Imam Al Albany -rohimahullohu- berkata: shohih dengan gabungan jalannya. (“Ash Shohihah” no. 380)
Maka dari
sinilah kita tahu bahwasanya manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah AL WALA
(loyalitas) WAL BARO (dan kebencian) itu merupakan inti dari agama ini.
Seseorang yang mengaku cinta kepada Alloh ta’ala, maka dia wajib untuk
mencintai apa yang dicintai-Nya, dan mencintai para wali-Nya. Dia juga
wajib membenci apa yang dibenci-Nya, dan membenci para musuh-Nya. Dan
ini membutuhkan mental kuat untuk melaksanakannya karena seringkali akan
berbenturan dengan kesenangan pribadi. Dan di sinilah kekuatan iman
tentara Alloh dibuktikan. Alloh ta’ala berfirman:
لَا
تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِالله وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ يُوَادُّونَ
مَنْ حَادَّ الله وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آَبَاءَهُمْ أَوْ
أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي
قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ
جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ
الله عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ الله أَلَا إِنَّ حِزْبَ
الله هُمُ الْمُفْلِحُونَ [المجادلة/22]
“Tidaklah
engkau akan mendapati suatu kaum yang beriman pada Alloh dan hari Akhir
itu saling mencintai dengan orang yang menentang Alloh dan Rosul-Nya,
meskipun mereka itu ayah mereka, atau anak mereka, atau saudara mereka,
atau kerabat mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah Alloh tetapkan
keimanan ke dalam hati mereka, dan Alloh perkuat mereka dengan
pertolongan dari-Nya. Dan Alloh akan memasukkan mereka ke dalam
Jannah-jannah yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di
dalamnya, Alloh ridho kepada mereka, dan mereka pun ridho kepada-Nya.
Mereka itulah tentara Alloh. Ketahuilah bahwasanya tentara Alloh itu
yang beruntung.” (QS. Al Mujadilah: 22).
Bab Dua:
Kesiapan Memikul Konsekuensi
Jadi perkara agama ini bukan ringan? Memang. Alloh ta’ala berfirman:
إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا [المزمل/5]
“Sungguh Kami akan menurunkan kepadamu ucapan yang berat.” (QS. Al Muzzammil: 5).
Alloh subhanahu berfirman:
لَوْ
أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآَنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا
مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ الله وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا
لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
“Andaikata
Kami turunkan Al Qur’an ini kepada suatu gunung, pastilah kamu akan
melihatnya merunduk dan pecah karena takut kepada Alloh. Dan permisalan
tersebut Kami adakan buat manusia agar mereka berpikir.” (QS. Al Hasyr: 21).
Zaid bin Tsabit –rodhiyallohu ‘anhu- menceritakan kisah turunnya ayat:
لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ الله [النساء/95]
Beliau berkata:
وفخذه على فخذي ، فثقلت علي حتى خفت أن ترضّ فخذي
“Waktu itu
paha beliau ada di atas pahaku, maka terasalah beratnya paha beliau
sampai-sampai aku khawatir pahaku akan retak.” (HR. Al Bukhory).
Bukannya
penulis bermaksud membikin susah ataupun menakut-nakuti. Alloh telah
menjelaskan bahwasanya agama itu ringan, dan bahwasanya setiap hamba itu
dibebani sesuai dengan kemampuannya. Hanya saja penulis perlu
mengingatkan agar semuanya memiliki kesiapan mental untuk memikul agama
ini sebagaimana mestinya, karena sudah banyak orang yang mengaku
beriman, atau dia itu Salafy, atau Sunny, tapi di tengah jalan
bertumbangan dan lari dari shirothol mustaqim manakala dia mendapati
berbagai konsekuensi yang tak terduga.
Di antara
konsekuensi tersebut adalah manakala seseorang itu semakin memahami
Islam, dan semakin paham halal dan harom, terkadang dia mendapati
bahwasanya apa yang dilakukannya kemarin adalah salah. Maka sanggupkah
dia untuk bertobat dan memperbaiki jalan yang kemarin ditempuhnya, dalam
keadaan orang-orang menganggapnya aneh karena merubah jalan yang biasa
ditempuh?
Atau mungkin
dia di atas kebenaran, tapi orang-orang yang dicintainya
menyelisihinya, menentangnya dan bahkan memusuhinya. Maka sanggupkah dia
menegakkan cinta dan benci karena Alloh, bersatu dengan orang yang
setia kepada Alloh, dan berpisah dengan orang yang memusuhi
syari’at-Nya? Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda:
« سبعة يظلهم الله فى ظله يوم لا ظل إلا ظله: … ورجلان تحابا فى الله اجتمعا عليه وتفرقا عليه ».
“Ada
tujuh golongan yang akan dinaungi Alloh di bawah naungan-Nya pada hari
yang saat itu tiada naungan selain naungan-Nya: … dua orang yang saling
cinta karena Alloh, berkumpul karena Alloh, dan berpisah pun
karena-Nya..” (HR. Al Bukhory dan Muslim dari Abu Huroiroh -rodhoyallohu ‘anhu-).
Dan dia juga harus siap untuk dikoreksi berdasarkan dalil dan bukti, jika mengalami kekeliruan.
Dan masih banyak konsekuensi yang lain yang akan dia temui di sepanjang jalan hidupnya.
Akan tetapi
hendaknya dia berbesar hati, bahwasanya semakin dia bertekad mengikuti
jalan Alloh dan berusaha istiqomah di atasnya, maka semakin banyak
pertolongan dan curahan kasih sayang dari Robbnya. Alloh ta’ala
berfirman:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ الله لَمَعَ الْمُحْسِنِين [العنكبوت/69]
“Dan
orang-orang yang bersungguh-sungguh mencari jalan Kami, pastilah kami
akan menunjuki mereka jalan-jalan keridhoan Kami. Dan sungguh Alloh
bersama orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al ‘Ankabut: 69).
Bab Tiga:
Sedikit Kesalahan Pada Judul
Pada sampul
buku Cak Dul Ghafur tergambar Sepatu PDL yang gagah, lalu di sampingnya
ada sepatu hak tinggi perempuan berwarna merah muda, dan juga gambar dua
kuntum mawar merah jambu. Judulnya: “Hampir-hampir Saja … Mereka
Jantan.” Lalu dibawahnya ditulis dengan bahasa Arab:(كاد أن يكونوا رجالا)
Sepertinya pada kesempatan ini ana ingin mengajak Cak Dul untuk sedikit
muroja’ah masalah nahwu, biar nggak jenuh ngurusi hizbiyyin melulu.
(كاد) merupakan fi’il yang menunjukkan makna “hampir-hampir”, amalannya
adalah me-rofa’-kan isimnya, dan me-nashob-kan khobarnya, karena memang
dia itu dalam hal ini seperti ( كان). Al Imam Ibnu Malik -rohimahullohu-
berkata:
ككان كاد وعسى
Al Makudiy -rohimahullohu- berkata:
يعني : أن (كاد) و(عسى) مثل (كان) في كونها ترفع الاسم وتنصب الخبر إلا أن خبر كاد وعسى لا يكون في الغالب إلا فعلا مضارعا
Yaitu:
bahwasanya ( كاد) dan ( عسى) itu seperti ( كان) dalam keadaannya
me-rofa’-kan isimnya, dan me-nashob-kan khobarnya. Hanya saja khobar (
كاد) dan ( عسى) seringnya hanyalah berupa fi’il mudhori’. (“Syarhul
Makudiy ‘alal Alfiyah”/hal. 69).
Jika memang
demikian, maka hukum isim (كاد) dan khobarnya -yang berbentuk fi’il
mudhori’- itu sama dengan hukum asli mubtada’ dan khobar, yaitu dari
sisi harus ada robith (pengikat) pada khobar yang menggandengkannya
dengan mubtada’nya. Muhammad Al Ahdal -rohimahullohu- berkata tentang
khobar yang berbentuk jumlah:
ولا بد من اقترانها برابط يربطها بالمبتدأ، وإلا كانت أجنبية عنه فلا يصح الإخبار بها عنه .
“Dan jumlah
tadi harus diiringi dengan suatu robith yang mengikatnya dengan dengan
mubtada’. Jika tidak demikian maka jadilah jumlah tadi adalah sesuatu
yang asing dari mubtada’nya sehingga tidak sah untuk menjadi khobar
baginya.” Lalu beliau menyebutkan perincian yang lain. (rujuk “Al
Kawakibud Durriyyah”/hal. 186).
Lalu beliau -rohimahullohu- berkata:
ثم الأصل في الرابط كونه ضميرا مذكورا كان أو محذوفا
“Kemudian
pada asalnya: robith (pengikat) tadi itu berbentuk dhomir, baik dia itu
tersebutkan ataupun terhapuskan.” (“Al Kawakibud Durriyyah”/hal. 186).
Demikian
pula isim (كاد) dan khobarnya, harus ada pengikat antara khobar dan
isimnya. Dan seringkali pengikat tersebut adalah dhomir pada khobar yang
kembali pada isimnya. Contohnya adalah pada firman Alloh ta’ala:
إِنْ كَادَ لَيُضِلُّنَا عَنْ آَلِهَتِنَا [الفرقان : 42]
Khobarnya
adalah jumlah fi’liyyah ( ليضلنا). Pengikatnya dengan isimnya adalah
dhomir mustatir pada fi’il tersebut yang taqdirnya adalah ( هو), dia
kembali pada isim ( كاد) yaitu ( هو) juga.
Demikian pula firman Alloh ta’ala:
يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُم [البقرة : 20]
Khobarnya
adalah jumlah fi’liyyah (يخطف). Pengikatnya dengan isimnya adalah dhomir
mustatir pada fi’il tersebut yang taqdirnya adalah ( هو), dia kembali
pada isim ( كاد) yaitu ( البرق) dan ini cocok karena dia itu mufrod.
Demikian pula firman Alloh ta’ala:
وَمَا كَادُوا يَفْعَلُون [البقرة : 71]
Khobarnya
adalah jumlah fi’liyyah (يفعلون). Pengikatnya dengan isimnya adalah
wawul jama’ah pada fi’il tersebut, dia kembali pada isim ( كاد) yaitu
wawul jama’ah juga.
Demikian pula pada firman Alloh ta’ala:
وَإِنْ كَادُوا لَيَفْتِنُونَك [الإسراء : 73]
Khobarnya
adalah jumlah fi’liyyah (يفتنونك). Pengikatnya dengan isimnya adalah
wawul jama’ah pada fi’il tersebut, dia kembali pada isim ( كاد) yaitu
wawul jama’ah juga.
Demikian pula pada firman Alloh ta’ala:
كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا [الجن : 19]
Khobarnya
adalah jumlah fi’liyyah (يكونون). Pengikatnya dengan isimnya adalah
wawul jama’ah pada fi’il tersebut, dia kembali pada isim (كاد) yaitu
wawul jama’ah juga.
Dengan penjelasan ini semua, berarti Cak Dul perlu mengoreksi judul tersebut menjadi: (كادوا أن يكونوا رجالا)
Cak Dul,
bukannya ana hendak cari-cari kesalahan kecil. Andaikata kesalahan tadi
ada di sela-sela pembahasan yang ada di perut buku, mungkin ana tak akan
mempermasalahkan. Tapi berhubung kesalahan tadi cukup nyata, ada pada
halaman cover, maka sebaiknya segera diumumkan koreksiannya biar tidak malu-maluin.
Jika
Cak Dul melaksanakan nasihat ana ini, maka Cak Dul cukup jantan, tapi
jika tidak, maka tolong dipakai sendiri sepatu merah jambunya beserta
dua kuntum mawarnya.
O ya satu
lagi, tapi bukan dalam rangka menyalahkan. Antum menulis judul tadi:
(كاد أن يكونوا رجالا). Antum menjadikan (أن) untuk me-nashobkan khobar
(كاد). Ana tidak menyalahkan, hanya penggunaannya itu amatlah jarang di
kalangan Arab. Coba lihat contoh-contoh di Al Qur’an yang mana dia
merupakan bahasa Arab yang paling fasih. Untuk menyingkat waktu, ana
persilakan Antum merujuk Alfiyah Ibnu Malik dan seluruh syarohnya.
Misalnya: (“Syarhul Makudy ‘alal Alfiyah”/hal. 69).
Ini sekedar faidah, bukan menyalahkan. Dan semoga sebelum risalah ini sampai kepada Cak Dul, sudah ada perbaikan.
Bab Empat:
Kasus Ucapan: “Dijamin Kebenarannya”
Di antara
kritikan pedas yang dilontarkan oleh Cak Dul Ghofur Al Malangiy kepada
Asy Syaikh An Nashihul Amin Yahya bin Ali Al Hajury –hafizhohulloh-
adalah bahwasanya beliau menyatakan bahwasanya tulisan-tulisan dari Dammaj yang menjelaskan hizbiyyah Abdurrohman Al ‘Adany telah dijamin kebenarannya.
Berdasarkan ucapan yang disangkanya diucapkan oleh Asy Syaikh Yahya
inilah maka Cak Dul menyerang dan mencaci-maki beliau habis-habisan,
menggambarkan bahwasanya beliau menyelisihi firman Alloh ta’ala:
الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ [البقرة/147]
“Kebenaran itu dari Robbmu, maka janganlah sekali-kali engkau termasuk orang-orang yang meragukannya.” (QS. Al Baqoroh: 47)
Dan juga firman Alloh ta’ala:
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى * إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى [النجم/3، 4]
“Dan tidaklah apa yang diucapkan itu berasal dari hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain melainkan wahyu yang diwahyukan.” (QS. An Najm: 3-4).
Dan membawakan hadits:
كل ابن آدم خطاء وخير الخطائين التوابون
“Setiap anak Adam itu banyak salah. Dan sebaik-baik orang yang salah adalah orang-orang yang banyak bertobat.” (HR. At Tirmidzy (2499) dari Anas bin Malik –rodhiyallohu ‘anhu-).
Jawaban ana adalah sebagai berikut:
Jawaban Pertama:
ucapan “dijamin kebenarannya” bukanlah dari Syaikhuna Yahya –hafizhohulloh-. Ucapan yang asli adalah:
الملازم التي تخرج من عندنا ملازم موثقة
yang
pendekatan artinya adalah: “Malzamah-malzamah yang keluar dari sisi
kami, malzamah-malzamah yang telah ditsiqohkan (bisa dipercaya).”
Tapi teman kami (Akhuna Muhammad Irham (Demak) –hafizhohulloh- ) salah dalam mengartikan sehingga menuliskan: “malzamah-malzamah yang telah dikoreksi dan dijamin kebenarannya“. Terdapat perbedaan yang besar antara kedua makna tadi, dan ana berharap Cak Dul tidak memaksakan diri untuk menyamakannya.
Kami bisa
memaklumi jika Cak Dul menyatakan bahwa penerjemahan yang pertama tadi
punya konsekuensi yang berat, seakan-akan Syaikhuna Yahya
–hafizhohulloh- menyombongkan diri dan menjadikan malzamah-malzamah dari
Markiz Salafiyyah Dammaj melampaui karya tulis manusia, atau bahkan
sejajar dengan Kitabulloh dan kalam Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-.
Namun beban kesalahan ini adalah di pundak sang penerjemah,
bukan di pundak beliau. Maka wajib bagi sang penerjemah untuk
meralatnya. Dan (الحمد لله) Akhuna Irham –hafizhohulloh- adalah orang yang senang menerima nasihat. Dan beliau menyatakan sudah siap untuk meralatnya. Kami juga turut memikul kesalahan karena belum sempat memeriksanya.
Jawaban kedua:
sebagaimana
Cak Dul Ghofur menembak kami dengan hadits: (كل ابن آدم خطاء), maka
dengan hadits ini pula kami berdalil. Akhuna Irham (dan kami semua masih
dari keturunan Adam, makanya wajar saja jika terjatuh di dalam
kesalahan –walau telah berhati-hati-([1]).
Dan kasus ini -demi Alloh- bukanlah karena kesengajaan. Dan tidaklah
masuk akal bahwasanya beliau (dan kami semua) sengaja untuk merubah
lafazh dan makna ucapan Syaikhuna Yahya –hafizhohulloh- untuk
disejajarkan dengan Kitabulloh ataupun Sunnah Nabi -shollallohu ‘alaihi
wasallam-. Dan perkara ketidaksengajaan, Rosululloh -shollallohu ‘alaihi
wasallam- telah bersabda:
ما أخشى عليكم الفقر ولكن أخشى عليكم التكاثر وما أخشى عليكم الخطأ ولكن أخشى عليكم العمد
“Tidaklah aku mengkhawatirkan
terhadap kalian kemiskinan, akan tetapi aku mengkhawatirkan kalian
berlomba-lomba dalam memperbanyak keduniaan. Dan tidaklah aku
mengkhawatirkan terhadap kalian kesalahan yang tak disengaja, akan
tetapi aku mengkhawatirkan terhadap kalian kesalahan yang disengaja.”
(HR. Ahmad (8060) dari Abu Huroiroh -rodhiyallohu ‘anhu-, dihasankan
oleh Al Imam Al wadi’iy -rohimahulloh- dalam “Ash Shohihul Musnad”
(1349)).
Meskipun demikian tetap saja kesalahan
yang terjadi itu mengundang keprihatinan dan kesedihan kami. Makanya
kami ucapkan sebagaimana kandungan firman Alloh ta’ala:
وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ
إِلَّا أَنْ قَالُوا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي
أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا [آل عمران/147]
“Dan tiada ucapan mereka
selain berkata,”Wahai Robb kami, ampunilah kami dosa-dosa kami dan sikap
kami yang melampaui batas dalam urusan kami, kokohkanlah telapak kaki
kami.” (QS Ali ‘Imron: 147).
Maka dengan risalah ini kami
umumkan kekeliruan tersebut dan sekaligus ralatnya. Demikian pula Akhuna
Irham –hafizhohulloh- akan menulis ralat tersebut ( إن شاء الله).
Dan semoga kami masuk ke dalam kandungan
hadits yang jauh lebih shohih daripada hadits yang dipakai Cak Dul
Ghofur. Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- meriwayatkan dari
Robbnya ‘Azza wajalla yang berfirman:
يَا عِبَادِى إِنَّكُمْ
تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ
جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِى أَغْفِرْ لَكُمْ
“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya
kalian melakukan kesalahan di waktu malam dan siang. Dan Aku mengampuni
dosa-dosa semuanya. Maka mohonlah kalian ampunan kepada-Ku, niscaya Aku
akan mengampuni kalian.” (HR. Muslim (6737) dari Abu Dzarr rodhiyallohu ‘anhu).
Maka kami
mohon ampun kepada Alloh atas seluruh kesalahan kami, semoga Alloh
mengampuni kami, sebagaimana akhir dari hadits di atas.
Dan kami bersyukur kepada pihak-pihak yang menunjukkan kepada kami
kesalahan-kesalahan kami, meskipun dengan cara keras. ‘Umar ibnul
Khoththob -rodhiyallohu ‘anhu- berkata dalam suratnya yang terkenal:
ومراجعة الحق خير من التمادى فى الباطل
“Dan rujuk
kepada kebenaran itu lebih baik daripada berlama-lama di dalam
kebatilan.” (HR. Al Baihaqy (20324), Ibnu ‘Asakir (32/hal. 70) dan yang
lainnya. Al Imam Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- berkata: “Ini adalah kitab
(surat) yang agung, yang telah diterima oleh umat.” (“I’lamul
Muwaqqi’in” (1/hal. 110). Syaikhuna Yahya –hafizhohulloh- berkata: “Para
ulama telah bersepakat untuk menerima surat ‘Umar ini.”)
Semoga Alloh
menjadikan Akhuna Irham -hafizhohulloh- (dan kami semua) menjadi
orang-orang yang bertaqwa, masuk dalam kandungan firman Alloh ta’ala :
إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ [الأعراف/201، 202]
“Sesungguhnya orang-orang
yang bertaqwa itu jika tertimpa gangguan dan godaan dosa dari setan
mereka segera ingat dan sadar lalu bertobat. Maka tiba-tiba saja mereka
jadi sehat dan lurus kembali([2]).” (QS. Al A’rof: 201-202).
Dan tidak diamnya Alloh ta’ala terhadap kesalahan yang kami lakukan
semoga menjadi suatu pertanda besarnya perhatian dan pemeliharaan Alloh
buat kami.
Jawaban ketiga:
kami tahu Cak, bahwasanya Antum adalah pengikut hizby Luqmaniyyah-Mar’iyyah. Dan
salah satu karakter hizby ini (dan keumuman hizbiyyun) adalah: keras
kepala dan tidak tunduk kepada kebenaran walaupun disertai dengan hujjah
yang terang. Maka sampai kapankah Antum –Cak Dul- ikut-ikutan
bersombong di muka bumi dan tidak mau mengikuti hujjah yang amat terang
yang dilengkapi dengan dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah dengan
manhaj Salaf, hanya karena taqlid (teriak: “Syaikh Fulan dan Imam Fulan
belum bicara!”)? Kapankah Antum mau mengikuti hadits yang Antum sukai:
كل ابن آدم خطاء وخير الخطائين التوابون
Cak, seperti inikan jauh dari ketaqwaan?
Untuk apa berlama-lama dalam kebatilan?
Perhatikanlah, Cak. Hadits Antum dan dalil kami sekarang menghantam Antum semua.
Jawaban keempat:
di antara karakter hizby Luqmaniyyah adalah: marah terhadap orang yang mengkritik dengan keras, meskipun isi kritikannya benar.
Mereka teriak: “Harus pakai uslub!”, “Uslub kalian keras, pantasan
semuanya lari.” (الحمد لله) pihak kami –Salafiyyun di Dammaj dan
semisalnya- telah membuktikan kepada Alloh bahwasanya kami telah
menerima kritikan yang benar sekalipun pedas dan jahat caranya, dan kami
tidak mau menjadi orang sombong. Cak Dul juga jadi saksi, ya.
Dan (الحمد
لله) pihak kami juga telah membuktikan bahwasanya para hizbiyyun tadi
sangat keras kepala dan sombong terhadap kebenaran sekalipun dimulai
penyampaiannya dengan cara yang halus, sampai cara yang keras. Sama
saja.
Para pembaca
yang jujur dan adil (إن شاء الله ) bisa menilai siapakah dari dua pihak
ini yang lebih terbimbing jalannya: Salafiyyun di Dammaj dan yang
bersama mereka, ataukah para hizbiyyun tadi. Bukan begitu, Cak?
Jawaban kelima:
salah satu senjata terbesar hizbiyyun (termasuk hizby Luqmaniyyah-mar’iyyah) adalah syi’ar “harus tatsabbut dan tabayyun!” terhadap berita orang yang tsiqoh. Dalil yang mereka pakai adalah firman Alloh ta’ala:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
“Wahai orang-orang yang beriman jika datang kepada kalian seorang fasiq dengan suatu berita, maka carilah kejelasan.” (QS Al Hujurot: 11).
Padahal mereka melanggar ayat ini dari dua sisi.
Sisi pertama: mafhum dari ayat ini.
Mafhum ayat
ini menunjukkan bolehnya menjadikan berita orang tsiqoh sebagai dasar
untuk bertindak dan sebagainya. Tentang ayat ini Syaikhul Islam
rohimahulloh berkata:
لأنه علل الأمر بأنه إذا جاءنا فاسق بنبأ خشية أن نصيب قوما بجهالة فلو كان كل من أصيب بنبأ كذلك لم يحصل الفرق بين العدل والفاسق بل هذه الأدلة واضحة على أن الإصابة بنبأ العدل الواحد لا ينهى عنها مطلقا ..
“..Karena
Alloh menyebutkan motif perintah tabayyun tadi dengan: jika datang pada
kita orang yang fasiq yang membawa berita. Bahkan dalil-dalil ini jelas
menunjukkan tidak terlarangnya menimpakan hukuman dengan berdasarkan
berita dari satu orang yang adil secara mutlak… (“Majmu’ul
Fatawa”/15/307).
Imam Al Wadi’i rohimahulloh berkata:
مفهوم الآية: أنه إذا جاءنا العدل نأخذ به. والعدل يشمل الذكر والأنثى، إذ الأصل عموم التشريع
“Mafhum dari
ayat ini adalah jika datang kepada kita orang yang adil, kita ambil
beritanya. Dan keadilan itu mencakup laki-laki dan perempuan, karena
pada asalnya adalah keumuman pensyariatan.” (“Al Makhroj Minal Fitnah”)
Syaikh Robi’ -hafizhahulloh- berkata: “Agama kita berdiri di atas berita orang-orang adil, di antara kaidah-kaidahnya adalah berita dari orang-orang adil. Maka jika seorang yang adil menukilkan kepadamu suatu perkataan, maka pada asalnya berita itu adalah shohih, dan wajib untuk engkau membangun hukum di atasnya.
Dan Alloh telah memperingatkan dari berita orang fasik. Maka jika ada
orang yang dikenal kefasikannya dan mendatangimu dengan suatu berita,
jangan kau dustakan dia. Telitilah dulu karena ada kemungkinan
bahwasanya si fasik ini jujur dalam berita tersebut. Tatsabbut nggak
apa-apa. Adapun sekarang: adil disusul dengan adil, adil disusul dengan
adil, menulis dan bersaksi ucapannya justru tidak diterima. Dia
menukilkan ucapan orang yang sesat dengan hurufnya ternyata
persaksiannya tidak diterima. Mereka justru berkata: haqid (dendam).
Ini adalah termasuk uslub-uslub (metode) ahlul bida’ wal fitan pada
zaman ini –kita mohon pada Alloh keselamatan-yang tidak dikenal oleh
khowarij ataupun rofidhoh ataupun ahlul bida’ pada masa-masa silam.
Orang-orang itu mendatangi umat dengan metode, kaidah, manhaj, fitnah
dan musykilah yang jika kau kumpulkan itu semua –demi Alloh- tak ada
yang tersisa dari agama ini sedikitpun. jika kau kumpulkan metode dan
kaidah-kaidah mereka itu, mereka tidak menyisakan Islam ini sedikitpun.
Di antaranya adalah berita orang-orang yang adil. Mereka ingin menggugurkannya … dst” (“Al Mauqifush Shahih”/ Syaikh Robi’ Al Madkkholi/hal. 22).
Sisi yang kedua: manthuqul ayat.
Ayat ini
dari sisi pengucapannya saja telah menunjukkan bahwasanya berita orang
fasiq itu harus ditatsabbut dulu sebelum diterima dan dibangun suatu
hukum berdasarkan berita tadi. Dan para hizbiyyun tadi telah menyelisihi
ayat ini dari sisi ini. Kenapa? Karena mereka itu sendiri selama ini
telah menyatakan bahwasanya Hajuriyyah-Turobiyyah (dan kami berlepas
diri kepada Alloh dari istilah jahiliyyah ini) adalah pembawa fitnah,
pembohong, tak bisa dipercaya, tukang pecah-belah (walau bukan pedagang
keramik), dsb.
Kami jawab:
jika memang demikian dalam pandangan kalian, berarti kami ini memang
telah kalian hukumi sebagai kaum yang fasiq. Al Imam Ibnul ‘Utsaimin
-rohimahulloh- berkata:
المعروف عند أهل العلم أن الكبيرة الواحدة تجعل الفاعل فاسقا ما لم يتب منها
“Yang telah
diketahui bersama di kalangan para ulama adalah bahwasanya satu dosa
besar saja bisa menjadikan pelakunya itu fasiq, selama dia belum
bertobat darinya.” (“Liqoatul Babil Maftuh”/hal. 447).([3])
Kalau memang
berita dari kami adalah berita para fussaq, berarti ayat tadi
mewajibkan Antum untuk tabayyun dulu. Jangan begitu membaca terjemahan
salah seorang dari kami langsung ditelan mentah-mentah dan membangun
konsekuensi darinya:
“Al-Hajuri hanya memberikan satu-satunya pilihan kepada semua orang (termasuk di dalamnya adalah para Masyayikh Dakwah) bahwa DIRINYALAH YANG BENAR!! Dan bahkan (sekali lagi) dia jamin kebenarannya!!” (hal. 12).
“AL-HAJURI, OOOOH… MEMANG DIA ITU SIAPA?” (hal. 12).
“Kebenaran itu adalah milik Allah, tetapi
bagi Al-Hajuri dakwah adalah miliknya!! Jaminan Kebenaran itu adalah
milik Al-Hajuri, oleh sebab itu adakah para pembelanya termasuk
orang-orang yang ragu? Duhai…siapakah sesungguhnya Al-Hajuri dan “wahyu” dari manakah yang dia dakwahkan? Dengan Jaminan Kebenaran malzamah-malzamah fitnah yang telah diikrarkannya, Pastilah Tanpa Ragu dirinya
telah meletakkan diri jauh dan jauuuuh di atas seluruh para ulama
Mujtahidin yang masih memiliki kemungkinan Ijtihadnya keliru (walaupun
dengannya telah mendapatkan satu pahala). Adapun “sesuatu” yang telah
berani menjamin kebenaran malzamah-malzamah fitnahnya?
Bukankah dia tidak layak lagi disebut sebagai Mujtahid? Allah, Allah
Ooooh…. siapakah kiranya dirinya, manusia atau apa?” (hal. 13).
Wahai para pembaca –hafizhokumulloh- tolong para hizbiyyun disabarkan
sedikit. Suruh mereka menerapkan kaidah mereka sendiri: “Tatsabbut” agar
tidak asal tuduh. Syaikhuna Yahya –hafizhohulloh- cuma bilang
“Malzamah-malzamah yang keluar dari sisi kami, malzamah-malzamah yang
telah ditsiqohkan (bisa dipercaya).”
Jelas semua
ulama yang mengeluarkan jarh terhadap seseorang dengan berdasarkan
bukti-bukti yang kuat dan saksi-saksi yang terpercaya di sisinya, beliau
boleh untuk mengatakan seperti itu. Tapi tidak sampai berkata: “Ini
dijamin kebenarannya.”
Maafkan ana
ya Cak, ternyata Antum membangun hukum dan caci-makian terhadap Syaikh
Yahya –hafizhohulloh- tadi tanpa penelitian yang cukup, dan bahkan
menyelisihi keadilan dalam menjalankan kaidah hizbiyyah kalian. Ini
menyelisihi ayat Al Qur’an yang kalian pakai untuk berhujjah selama ini
jika datang hantaman dari Salafiyyun Dammaj yang tidak menguntungkan
kalian.
Kami bersyukur kepada Alloh ta’ala, ternyata dalil tatsabbut yang mereka pakai berbalik menghantam mereka sendiri. Ada faidah cantik, Cak. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rohimahulloh- berkata:
وهكذا أهل البدع لا يكادون يحتجون بحجة سمعية ولا عقلية الا وهى عند التأمل حجة عليهم لا لهم
“Dan
demikianlah ahlul bida’, hampir-hampir tak pernah mereka itu memakai
suatu argumentasi dari ayat/hadits ataupun dari akal, kecuali dalil tadi
saat direnungkan merupakan argumentasi yang menghantam mereka sendiri,
bukan untuk mendukung mereka.” (“Majmu’ul Fatawa”/6/hal. 254).
Jawaban keenam:
sekedar penguat dari yang sebelumnya. Harap Antum tahu, Cak, bahwasanya salah satu ciri hizbiyyah adalah: menerapkan kaidah dan meninggalkannya sesuai dengan hawa nafsu, bukan berdasarkan keadilan.
Contohnya ya kasus di atas. Manakala ada berita yang bisa dipakai untuk
menyerang lawan debat, langsung diambil tanpa menerapkan kaidah
“Tabayyun” yang mereka gembar-gemborkan. Padahal sebelumnya jika ada
persaksian-persaksian yang merugikan mereka, langsung mereka
teriak-teriak: “Tatsabbut dulu!” Tampak sekali mereka itu memang
mengekor hawa nafsu. Alloh ta’ala berfirman:
فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ الله [ص/26]
“Maka
tegakkanlah hukum di antara manusia dengan kebenaran, dan janganlah
engkau mengikuti hawa nafsu sehingga menyesatkan dirimu dari jalan
Alloh.” (QS. Shod: 26).
Intinya apa
sih, Cak? Intinya adalah bahwasanya hizbiyyun itu tidak adil dan
konsekuen dalam menerapkan kaidah mereka: “Tabayyun-tatsabbut.”
Oya, Cak.
Apa benar bahwasanya Antum dulu getol memerangi Quthbiyyah-Sururiyyah?
Wah, itu bagus sekali, Cak. Sayang kita dulu di Indonesia belum sempat
kenalan. Masih ingat nggak Cak, akan ucapan Syaikh Abu Ibrohim bin
Sulthon Al ‘Adnani -hafizhahulloh- berkata tentang metode Al Quthbiyyah
yang ketiga: “Tidaklah seorang pembantah membantah mereka dengan apa
saja yang mereka kerjakan kecuali mereka akan berkata kepadanya dengan
sangat ramah dan tenang: “Tatsabbut.” Syiar ini juga menjadi senjata
penggempur kepada seseorang, atau kelompok, atau kitab, atau kaset, atau
suatu anggaran dasar yang hendak mereka hantam. Maka tidaklah yang
mereka kerjakan kecuali dengan mencercanya –walaupun dengan tanpa
bayyinah-, maka akhirnya jatuhlah dia walaupun benar, karena mereka
telah menanamkan di dalam jiwa mereka bahwasanya mereka itu ahli
tatsabbut.” (“Al Quthbiyyah”/ hal. 116).
Cak Dul,
tinggalkan saja Luqmaniyyun-Mar’iyyun, karena mereka itu hizbiyyun, dan
banyak kemiripan dengan Quthbiyyun-Sururiyyun yang kabarnya dulu Antum
gemar memerangi mereka. Ingat nggak, Cak, ketika sebagian kecil ulama
–hafizhohumulloh- menghantam Sururiyyin dengan hujjah-hujjah yang jelas,
tapi justru ekor-ekor mereka di Indonesia teriak: “Kita menunggu
ulama!” Maka dengan mantapnya si Askari membantah prinsip “Menunggu
ulama tersebut.” Tapi sekarang si Askari sendiri jatuh pada lubang yang
sama.
Jawaban ketujuh:
di antara
bukti upaya pihak kami untuk berhati-hati dan jujur dalam menyampaikan
berita (meskipun tetap saja mengalami ketergelinciran), bahwasanya kami
di samping mengirimkan fatwa Syaikh yahya –hafizhohulloh- di atas dengan
bahasa Indonesia, kami juga (bahkan lebih dulu) mengirimkan naskah
bahasa Arabnya, agar bisa diperiksa lafazh aslinya. Dan buat maestro chatting
kayak Antum, mudah saja bagi Antum untuk membandingkan kedua naskah
tadi. Tapi memang hizbiyyah itu membikin malas orang untuk mencari
kebenaran. Apa yang sesuai dengan hawa nafsunya itulah yang langsung
disambar tanpa pakai prinsip “Tabayyun” yang mereka kibarkan.
Jawaban kedelapan:
Dalam naskah nasihat Syaikh Yahya –hafizhohulloh- buat mutawaqqifun
tersebut beliau menyampaikan banyak sekali kebatilan-kebatilan
Mar’iyyun yang cukup menjadi dalil bahwasanya mereka itu adalah
hizbiyyun. Padahal jika Antum rajin membaca kitab-kitab Syaikh Robi’
–hafizhohulloh-, Antum akan dapati ( إن شاء الله) bahwasanya seringkali
beliau dalam menghukumi seseorang itu sebagai hizby tidak sampai
sepanjang itu pemaparan ciri-ciri hizbiyyah orang tadi. Tapi kok bisa ya
sekian banyak pemaparan hujjah Syaikh Yahya tadi tak bermanfaat bagi
Antum. Justru satu lafazh (salah terjemah) “Dijamin kebenarannya”
itulah yang justru menarik hati Antum untuk dikonsumsi.
Afwan, Cak. Hal itu cukup mengganjal di hati, karena Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh berkata:
ومن
الناس من طبعه طبع خنزير يمر بالطيبات فلا يلوى عليها فإذا قام الإنسان عن
رجيعه قمه وهكذا كثير من الناس يسمع منك ويرى من المحاسن أضعاف أضعاف
المساوىء فلا يحفظها ولا ينقلها ولا تناسبه فإذا رأى سقطة أو كلمة عوراء
وجد بغيته وما يناسبها فجعلها فاكهته ونقله
“Dan di antara manusia ada yang tabiatnya tabiat babi.
Dia melewati rizqi yang baik-baik tapi tak mau mendekatinya. Justru
jika ada orang bangkit dari kotorannya (selesai buang hajat),
didatanginya kotoran tadi dan dimakannya hingga habis. Demikianlah
kebanyakan orang. Mereka mendengar dan melihat darimu sebagian dari
kebaikanmu yang berlipat-lipat daripada kejelekanmu, tapi dia tidak
menghapalnya, tidak menukilnya dan tidak mencocokinya. Tapi jika dia
melihat ketergelinciran atau ucapan yang cacat, dapatlah dia apa yang
dicarinya dan mencocokinya, lalu dijadikannya sebagai buah santapan dan
penukilan.” (“Madarijus Salikin” 1/hal. 403).
Sekali lagi ‘afwan, Cak. Bukannya ana menyamakan Antum dengan makhluk tadi, hanya saja: jangan sampai Antum menirunya.
Bab Lima:
Kasus Firman Hidayat
Di dalam surat Cak Dul Ghofur, beliau
banyak sekali menyerang Salafiyyun Dammaj dan yang bersama mereka
berdasarkan kasus orang yang bernama Firman Hidayat. Disebutkan
bahwasanya dia itu berumur 31 tahun dan mendukung Hajuriyyin. Lalu
ditampilkan sekian banyak data yang menggambarkan bahwasanya Firman
hidayat ini punya sepak terjang yang tidak sedap, seperti:
1- membanggakan statusnya sebagai mantan Laskar Jihad,
2- mengancam orang untuk membunuhnya,
3- gampang mengumbar laknat dan caci-makian yang sangat banyak dan tidak tidak terkontrol,
4- loncat sana-sini dan menyusup kesana kemari,
5- memperbanyak debat dengan hizbiyyin tanpa mengikuti adab syari’at,
6- menuduh adanya ikhtilath dalam dauroh kalian tanpa bukti,
7- menuduh sebagian Luqmaniyyin rebutan kotak infaq,
8- punya beberapa identitas samaran,
9- Jawaban ngawur terhadap pernyataan baro’ dari Akhunal Fadhil Abu Hazim –hafizhohulloh-.
Cak Dul, jawaban ana adalah sebagai berikut, wabillahit taufiq:
Jawaban pertama:
ana pribadi
belum pernah berhubungan langsung dengan orang yang bernama Firman
Hidayat. Juga tak pernah melihat situs dia (belum tentu juga ana ke
internet walau sebulan sekali). Juga tak menyangka jika dia membantu
menyebarkan tulisan-tulisan Salafiyyin Dammaj dan yang bersama mereka.
Maka yang dia perbuat itu tadi secara umum di luar sepengetahuan kami.
Dan kami juga tidak ridho adanya kebatilan, siapapun yang melakukannya,
entah dari pihak hizbiyyin ataupun dari Salafiyyin. Yang salah ya harus
disalahkan dan dinasihati, sebagaimana yang benar harus dikatakan benar
dan didukung. Semuanya wajib berhukum kepada Kitabulloh dan Sunnah
Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam-. Maka pada asalnya bukan kami
yang turut memikul dosanya. Alloh ta’ala berfirman:
وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى [الأنعام/164]
“Dan tidaklah orang yang berdosa itu akan memikul dosa orang lain.” (QS. Al An’am: 164).
Jawaban kedua:
Jika benar
apa yang Antum paparkan di atas, maka kami menyatakan tidak ridho dengan
kebatilan macam itu ataupun yang lainnya. Dan kami berlepas diri dari
yang demikian itu. Dan kami menyatakan pengingkaran dan peperangan
terhadap kebatilan macam itu.
Jawaban ketiga:
beberapa
waktu yang lalu ada banyak SMS yang masuk ke sebagian HP teman kami di
sini sambil memperkenalkan diri dengan nama Firman Hidayat, dan
menyatakan dukungan terhadap dakwah dan perjuangan kami. Barangkali
akhuna inilah yang Cak Dul maksudkan. Makanya begitu ada tulisan dari
Cak Dul yang sampai kepada kami tersebut ana minta kepada Akhuna Shiddiq
Al Bughisiy –hafizhohulloh- untuk mengkonfirmasikan hal itu pada si
Firman Hidayat, karena dia mengirimkan beberapa SMS ke Akhuna Shiddiq
–hafizhohulloh-.
Maka pada hari itu juga beliau mengirimkan SMS ke Akhuna Firman Hidayat yang isinya kurang lebih: “AFWAN
DI MALZAMAH ABDUL GHOFUR AL MALANJI (hampir hampir mereka jantan)
menyebutkan kesalahan-kesalahan antum (firman hidayat), kalo tidak benar
antum bantah, kalo benar ahsannya antum sebar taruju/taubat
jazakamallah khairan. Dari ABU TUROB, & ABU FAIRUZ.“
Cak Dul, inilah bukti bahwasanya kami tidak diam terhadap kesalahan, meskipun yang berbuat adalah –misalnya- teman sendiri.
Jawaban keempat:
pada hari
berikutnya (tanggal 16 Rojab 1431 H) datanglah jawaban dari Akhuna
Firman Hidayat yang isinya adalah bahwasanya dia telah mengumumkan
taroju’ terhadap kesalahan tersebut, dan sekaligus bantahan terhadap apa
yang pantas untuk dibantah, silakan lihat: www.Salafyindependent.wordpress.com([4])
Makanya ana
(Abu Fairuz –waffaqoniyalloh-) bersama Akhuna Abul Jauhar Adam Al Ambony
–hafizhohulloh- pada hari itu juga berangkat ke internet (meskipun
warnet bukanlah tempat yang kami sukai). Kami buka alamat tersebut dan
kami dapatkan sebagai berikut (setelah menyebutkan muqoddimah):
“Berawal sms dari du’at qodim di darul hadits dammaj berisi : “AFWAN
DI MALZAMAH ABDUL GHOFUR AL MALANJI (hampir hampir mereka jantan)
menyebutkan kesalahan kesalahan antum (firman hidayat), kalo tidak benar
antum bantah, kalo benar ahsannya antum sebar taruju/taubat
jazakamallah khairan. dari al fadhil ABU TUROB hafidhohulloh, & al
fadhil ABU FAIRUZ hafidhohulloh “
Sebelumnya
kita mendapati artikel dengan kualitas tulisan rendah mudah di bantah,
karena mendesak perkara ini harus di selesaikan di media umum seperti
ini.
Dengan ini ana mengakui kesalahan2 ana di masa lalu di bawah ini :
1.
menjadi RAPPER (bukan penyanyi karena rap bukan nyanyian) adapun orang
menyangka bahwa rap itu nyanyian, ana tetap meyakini RAP bukan nyanyian
karena ana tidak bisa nyanyi. (mungkin orang yang masih tuduh ana rapper
mereka bisa nyanyi, tapi prinsip ana masa lalu mereka tidak bisa di
jadikan hujjah untuk membela diri ana)([5]).
Pada tahun
2005, ana kembali ke Jakarta menjalani hidup seperti orang awam. bergaul
dengan orang – orang fasiq jauh dari majelis-majelis ta’lim. Karena ana
meyakini waktu itu tidak ada yang layak DU’AT di Indonesia diambil
majelisnya([6]).
Sibuk dengan
dunia seperti mencari nafkah menjual PULSA, HP SECOND dll, karena ana
hobby dunia HIP HOP yang notabene dunianya orang kulit hitam urban
Amerika yang penuh glamour.
Lalu ana terjun langsung ke dunia hip hop, seperti membuka toko baju hip hop.
Lalu ana
membuat lagu RAP,waktu itu seingat ana awal tahun 2008 koloborasi artist
terkenal non muslim SAYKOJI. Berangsur angsur sedikit demi sedikit
sudah ana tinggalkan.
Lalu muncul-lah perasaan([7]) di waktu bulan ramadhan, lalu ana mendatangi MASJID FATAHILLAH (markiz hizbi jadid mari’eyyun).
Hidayah ana
belum mencapai titik ketenangan, banyak kejangalan-jangalan yang ada
pada mereka (hizbi jadid). Saat itu ana belum ada niat mencari tahu,
kondisi ana saat itu membaca situasi dan kondisi belum bisa mengambil
kesimpulan. ([8])
Tapi ada
rada ANEH setelah kedatangan ana di depok, situasi panas mencekam tidak
menerima atas kedatangan (wallahu a’alam apa mereka sudah tahu karakter
ana ??? TIDAK KENAL GENTAR MENAMPAKKAN AL HAQ SECARA FRONTAL([9])).
Pada saat
itu ada acara DAUROH DI BANTUL tahun 2009, alhamdulillah dengan rejeki
ana membawa uang cukup sekaligus mencari pendamping setelah acara dauroh
tersebut.
Lalu ana mengikuti acara tersebut, bertemulah dengan teman–teman lama. Tapi aneh sikap sikap mereka ada yang disembunyikan ? ? ?
Sampailah
ana bertemu kembali seorang DUAT yang ana percaya untuk membabat habis
LUQMAN BA’ABDUH dan ASKARY pada tahun 2004 yaitu seorang yang terkenal
pada saat ini DZULKARNAIN dari ’akasar berpelukanlah ana dengan fulan
ini.
Lalu tibanya selesai dari acara DAUROH HIZBI NASIONAL BANTUL, ana ke SOLO mengikuti informasi ikhwah – ikhwah.
Sampai di SOLO ana disuguhi FITNAH-FITNAH([10]) yang menurut ana perkara ini sudah selesai. ternyata masih lanjut sepertinya…..
Lalu ana di
antar ke masjid Jajar SOLO AL MADINAH, karena mereka belum tahu mauqif
ana maka ana mendatangi kedua kubu itu untuk mendapatkan bukti bukti ana
mendatangi AL GHUROBA juga.
Tapi memang
tandzim itu lebih CANGGIH daripada jaringan internet, sedikit tahu
mereka tentang ana. Mulai menampakkan suatu ucapan2 yang dikirim dari
alam ghaib para luqmaniyyun.
Lalu ana pergi ke NGAWI di sana datangi 2 ma’had sampai ke gunung – gunung.
Lalu ana kembali ke Jakarta tidak membawa hasil, terkecuali PERMUSUHAN ana kepada orang-orang hizbi di FATAHILLAH.
Lalu ana tutup toko baju (hip hop), kembali ke rumah ana disibukkan dalam perkara dunia.
Setelah ana
mulai mendapatkan info tentang uslub da’wah di Magetan yang dibawa oleh
Al Ustad Abu Hazim Muhsin Muhammad Al Bashory hafidhohulloh.
Lalu ana bergegas mencari tahu tentang beliau, ana melihat ada kesamaan pandangan tentang yayasan da’wah adalah muhdats.
Tibalah puncaknya DAUROH JARH WAT TA’DIL bertema ”Mengenang da’wah imam Muqbil bin Hadi al Wadi’i rahimahullah“
Lalu ana merekam kajian beliau tepatnya di masjid kampus Muhammadiyah jogja.
Sebelomnya
memang ana sudah membuat blog sebelom ana mendatangi
beliau.www.salafyindependent.wordpress.com ana sudah berniat di hadapan
LUQMANIYYUN blog ini untuk menghantam mereka LUQMAN BA’ABDUH dan ASKARY.
Sebelum ana membuat blog ini ana mendapatkan website sejalan dan semanhaj dengan ana ALOLOOM.NET([11]). Sebagian artikel ana masukan ke blog ana untuk membabat abis mereka.
Sampai di
Jakarta ana UPLOAD KAJIAN JOGJA yang di bawakan ustad Abu Hazim, lalu
ana sebar kajian beliau sampai ana tayangkan di RADIO SALAFY streaming
kepunyaan ana.
Lalu ada
kajian di masjid Kali Malang bekasi, lalu ana kenal lebih dengan beliau
setelah beliau menanyakan blog ana tentang malzamah-malzamah dari
Dammaj.
Waktu
berlalu sampailah terjadilah malapetaka yang dibawa ahlu fittan
kontemporer (ABDUL GHOFUR AL MALINGI) membuat tuduhan tuduhan yang sudah
ana tinggalkan di masa lalu (futur).
Sangat
disayangkan perkara itu tembus ke Magetan, ajaib memang kok bisa tembus?
Ana terheran-heran padahal tuduhannya bukan perkara (manhajiyyah) tapi
perkara keFASIQan([12]) itupun kurang cukup bukti dan saksi.
Perlu di
pahami pada saat itu ana sedang labil, tidak adalagi tempat dan orang
untuk di tanyakan dalam perkara ini. (lalu ana berkata lancang seperti
ini). Tapi alhamdulillah tidak ada kalimat di atas, kalimat celaan
terhadap Darul Hadits Dammaj.
Gerakan adu
domba dari dalam wallahu a’alam (bukan hanya ana saja di antara lain
memang terjadi seperti itu), atau karena memang situasi tidak mendukung
untuk ana terekspos maju ke depan. Karena pada saat itu tidak ada yang
mengenal ana, secara berangsur-ansur berulang-ulang. Karena pada saat
itu tidak ada satupun orang yang mengenal ana secara baik keseluruhan
dan sebagian.
Alhamdulillah
semua keadaan menjadi baik beransur ansur,hubungan ana dengan AL USTAD
ABU HAZIM MUHSIN MUHAMMAD AL BASHORY hafidhohulloh ta’ala mulai membaik.
ANA MINTA MAAF (ghuluw), lancang, dan su’udzon kepada AHLU HAQ yang tidak pantas ana lakukan.
Adapun ana
pernah konflik dengan al akh Achmad Djunaidi, memang saat itu sangat
dahsyat antara perbedaan karakter mauqifnya ihkwah-ihkwah pembela Dammaj
dengan ana. Ana secara prinsip ”TIDAK YAKIN PERCAYA TAUBAT SEORANG MUSLIM DARI MENCELA AL ALLAMAH AN NASHIH AL AMIN YAHYA ALI ALHAJURY hafidhohulloh “([13])
Walaupun
waktu itu ana keadaan futur (mendekati kefasiqan), hati ini masi
tersimpan nama yang mulya setelah syaikh Albani, syaikh Bin Baz dan
syaikh Muqbil yaitu ” AL ALLAMAH AN NASHIH AL AMIN YAHYA ALI ALHAJURY hafidhohulloh” dari tahun 2002 setelah mendengar rekaman kajian beliau.
Bagaimana
mungkin mereka (hizbi jadid mari’eyyun), begitu dasyat berani
membinasakan diri diri mereka mencela ULAMA RABBANIYYUN. Tanpa ada rasa
pertimbangan bahan hanya bersumber dari kalam ustadz – ustadz mereka ? ([14])
Jadi ini alasan ana MENJAUHI TOTAL X LUQMANI,SURURI atau IM (karena memang ana bukan mantan hizbi), jadi perbedaan pandangan para pembela Dammaj pada saat itu agak menjurang.
Alhamdulillah
keadaan mulai membaik, tangan mulai merangkul kembali. Tapi sikap ana
masi berhati hati ” HATI HATI HAMBA DI JEMARI JEMARI ALLAH azza wa
jalla” hari ini kawan, besok menjadi lawan. (ana melihat sebagian
asatidz di arah timur merangkul tangan (dengan kubu Dzulkarnain makasar)
ana blom mendapatkan bukti mauqifnya)
Pada hakekatnya AL HAQ itu di perjuangkan di pundak masing masing, ta’awun untuk membela kebenaran harus di rajut kembali.
2. kalimat takfir sembarangan (lalu mencantumkan gambar yang disebutkan oleh Cak Dul Ghofur).
Artikel
kalimat ini benar itu kalimat ana jahil waktu tahun sekitar akhir tahun
2007 atau 2008 afwan ana lupa kira kira seperti itu. Dan ana menyatakan ”TAUBAT DARI PERKATAAN YANG MELAMPAUI BATAS
” karena ana melihat dan menduga orang yang memusuhi ana itu non
muslim, alasan ana berkata demikin ana mencoba mengira fulan itu Muslim
dengan memakai kata MURTAD ??? jika dia Muslim maka dia tidak terima
perkataan ana MURTAD itu. Lalu fulan ini berkata ” jangan kamu musuhi
saudaramu ” maka perkataan itu ana cabut di bawah tulisan di atas.
Jadi kronologisnya tidak sama yang di sampaikan ABDUL GHOFUR AL MALINGI
3. mendatangi dauroh hizbi sururi
Ana menyatakan “ANA BERTAUBAT KARENA MENDATANGI DAUROH MEREKA ATTUROUTIYYUN “
Perlu di
ketahui kronologisnya bagaimana ana mendatangi acara tersebut. Pada saat
itu ana blom mengetahui bagaimana hukumnyaa menghadiri acara itu? yang
ana anggap ULAMA ahlu sunnah ?
Ucapan Abu Fairuz (-waffaqoniyallohu-):
Cak Dul Ghafur, inilah yang disampaikan oleh Al Akh Firman Hidayat,
tentu saja ada beberapa perkataan yang perlu dikomentari. Tapi pada
intinya dia telah menyatakan tobat. Berhubung Antum yang banyak chatting,
Antum lebih tahu daripada ana tentang Al Akh Firman Hidayat. Jika ada
yang perlu diluruskan ya sampaikan kepadanya dengan baik-baik.
Jawaban kelima:
Cak Dul
Ghofur, demikianlah yang ditulis oleh Akhuna Firman Hidayat
–waffaqohulloh- setelah kami memintanya untuk berbicara. Antum bisa
lihat sendiri bahwasanya kami ( إن شاء الله) tidak diam terhadap
kebatilan, (sebisa mungkin) meskipun dari pihak yang membantu kami
sendiri. Antum sendiri tahu bahwasanya kami tidak diam terhadap
kesalahan yang dilakukan sahabat seiring yang utama seperti Akhunal
Fadhil Abu Hazim, Akhunal Fadhil Abu Arqom, Akhunal Fadhil Fajar,
Akhunal Fadhil Ahmad, Akhunal Fadhil Haamdani dan Akhunal Fadhil Abu
Arbah –hafizhohumullohu jami’an- (dan siapa sih yang tak punya salah?). ([15])
Maka
bagaimana mungkin kami sengaja diam terhadap kesalahan Akhuna Firman
Hidayat yang barusan memperkenalkan diri kepada kami beberapa waktu yang
lalu? Ini jika kami tahu kesalahan tersebut. Dan kami mohon ampun pada
Alloh atas kekurangan kami dalam menegakkan nasihat terhadap diri
sendiri maupun terhadap yang lain.
Dan ( إن شاء
الله) para teman dan sahabat kami tersebut senang dan bangga punya
saudara yang peduli terhadap mereka dan tidak diam terhadap
kekurangan-kekurangan mereka, dan tidak menunggu sampai selesainya
peperangan melawan ahlul bida’ (kapan juga selesainya? Jangan-jangan
kami sudah mati sebelum menyampaikan nasihat gara-gara ditunda-tunda).
( الحمد لله) kami bukan hizbiyyun
yang salah satu cirinya adalah lemah dalam mengingkari kemungkaran
teman sendiri karena takut temannya akan marah dan meninggalkannya.
Antum Cak, termasuk saksi kami di hadapan Alloh ta’ala nantinya
bahwasanya teman sendiripun kami nasihati sesanggup kami, dari cara yang
halus sampai agak keras.
Jawaban keenam:
faidah
cantik Cak, yang menunjukkan bahwasanya kami tidak seperti yang Antum
tuduhkan. Syaikhul Islam -rahimahulloh- berkata perihal terjadinya
perselisihan di antara para pengajar atau para thullab dan semisalnya:
فإن
وقع بين معلم ومعلم وتلميذ وتلميذ ومعلم وتلميذ خصومة ومشاجرة لم يجز لأحد
أن يعين أحدهما حتى يعلم الحق ، فلا يعاونه بجهل ولا بهوى بل ينظر في
الأمر فإذا تبين له الحق أعان المحق منهما على المبطل سواء كان المحق من
أصحابه أو أصحاب غيره ، وسواء كان المبطل من أصحابه أو أصحاب غيره ، فيكون
المقصود عبادة الله وحده وطاعة رسوله واتباع الحق قال تعالى :}يا
أيها الذين آمنوا كونوا قوامين بالقسط شهداء لله ولو على أنفسكم أو
الوالدين والأقربين إن يكن غنيا أو فقيرا فالله أولى بهما فلا تتبعوا الهوى
أن تعدلوا وإن تلووا أو تعرضوا فإن الله كان بما تعملون خبيرا{([49]).
يقال: لوى يلوي لسانه فيخبر بالكذب ، والإعراض أن يكتم الحق فإن الساكت عن
الحق شيطان أخرس ، ومن مال مع صاحبه سواء كان الحق له أو عليه فقد حكم
بحكم الجاهلية وخرج عن حكم الله ورسوله .
“Maka
apabila terjadi persengketaan dan perselisihan antar pengajar, atau
antar murid, atau antara pengajar dan murid, tidak boleh bagi seorangpun
untuk menolong satu pihak sampai dia tahu yang benar.
Maka tak boleh baginya untuk saling menolong dengan kebodohan dan hawa
nafsu. Akan tetapi dia harus memperhatikan perkara tersebut. Apabila
jelas baginya kebenaran, dia harus menolong pihak yang benar untuk
menghadapi pihak yang berbuat batil, sama saja apakah pihak yang benar
itu dari temannya ataukah bukan. Dan sama saja apakah pihak yang batil
itu dari temannya ataukah bukan. Maka jadilah tujuannya itu
ibadah kepada Alloh semata dan ketaatan kepada Rosul-Nya, dan mengikuti
kebenaran. Alloh ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman,
jadilah kalian sebagai orang yang menegakkan keadilan, sebagai saksi
untuk Alloh walaupun terhadap diri kalian sendiri atau terhadap orang
tua dan sanak kerabat. Kalau dia itu orang kaya ataupun miskin, maka
Alloh itu lebih utama daripada mereka berdua. Maka janganlah kalian
mengikuti hawa nafsu sehingga tidak berbuat adil. Dan jika kalian
membolak-balikkan kata (untuk berbohong) atau berpaling maka
sesungguhnya Alloh maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.”
Dikatakan:
(لوى) yaitu: memberikan kabar secara bohong. Dan (الإعراض) adalah
menyembunyikan al haqq, karena sesungguhnya orang yang diam terhadap al
haqq adalah setan yang bisu. Dan barangsiapa condong bersama
temannya, sama saja apakah kebenaran bersamanya ataupun melawan dirinya,
maka sungguh dia itu telah berhukum dengan hukum jahiliyyah dan keluar
dari hukum Alloh dan Rosul-Nya.” (“Majmu’ul Fatawa”/28 /hal. 17).
Jawaban ketujuh:
dengan
penjelasan ini semua ( الحمد لله) runtuhlah tuduhan palsu dan jahat Cal
Dul terhadap kami bahwasanya kami sengaja membiarkan Firman Hidayat
berbuat batil karena dia bersama kami.
Nasihat ana
buat Antum, Cak Dul –waffaqokallohu-: segeralah Antum mengumumkan
permohonan maaf pada Salafiyyin di Dammaj dan yang bersama mereka, atas
tuduhan palsu tadi. Antum bilang sebagai berikut:
“Sesungguhnya, dari sisi akhlaq apalagi dari segi manhaj dirinya –yaitu Firman Hidayat- tidaklah berharga bagi Hajuriyah. Hanya
saja dia bisa bersama kumpulan mereka karena sejalan dalam
mencabik-cabik kehormatan para ulama, para du’at dan melancarkan fitnah
keji serta mengadu domba. Maka dia amat berharga di sisi Hajuriyah, minimal sebagai tukang pos gratis !!!” (hal. 30).([16])
Jika Antum,
Cak merasa tinggi hati dan tak mau mengumumkan pencabutan ucapan tadi
dan minta maaf, bisa jadi Antum perlu banyak berdoa keselamatan. Alloh
ta’ala berfirman:
وَقَدْ خَابَ مَنِ افْتَرَى [طه/61]
“Dan sungguh celakalah orang yang membikin-bikin.”
Antum juga bilang: “Pantaskah seorang Fattan Khabits –yaitu Firman
Hidayat- seperti bukti di atas memiliki nilai di sisi dakwah paling
murni sedunia? Tetapi demikianlah kenyataannya. Tidaklah memiliki nilai
keutamaan di sisi mereka kecuali hanyalah sebagai keledai tunggangan
pengangkut beban fitnah yang mau pergi kemanapun tuannya mengarah. Sejatinya bahwa seekor keledai tidaklah memiliki rasa malu, hanyasanya sang
penggembalalah yang pantas kita tuding: Demikiankah manhaj kalian dalam
memurnikan dakwah dengan cara membuang jauh-jauh sifat malu dengan
membiarkan fattan pendusta berkeliaran atas nama ‘dakwah paling murni’
sejawat?([17])” (hal. 31).
Jika Antum,
Cak, merasa tinggi hati dan tak mau mengumumkan pencabutan berbagai
tuduhan kotor ini dan minta maaf, bisa jadi Antum perlu banyak
memperbanyak pahala, karena mungkin lebih dari tiga puluh orang akan
menuntut haknya dalam masalah ini dari Antum di hari Kiamat. Abu
Huroiroh -rodhiyallohu ‘anhu- berkata: Rosululloh -shollallohu ‘alaihi
wasallam- bersabda:
« لتؤدن الحقوق إلى أهلها يوم القيامة حتى يقاد للشاة الجلحاء من الشاة القرناء ».
“Pastilah
hak-hak itu akan ditunaikan kepada orang yang berhak mendapatkannya
pada hari kiamat, sampai-sampai kambing yang tak bertanduk akan
dibalaskan haknya terhadap kambing yang bertanduk.” (HR. Muslim).
Antum juga
bilang: “Selain keledai, sesungguhnya akal sehat manusia yang berakal
akan mengingkari semua lenguhan keledai di atas, hanya saja demikianlah
letak perbedaan akal manusia dan akal keledai (yang sengaja dibiarkan hidup berkeliaran oleh tuannya) untuk mengacaubalaukan ukhuwah imaniyah yang selama ini dijaga.” (hal. 37).
Jika Antum,
Cak, merasa tinggi hati dan tak mau mengumumkan pencabutan ucapan ini
dan minta maaf, bisa jadi Antum butuh masker dan seragam anti polusi di
akhirat. Abdulloh bin Umar -semoga Alloh meridhoi keduanya- berkata: Aku
mendengar Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda:
وَمَنْ قَالَ فِى مُؤْمِنٍ مَا لَيْسَ فِيهِ أَسْكَنَهُ الله رَدْغَةَ الْخَبَالِ حَتَّى يَخْرُجَ مِمَّا قَالَ».
“…
dan barangsiapa berkata tentang seorang mukmin dengan suatu perkara
yang tidak ada pada dirinya, maka Alloh akan menjadikan dia tinggal di
dalam rodghotul khobal (perasan penduduk neraka) sampai dia keluar dari
apa yang diucapkannya.” (HR. Abu Dawud (3592) dan dishohihkan Imam Al Wadi’y -semoga Alloh merohmatinya- dalam “Ash Shohihul Musnad” (755)).
Antum juga bilang: “Tidaklah mengherankan jika si keledaipun terus dibiarakan “hidup”
walaupun dia melenguh dengan lenguhan-lenguhan KHABITS yang sungguh
tidak pantas didengarkan dan seharusnyalah bagi setiap orang tua Muslim
untuk menjauhkan ANAK-ANAKnya dari kekejian lisannya yang pastilah
diingkari oleh fitrah kaum mukminin yang masih memiliki rasa malu dan
menjaga kehormatan dirinya apalagi menjaga kemuliaan agamanya.” (hal.
39).
Demikianlah Cak, terus-terusan Antum menuduh kami membiarkan kebatilan
Firman, dalam keadaan kami selama ini tidak mengenalnya dan tidak tahu
sepak terjangnya. Antum benar-benar mencemarkan kehormatan kami, Cak.
Maka ana berharap Antum segera mengumumkan pencabutan ucapan tersebut
dan minta maaf pada kami semua. Tahu nggak, Cak, bahwasanya riba itu
hukumannya berat, di antaranya adalah([18]):
(1) pelakunya akan diperangi Alloh dan Rosul-Nya -shollallohu ‘alaihi wasallam- (mungkin di dunia, ataupun di akhirat).
(2) Pelakunya disuruh renang di sungai darah sambil dilempari batu, di alam kuburnya.
(3) Pelakunya terlaknat.
(4) Barokahnya rusak.
(5) Pelakunya kesurupan setan.
Sekarang Cak, bagaimana jika Antum terjatuh ke dalam riba yang terbesar? Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda:
« إن من أربى الربا الاستطالة فى عرض المسلم بغير حق ».
“Sesungguhnya
termasuk riba yang terbesar adalah panjang lisan (menuduh atau mencaci)
terhadap kehormatan Muslim tanpa kebenaran.” (HR. Abu Dawud (13/222) dan dishohihkan Al Imam Al Wadi’iy -rohimahulloh- dalam “Al Jami’ush Shohih” (3598)).
Cak Dul,
bukannya ana hendak mempermalukan antum di depan umum, dengan
terjatuhnya Antum ke dalam pelanggaran nyata terhadap dalil-dalil di
atas. Sungguh Cak, beberapa hizbiyyin di sini jika ana atau sebagian
teman ditonjok di wajahnya, mereka senang dan mengejek. Tapi pada saat
satu teman mereka terbakar muka dan sebagian anggota badannya, kami
tidak merasa senang dan juga tidak mengejek. Tapi kami juga tak mau
menjenguknya karena bagi kami dia itu hizby.
Jawaban kedelapan:
o ya Cak,
gambar sampulmu bagus juga: Sepatu PDL yang gagah, lalu di sampingnya
ada sepatu hak tinggi perempuan berwarna merah muda, dan juga gambar dua
kuntum mawar merah muda. Judulnya: “Hampir-hampir Saja … Mereka
Jantan.” Ana paham maksud Antum.
(
الحمد لله) kami dengan jantan mengakui terjadinya salah penerjemahan
dalam kasus “Dijamin kebenarannya”. Nah sekarang telah terbukti
kedustaan tuduhan Antum yang bertubi-tubi, bahwasanya kami sengaja
membiarkan Akhuna Firman Hidayat berbuat kebatilan. Sekarang Antum mau
nggak, Cak untuk mengumumkan permintaan maaf pada kami semua. Jika Antum
telah mengumumkannya, maka Antum memang jantan. Tapi jika tidak
berani mengumumkan, maka ya … sepatu merah Antum cantik juga untuk
Antum pakai. Jangan lupa dua kuntum mawarnya taruh di rambutmu.
Jawaban kesembilan:
coba
perhatikan, Cak. Berita-berita dari Antum tidak kami tolak
mentah-mentah, ataupun kami sikapi dengan bengis. Bahkan kami berusaha
untuk menyikapinya sesuai dengan syariat semampu kami, karena kebenaran
itu memang di atas segalanya. Syaikh Robi’ –hafizhohulloh- berkata:
الحق
يا عبد الرحمن أكبر من السموات والأرض، وأكبر من الطوائف التي تدافع عنها.
وهو أحب إلينا من الأبناء والعشائر اهـ. (“جماعة واحدة” /ص86).
“Kebenaran
itu wahai Abdurrohman, lebih besar daripada langit dan bumi, dan lebih
besar daripada kelompok-kelompok yang kamu bela. Kebenaran itu lebih
kami cintai daripada anak, dan keluarga.” (“Jama’ah Wahidah”/hal. 86).
Sekarang
Antum sendiri bagaimana, Cak? Kami sampaikan kepada kalian sisi-sisi
kebatilan si majhul Abu Mahfut dan Abu Umar, beserta dalil-dalil yang
menunjukkan bahwasanya mereka tadi telah keluar dari prinsip-prinsip
Ahlussunnah Wal Jama’ah. Dan hingga kini kalian tak sanggup mematahkan
hujjah-hujjah kami sebagaimana kaidah-kaidah ilmiah-syar’iyyah yang
berlaku di dalam perdebatan. Ana yakin para ustadz kalian juga tahu
kedustaan, dan kelemahan argumentasi orang-orang majhul tadi. Tapi mana
pengingkaran mereka terhadapnya? Mana penjelasan mereka kepada para
Salafiyyin (yang tertipu) bahwasanya argumentasi teman-teman mereka tadi
(Abu Mahfut dan Abu Umar) lemah?
Lalu
bagaimana, Cak? Kebatilan Abu Mahfut dan Abu Umar (dan yang lainnya)
tadi telah tersebar di mana-mana, dan telah kami tunjukkan sisi
kebatilan tersebut dengan dalil-dalilnya, dan kalian tak sanggup
membantahnya. Maka mana pengingkaranmu terhadap mereka? Apakah Antum
memang meridhoi sikap mereka tadi? Awas, Cak, Antum bisa memikul jenis
dosa yang sama tanpa Antum capek-capek berbuat, karena orang yang ridho
terhadap kebatilan itu sejenis dengan orang yang melakukannya. Al Imam
Al Qurthuby -rohimahullohu- di dalam tafsir ( إنكم إذا مثلهم)
menyebutkan:
أي إن الرضا بالمعصية معصية، ولهذا يؤاخذ الفاعل والراضي بعقوبة المعاصي حتى يهلكوا بأجمعهم.
“Yaitu:
sesungguhnya ridho terhadap kemaksiatan merupakan kemaksiatan juga. Oleh
karena itulah makanya pelaku kemaksiatan dan yang meridhoinya dihukum
dengan hukuman perbuatan maksiat hingga mereka semua binasa”. (“Al Jami’
Li Ahkamil Qur’an”/5/hal. 418).
Lihat juga tafsir As Sa’dy –rohimahumalloh-.
Kalo Antum
bilang: “Ana belum paham syariat dan kaidah-kaidahnya.” Maka jawab ana:
kami telah menjelaskan kebatilan mereka lengkap dengan dalil-dalilnya
dari Al Qur’an dan As Sunnah dengan manhaj Salaf, dengan bahasa yang
terang. Bagaimana Antum masih tidak paham, dan justru menyerang
Salafiyyin di Dammaj dan yang beserta mereka, dengan berbagai
caci-makian dan kedustaan serta kengawuran, yang Syaikh Robi’
-hafizhohulloh- saja tidak melakukannya? Katanya kalian nunggu Syaikh
Robi’ karena beliau adalah Imam jarh wat Ta’dil? Jika Antum memang jujur
dengan pengakuan kebodohan Antum, maka ada ungkapan Arab yang cocok:
فدع عنك الكتابة لست منها … ولو لطخت وجهك بالمداد
“Maka
tinggalkanlah tulis-menulis, karena engkau belum pantas menjadi ahlinya,
meskipun kamu kotori wajahmu dengan tinta.” (“Subhul A’sya”/2/hal.
502).
‘Afwan, Cak
jika terlalu kasar. Tapi mungkin itu lebih baik daripada Antum tambah
dosa berbicara terhadap banyak Muslimin dengan batil, dan menyesatkan
banyak orang. Ini sekedar nasihat, Cak, walaupun agak kasar semoga
diterima. Antum sendiri sudah melihat bahwasanya ucapan-ucapan keji dan
kotor dari Antum jika memang mengandung kebenaran ana terima. lillahi
ta’ala, Cak.
Jawaban kesepuluh:
masih ada
beberapa poin jawaban yang ana simpan, yang sebenarnya bisa membikin
wajah Antum benjol bagai apel Manalagi. Tapi risalah ini sudah cukup
panjang. Para pembaca yang serius mencari kebenaran dan bersikap adil (
إن شاء الله) akan bisa menilai siapakah yang lebih jujur dan lebih dekat
kepada kebenaran.
Bab Enam:
Istilah “Pusat Dakwah Salafiyyah Paling Murni Sedunia”
Sungguh, Cak, ana sebenarnya tak suka ungkapan-ungkapan yang
menggambarkan kebanggaan diri atau kelompok, dan semisalnya. Hanya saja
di zaman ini makin banyak markiz Salafiyyah yang mengabaikan thoriqotus
Salaf dalam menyeleksi murid. Banyak yang membiarkan para murid campur
aduk dengan para pembawa pemikiran bid’ah di markiznya. Padahal Antum
sendiri tahu Cak, bahwasanya jarang sekali orang sehat jika ngumpuli
orang sakit, lalu si sakit jadi ketularan sehat. Yang terjadi justru
sebaliknya. Makanya syari’at Alloh ta’ala mengajarkan pemisahan, kecuali
bagi para dokter atau perawat yang bertugas mengobati si sakit.
Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda:
« لا يورد الممرض على المصح ».
“Tidak boleh orang yang sakit itu dimasukkan kepada orang yang sehat.” (HR. Al Bukhory dan Muslim, dari Abu Huroiroh -rodhiyallohu ‘anhu-).
Makanya
mengingat berbagai bahaya yang mungkin timbul dari akibat masuknya
pembawa syubhat ke tempat pengajaran Salafiyyah, makanya para Salafpun
menerapkan sikap tamyiz-tamayyuz (penyeleksian dan pemisahan diri).
Imam Ahmad bin Yunus rohimahulloh berkata:
«رأيت
زهير بن معاوية جاء إلى زائدة بن قدامة فكلمه في رجل يحدثه ، فقال : من
أهل السنة هو ؟ قال : ما أعرفه ببدعة ، قال : هيهات ، أمن أهل السنة هو ؟
فقال : زهير : متى كان الناس هكذا ؟ فقال زائدة : متى كان الناس يشتمون أبا
بكر وعمر».
“Aku melihat
Zuhair bin Mu’awiyah mendatangi Zaidah bin Qudamah, lalu mengajaknya
bicara tentang seseorang agar beliau mau memberinya hadits. Maka Zaidah
berkata,”Apakah dia dari Ahlussunnah?” Maka dia berkata,”Saya tidak
mengetahui dia terkena kebid’ahan.” Maka Zaidah berkata,”Tidak bisa.
Apakah dia dari Ahlussunnah?” Maka Zuhair berkata,”Sejak kapan
orang-orang seperti ini?” Zaidah berkata,”Kapankah orang-orang
mencaci-maki Abu Bakr dan Umar?”([19]) (“Al Jami’ Li Akhlaqir Rowi”/2/hal. 353).
Imam An Nadhr bin Syumail rohimahulloh berkata:
«
كان سليمان التيمي إذا جاءه من لا يعرفه من أهل البصرة قال : أتشهد أن
الشقي من شقي في بطن أمه ، وأن السعيد من وعظ بغيره ؟ فإن أقر وإلا لم
يحدثه »
“Dulu
Sulaiman At Taimy jika ada orang dari penduduk Bashroh yang
mendatanginya tapi dia tidak mengenalnya, maka beliau berkata,”Apakah
engkau bersaksi bahwasanya orang yang celaka itu celaka di perut ibunya,
dan bahwasanya orang yang beruntung itu adalah yang bisa mengambil
pelajaran dengan orang lain?” Jika dia mengakuinya akan diberinya
hadits. Tapi jika tidak bersaksi demikian beliaupun tidak memberinya
hadits.” (“Al Jami’ Li Akhlaqir Roqi”/2/hal. 348).
Imam Sufyan Ats Tsaury rohimahulloh berkata:
امتحنوا أهل الموصل بالمعافى.
“Ujilah oleh kalian penduduk Maushil dengan Al Mu’afa –Imam Al Mu’afa bin ‘Imron-.” (“Siyar A’lam”/9/hal. 82).
Al Imam Al Wadi’iy -rohimahullohu- berkata:
وننصح
أهل السنة أن يتميزوا وأن يبنوا لهم مساجد ولو من اللبن أو من سعف النخل،
فإنّهم لن يستطيعوا أن ينشروا سنة رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم
إلا بالتميّز وإلا فالمبتدعة لن يتركوهم ينشرون السنة.
“Dan kami menasihati Ahlussunnah untuk tamayyuz
(memisahkan diri dari Ahlul bida’) dan membangun masjid-masjid untuk
diri mereka sendiri sekalipun dari batu lempung ataupun dari pelepah
kurma, karena mereka tak akan sanggup menyebarkan sunnah Rosululloh
-shollallohu ‘alaihi wasallam- kecuali dengan cara tamayyuz. Jika tidak demikian, maka ahlul bida’ itu tak akan membiarkan mereka menebarkan As Sunnah.” (“Tuhfatul Mujib”/hal. 208).
Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy –hafizhohulloh- berkata:
…
الشيخ مقبلاً وكبار تلاميذه لأنهم كانوا ولا يزالون يرون هجر أصحاب
الحزبيات والتميز عنهم بل قال الشيخ مقبل:”هذه دعوتي وهذه طريقتي التي
تميزني عن هؤلاء الجهلة”. (“انتقاد عقدي منهجي” ص 303)
“… Asy
Syaikh Muqbil dan para murid seniornya, karena mereka itu sejak dulu dan
senantiasa memandang harusnya memboikot pelaku hizbiyyah dan memisahkan
diri dari mereka. Bahkan Asy Syaikh Muqbil berkata: “Inilah dakwahku,
dan inilah jalanku yang membedakan diriku dari orang-orang bodoh itu.”
(“Intiqod ‘Aqody Manhajiy ‘ala Abil Hasan”/hal. 303).
Manakala
banyak markiz yang meninggalkan thoriqotus Salaf tadi, dan justru di
kemudian hari banyak menjadi tempat penampungan hizbiyyin, dan
pengelolanya menjadi pembela mereka, jadilah Syaikhuna Abu Hamzah
Muhammad bin Husain Al ‘Amudiy -hafizhohulloh- menyuruh ana untuk
menampilkan istilah: “Markiz Dakwah Salafiyyah yang Murni di Dunia”
sebagaimana bentuk syukur kepada nikmat Alloh ta’ala, dan nasihat buat
yang lainnya. Ya memang resikonya adalah para ahlil bida’ jengkel.
Kemudian, Cak, ana melihat bahwasanya sebagian hizbiyyin yang suka
berdalam-dalam akan memprotes –walaupun ngawur-: “Jika markiz kalian
murni, berarti yang lain kalian tuduh tidak murni, dong!?” Makanya
meskipun ana punya jawabannya yang sesuai dengan bahasa dan usul fiqh,
ana memilih untuk lebih melunakkan istilah menjadi: “Markiz Dakwah
Salafiyyah yang Paling Murni di Dunia”, barangkali agak
mengurangi protes karena istilah tadi bermakna: yang lain juga ada yang
murni, hanya saja yang di Dammaj lebih murni daripada yang lainnya.
Tetap saja hizbiyyun banyak yang terbakar dan gatal-gatal. Dasar memang tukang hasad, ya Cak.
Nah,
sekarang ada berita gembira buat kalian semua, Cak. Beberapa waktu yang
lalu pada saat ana menyerahkan naskah kitab yang menyingkap Kristenisasi
ke Syaikhuna Yahya -hafizhohulloh-. Beliau menyetujuinya dan bahkan
memberikan kata pengantar. Tapi juga ternyata beliau mencoret beberapa
kata di sampul depan yang menggambarkan keagungan markiz Dammaj, dan
yang tersisa hanyalah: “Darul hadits di Dammaj-Yaman.”
Semoga Alloh ta’ala merohmati beliau dan mengangkat derajat beliau atas sikap rendah hati tersebut.
Dan semoga
kalian semua pandai bersyukur pada Alloh ta’ala atas nikmat ini:
hilangnya sebagian bara kedongkolan dari dalam hati. Cak Dul, buang
sajalah bara hasad itu, karena dia itu lebih panas daripada bara sate
Malang.
Maka
berdasarkan apa yang ana sebutkan di atas, sejak saat ini ana tidak lagi
mencantumkan lafazh “Markiz Dakwah Salafiyyah yang Murni di Dunia”
ataupun yang sejenis dengan itu, ( إن شاء الله).
Bab Tujuh:
Akhunal Fadhil Muhammad Bin Umar -hafizhohulloh- Tidak Ngibul
Di dalam
tulisan Cak Dul Ghofur Al Malangi, beliau menyebutkan bahwasanya Akhunal
Fadhil Muhammad bin Umar -hafizhohulloh- ngibuli Akhuna Abu Huroiroh
perihal ‘Ubaid Al Jabiry –hadahulloh-. Cak Dul bilang:
Terkait penghinaan Hajury dan Hajuriyun terhadap Asy Syaikh Ubaid Al Jabiri hafizhahullah,
bak keledai independent (maksudnya adalah Abu Huroirah Firman)
memamerkan keakrabannya dengan para “sopir” dakwah paling murni sejawat([20]) (lalu Cak Dul Ghofur menukilkan tulisan Abu Huroirah):
Kemudian Cak Dul menukilkan tulisan dari Aloloom As Salafiyyah):
Dengan perbedaan fatwa tersebut Cak Dul Ghofur berulang-kali menuduh Akhuna Ibnu Umar telah mengibuli Abu Hurairah.
Jawaban pertama dari Abu Fairuz –‘afallohu ‘anhu-:
Akhunal Fadhil Muhammad bin Umar Al Acehy -hafizhohulloh- pulang ke
Indonesia beberapa bulan yang lalu, setelah meredanya krisis Rofidhoh
pada tahun ini, dan jalan ke Shon’a terbuka luas. Beliau pulang dalam
keadaan membawa fatwa lama dari Syaikhuna Yahya -hafizhohulloh- yang
intinya bahwasanya Syaikh Ubaid Al Jabiry itu salah dan membela hizby jadid.
Belum
didapati adanya fatwa tegas dari Syaikhuna Yahya -hafizhohulloh-
bahwasanya dia itu hizby. Makanya wajar saja jika Akhuna Ibnu Umar
-hafizhohulloh- menjawab sesuai dengan apa yang beliau tahu. Belumlah
sampai kabar pada beliau bahwasanya Ubaid Al Jabiry berkali-kali
memperbaharui serangan cacian kepada Syaikhuna Yahya -hafizhohulloh-
dan tahdzir terhadap Dammaj. Kami yang di sini mengetahui langsung apa
yang tidak diketahui Akhuna -hafizhohulloh-. Sampai akhirnya Syaikhuna
Yahya -hafizhohulloh- pada tanggal 16 Jumadits Tsaniyyah 1431 H (dalam
catatan ana) pada waktu antara Mahgrib dan ‘Isya di dars ‘am
(pelajaran untuk seluruh pelajar) ditanya tentang keadaan Ubaid Al
Jabiriy, maka beliau menjawab dengan jawaban yang panjang dan
sebagiannya agak terulang-ulang, yang di antaranya adalah:
عبيد الجابري حزبي مفتر،
“Ubaid Al Jabiriy itu hizby pembikin kedustaan.”
وما حمله الهدى والسنة، وإنما حمله حزبيته وإرادته إثارة الفتنة والتعصب للحزبيين.
“Bukanlah hidayah dan sunnah yang membawanya kepada perbuatan itu([21]).
Yang membawanya kepada perbuatan itu adalah sifat hizbiyyahnya dia, dan
keinginannya untuk mengobarkan fitnah dan fanatisme kepada para
hizbiyyin.”
استمات في الدفاع عن الحزبية، وهذا شأن الحزبيين
“Dia berjuang mati-matian untuk membela hizbiyyah. Dan ini merupakan karakter para hizbiyyin.”
Yang ana
tuliskan di sini hanyalah sebagian dari ucapan beliau -hafizhohulloh-,
sebagaimana yang tertulis di Aloloom Assalafiyyah pun demikian.
Makanya yang terjadi pada Akhuna Ibnu Umar -hafizhohulloh- itu bukanlah pengibulan, tapi penyebutan hukum sesuai dengan apa yang beliau tahu.
Paham nggak Cak, bedanya. Jika Antum nggak paham, ana nasihatkan untuk
banyak-banyak belajar dan memperdalam syari’at Islam ini dengan serius
dan niat ikhlas agar semakin punya pemahaman yang lurus dan mendalam dan
semakin punya rasa takut pada Alloh. Kurangilah nongkrong di layar
internet, Cak. Ini nasihat yang tulus, Cak, bukan ejekan.
Jawaban kedua:
jawaban di atas cocok untuk kasus penukilan berita. Misalnya: jika
posisi Akhuna Ibnu Umar -hafizhohulloh- pada waktu itu adalah sedang
menukil berita dari Syaikhuna Yahya -hafizhohulloh-. Maka kita katakan
bahwasanya beliau menyampaikan berita sesuai dengan apa yang beliau tahu
langsung dari Syaikhuna Yahya -hafizhohulloh- sebelum pulang ke
Indonesia. Dan beliau tidak tahu bahwasanya pada pekan-pekan berikutnya
terjadi serangan-serangan yang menyebabkan Syaikhuna Yahya
-hafizhohulloh- memperkeras hukum terhadap Syaikh Ubaid. Maka tinggal
kita perbarui pengetahuan yang ada pada Akhuna Ibnu Umar
-hafizhohulloh-. Dan sama sekali Antum –ataupun yang lainnya- tidak
berhak untuk mengatakan bahwasanya beliau mengibuli Abu Hurairah.
Tapi jika kita melihat lahiriyah dari jawaban beliau kepada Abu
Hurairah, kita dapati bahwasanya beliau (Akhuna Ibnu Umar
-hafizhohulloh-) tidak sedang menisbatkan hukum tadi kepada Syaikhuna
Yahya -hafizhohulloh-. Maka jika terjadi perbedaan hukum yang
dilontarkan oleh Syaikhuna Yahya -hafizhohulloh- dan Akhuna Ibnu Umar
-hafizhohulloh-, lebih pantas lagi untuk tidak dikatakan bahwasanya
beliau mengibuli Abu Hurairah. Paham nggak, Cak? Jika nggak paham ya
banyak-banyak doa, Cak.
Jawaban ketiga: Tahu nggak, Cak bahwasanya termasuk syiar terbesar dari hizbiy Mar’iyyin adalah “Kalian mutasarri’un dan musta’jilun
(tergesa-gesa) dalam menghukumi!”. Ini teriakan Syaikh Antum Abdulloh
bin ‘Umar bin Mar’iy pada saat sibuk membela-bela Abul Hasan Al Mishry.
Ini juga teriakan para pengikut Syaikh Antum Abdurrohman bin ‘Umar bin
Mar’iy untuk berkelit dari vonis Salafiyyun dalam fitnah ini. Bahkan
ini juga syiar Jama’ah Tabligh (lihat “Al Qoulul Baligh”/hal. 106), Al
Ikhwanul Muslimin (lihat “Ar Roddul Muhabbar”/hal. 188), dan Jam’iyatul
Hikmah (lihat “Qom’ul Mu’anid”/1/hal. 63-64), dan tokoh pembela
Jam’iyathul Ihsan (lihat “Nubdzatun Yasiroh”/hal. 76-78), dan Abul Hasan
(Lihat “Majmu’ur Rudud”/hal. 459).
Yang ana
inginkan di sini, Cak penjelasan bahwasanya kedua Syaikh Antum itu
hizby, syiar mereka sama dengan syiar para hizbiyyin terdahulu.
Tapi sekalipun demikian, mbok ya yang adil dalam menerapkan syiar. Teriak-teriak: “Kalian mutasarri’un dan musta’jilun
(tergesa-gesa) dalam menghukumi!”. O ternyata mereka sendiri
tergesa-gesa dan ngawur dalam menimpakan vonis. Contohnya ya Cak Dul
sekarang ini.
Jawaban keempat:
Syiar Mar’iyyin juga: “Tabayyun dan tatsabbut sebelum menyimpulkan!”
Tapi mbok ya yang adil dalam menerapkan syiar. Contohnya ya Cak Dul
sekarang ini. Berikut ini adalah faidah, Cak,: Ibrohim At Taimy
-rohimahullohu-berkata:
ما عرضت قولي على عملي إلا خشيت أن أكون مكذَّبا
“Tidaklah
aku sodorkan perkataanku kepada perbuatanku, kecuali aku takut akan
didustakan (dianggap sebagai pendusta).” (“Shohihul Bukhory”/kitab
Bad’il Wahyi/Bab Khoufil Mu’min).
Jawaban kelima:
setelah terbukti ngawurnya tuduhan tadi, coba kita hitung sejenak
kejahatan Antum pada Akhuna Ibnu Umar, dan apa ancaman kerugian buat
diri Antum sendiri.
Antum bilang: “Ya ustadz Ibnu ‘Umar hadahullah, demikiankah atsar ilmu luas dan dalam yang didapatkan dari Al-Hajuri ? Baru pulang dari sana sudah “MENGIBULI”
hanya karena HARTANYA adalah ASSET BERHARGA 24 karatan (yaitu: Abu
Hurairah) yang harus dibiarkan “hidup berkeliaran” walaupun dia bak
seekor keledai yang memanggul kitab?” (hal. 34).
Sudah jelas bahwasanya beliau tidak mengibuli Abu Hurairah. Ingat nggak, Cak Dul bahwasanya dengan ini Antum terancam masuk ke rodghotul khobal (perasan penduduk neraka)?
Lalu Antum mengulang lagi tuduhan tadi dengan berkata: “Dikaupun begitu tega “mengelabui” Abu Hurairah?
Iya, sekarang si bocoralus (yaitu: Abu Hurairah) telah melakukan
operasi face-off untuk kesekian kalinya dengan topeng barunya sebagai
Abu Hurairah.” (hal. 35).
Sudah jelas bahwasanya beliau tidak mengibuli Abu Hurairah. Ini tuduhan
palsu, Cak. Ingat nggak Cak hadits Abu Huroiroh -rodhiyallohu ‘anhu-:
أن
رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال « أتدرون ما المفلس ». قالوا المفلس
فينا من لا درهم له ولا متاع. فقال « إن المفلس من أمتى يأتى يوم القيامة
بصلاة وصيام وزكاة ويأتى قد شتم هذا وقذف هذا وأكل مال هذا وسفك دم هذا
وضرب هذا فيعطى هذا من حسناته وهذا من حسناته فإن فنيت حسناته قبل أن يقضى
ما عليه أخذ من خطاياهم فطرحت عليه ثم طرح فى النار ».
“Bahwasanya Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bertanya: “Tahukah kalian siapa itu orang yang bangkrut?” Mereka menjawab,”Orang yang bangkrut di kalangan kami adalah orang yang tak punya uang ataupun barang.” Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya
orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari
kiamat dengan pahala sholat, puasa, dan zakat. Tapi dia datang dalam
keadaan telah mencaci si ini, menuduh si itu, makan harta orang ini,
menumpahkan darah orang itu, dan memukul si dia. Maka si ini diberi
kebaikannya, si itu diberi kebaikannya. Jika kebaikannya telah habis
sebelum dia membayar seluruh kewajibannya, diambillah dari kejelekan
mereka lalu dipikulkan ke punggungnya, lalu dilemparkanlah dirinya ke
dalam neraka.” (HR. Muslim).
Antum juga ulangi tuduhan, Cak dengan perkataan: “Kita katakan kepada Abu Hurairah Firman, baginda telah “dikibulin”!” (hal. 35).
Beliau tidak mengibuli Abu Hurairah, Cak. Antum yang dusta dan membikin
dosa. Maka perbanyaklah doa keselamatan, karena Alloh ta’ala berfirman:
وَيْلٌ لِكُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ (الجاثية/7)
“Dan kecelakaanlah untuk setiap pendusta lagi pendosa.” (QS. Al Jatsiyah: 7).
Pantun Cak Dul berikut ini adalah tuduhan yang kesekian: Naik gunung membeli jati* Berhenti dekat pohon pepaya* Pakcik Agung kibuli si jakarti* Bagaimana umat akan percaya* Kucing orang dielus-elus* Sambil berbaring di kasurnya* Keledai orang diakal bulus* Sambil berbaring di kasurnya* Tega nian dikau (hal. 35).
Ingat, Cak, hukuman terhadap riba apa saja? Bagaimana dengan riba yang
terbesar -menuduh seorang Muslim tanpa kebenaran-?
Ternyata terus-terusan Antum ulang tuduhan palsu tadi. Alangkah ngerinya
kobaran api kebencian di hatimu. Waspadalah Cak, jangan sampai dia
membakar dirimu sendiri. Antum bilang: “Sepantasnya kita memperbanyak
istighfar kepada Allah. Sekian tahun menimba ilmu di bawah bimbingan
langsung Al Imam Jarh wa Ta’dil Yaman, pulang-pulang membuka dakwah dengan “mengibuli” orang.” (hal. 35).
Ini termasuk mencari-cari kekurangan seorang Muslim (sampai-sampai yang
bukan dosapun dicatat dan diberi stempel: “Ngibul”). Awas, Cak, balasan itu sesuai dengan amalan.
Bisa jadi Alloh akan balas mencari-cari kekurangan Antum, maka jangan
harap bisa sembunyi di kebun Apel Manalagi di Batu Malang, ataupun di
kawah gunung Bromo. Nafi’ -rohimahullohu- berkata:
عن
ابن عمر قال : صعد رسول الله صلى الله عليه و سلم المنبر فنادى بصوت رفيع
فقال يا معشر من قد أسلم بلسانه ولم يفض الإيمان إلى قلبه لا تؤذوا
المسلمين ولا تعيروهم ولا تتبعوا عوراتهم فإنه من تتبع عورة أخيه المسلم
تتبع الله عورته ومن تتبع الله عورته يفضحه ولو في جوف رحلة قال ونظر ابن
عمر يوما إلى البيت أو إلى الكعبة فقال ما أعظمك وأعظم حرمتك والمؤمن أعظم
حرمة عند الله منك
“Dari Ibnu
‘Umar -rodhiyallohu ‘anhuma- yang berkata: “Rosululloh -shollallohu
‘alaihi wasallam- pernah naik ke mimbar, lalu berseru dengan suara yang
tinggi seraya berkata: “Wahai orang-orang yang masuk Islam
dengan lidahnya, tapi iman itu belum menembus ke dalam hatinya,
janganlah kalian mengganggu Muslimin, dan jangan mencaci mereka, dan
jangan mencari-cari kekurangan mereka, karena barangsiapa mencari-cari
kekurangan saudaranya Muslim, maka Alloh akan mencari-cari
kekurangannya. Dan barangsiapa dicari-cari kekurangannya oleh Alloh,
pastilah Alloh akan membongkarnya sekalipun dia bersembunyi di tengah
rumahnya.”
“Pada suatu
hari Ibnu ‘Umar -rodhiyallohu ‘anhuma- memandang ke Al Baitul Harom,
atau ke Ka’bah, lalu berkata: “Alangkah agungnya engkau, dan alangkah
agungnya kehormatanmu. Tapi Mukmin itu lebih agung kehormatannya
daripada engkau.” (HR. At Tirmidzy (6/180), dihasankan oleh Al Imam Al
Wadi’iy -rohimahullohu- dalam “Al Jami’ush Shohih” (3601)).
Cak, masih juga Antum mengulang tuduhan itu sambil mengejek dengan berkata: “Wa yang lebih kejam lagi, dikau “mengibulinya” sambil berbaring di tempat tidurnya.” (hal. 35).
Ittaqillah,
Cak, Akhuna Ibnu ‘Umar -hafizhohulloh- walaupun Antum remehkan beliau,
beliau itu mengerjakan sholat Shubuh. Kejahatan terhadap orang yang
shalat Shubuh bukanlah kejahatan yang enteng. Rosululloh r bersabda:
منصلىالصبحفهوفيذمةاللهفانظرياابنآدملايطلبنكاللهمنذمتهبشيء.
“Barangsiapa
sholat Shubh maka dia itu ada dalam jaminan Alloh. Maka perhatikanlah
wahai anak Adam jangan sampai Alloh menuntutmu sedikitpun dari
jaminan-Nya.” (HSR Muslim dari Jundub bin Sufyan).
Masih juga Antum belum puas dengan tuduhan palsu yang bertubi-tubi tadi.
Antum melanjutkan proses merusak “wajah” dan menyakiti hati beliau: “wa yang sangat menggemaskan dikau “mengibulinya” sambil memegang kucingnya. Astaghfirullahal ‘adzim. Allahummaghfirlahu. Betapa malang nasibmu wahai Abu Hurairah Firman, benar-benar dikau bagaikan keledai fitnah yang memanggul kitab”. (hal. 35).
Tobat, Cak, sebelum datangnya balasan yang pastilah sesuai dengan amalan. Anas t meriwayatkan bahwa Rosululloh r bersabda:
لماعرجبيمررتبقوملهمأظفارمننحاسيخمشونوجوههموصدورهم،فقلت: منهؤلاءياجبريل؟قال: هؤلاءالذينيأكلونلحومالناس،ويقعونفيأعراضهم
“Ketika
aku dinaikkan ke langit aku melewati suatu kaum yang punya kuku-kuku
dari tembaga, mereka mencakar-cakar wajah dan dada mereka sendiri.
Kutanyakan,“Siapakah
mereka itu wahai Jibril?” Jawabnya,”Mereka adalah orang-orang yang
memakan daging manusia dan merusak kehormatan mereka.” (HSR Abu Dawud (4880). dishohihkan oleh Al Imam Al Wadi’i –rahimahulloh- dalam “Al jami’ush Shohih” (3600)).
Jawaban keenam:
nasihat ana buat Antum, Cak, untuk segera mengumumkan pencabutan
tuduhan yang berulang-ulang tadi. Jika ini Antum lakukan maka kami
merasa salut pada kejantanan Antum. Lagi pula itu hak diri Antum
terhadap Antum sendiri: menyelamatkan diri dari kerugian. Tapi
jika ternyata Antum pengecut, maka silakan ambil kembali sepatu merah
jambu Antum, dan tolong dipakai sambil jalan-jalan. Jangan lupa taruh
bunga mawar Antum di kedua telinga Antum. Barangkali Cak Dul setelah itu butuh operasi face off kayak ucapannya pada Abu Hurairah -waffaqohullohu-.
Ana yakin Antum masih punya jiwa jujur dan ksatria untuk mengakui
kesalahan sebagaimana mestinya. Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa
sallam- bersabda:
شر ما في رجل شح هالع وجبن خالع
“Sejelek-jelek
sifat yang ada pada seorang lelaki adalah sifat kikir yang penuh dengan
keluhan, dan sifat penakut yang amat sangat.” (HSR Ahmad
dan At Tirmidzy dari Abi Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu. Lihat “Al Jami’ush
Shohih” 5/131 karya Imam Al Wadi’y -rahimahulloh-).
Setelah
Antum melihat kejujuran dan kejantanan kami dalam menyikapi kesalahan
sendiri, maka ana nasihatkan buat Antum untuk berbuat serupa atau yang
lebih baik. Bukan dalam rangka Antum tunduk pada musuh, tapi demi nama
baik Antum sendiri di mata Alloh ta’ala. dan ( إن شاء الله) suatu saat
Antum akan tahu bahwasanya nasihat orang yang Antum musuhi ini jauh
lebih berharga daripada pujian dan sanjungan para pendukung Antum.
Antum
sendiri telah lihat bahwasanya nasihat ana ini ( إن شاء الله) sesuai
dengan dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah. Maka jika Antum
mengambilnya, sebenarnya Antum menaati Alloh dan Rosul-Nya, bukan
merunduk pada sang penyampai yang Antum benci ini. Suatu saat nanti
kita akan melihat kebenaran firman Alloh ta’ala:
وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا * يَا وَيْلَتَا لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا * لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي [الفرقان : 27 - 29]
“Dan
pada hari di mana orang yang zholim itu menggigit kedua tangannya
sambil berkata: “Aduh, andaikata aku mengambil jalan bersama Rosul.
Aduh, celakalah aku, andaikata aku tidak mengambil si Fulan sebagai
teman akrab. Sungguh dia telah menyesatkan aku dari peringatan setelah
peringatan itu datang kepadaku.” (QS. Al Ahzab: 27-29).
Tulisan ini
merupakan awal dari dialog ana dengan Cak Dul. Semoga cukup halus dan
tidak sekasar tulisan Cak Dul. Dan semoga bermanfaat dan menumbuhkan
kesadaran pada beliau dan orang-orang yang tertipu olehnya. Dan ana
ucapankan (جزاكم الله خيرا) kepada Akhuna Abu Yusuf Al Ambony dan yang
lainnya atas seluruh bantuan yang diberikan.
( إن شاء الله) tulisan ini akan disambung pada seri yang kedua.
والله تعالى أعلم. سبحانك اللهم وبحمدك لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك.
والحمد لله رب العالمين.
Dammaj, 20 Rojab 1431 H
Ditulis oleh Al Faqir Ilalloh ta’ala
Abu Fairuz Abdurrohman Al Qudsiy
Al Indonesiy
([1]) Termasuk di antaranya adalah salah
duganya Akhunal fadhil al ghoyur Abu Turob Al Jawy -hafizhohulloh-
tentang Ahmad Khodim. Beliau berkata kepada kami bahwasanya beliau
selama ini mengira dan mendengar bahwasanya Ahmad Khodim adalah dari Al
Jami’atul Islamiyyah Madinah, ternyata cuma TKI yang memanfaatkan
sebagian waktu untuk menimba ilmu di Madinah. Dengan ini maka kesalahan
telah diperbaiki ( إن شاء الله تعالى).
([2]) Lihat tafsir Ibnu katsir -rohimahullohu- terhadap ayat ini
([3]) Sengaja ana tampilkan ucapan
beliau -rohimahulloh- karena sebagian hizby Luqmaniyyah bilang: “Kembali
ke ulama Saudi!”, “Thoriqoh Su’udiyyah lebih cocok diterapkan di
Indonesia daripada Thoriqoh Yamaniyyah!”
([4]) Jika ada kesalahan dalam menulis
alamat mohon dimaafkan, tapi memang alamat inilah yang kami buka dari
situs Akhuna Firman. Dan juga ana akan memberikan sedikit perbaikan buat
bahasa yang dipergunakan oleh beliau, tanpa merusak keaslian ( إن شاء
الله). Kalimat aslinya silakan dilihat sendiri di situs beliau. Dan
memang ada beberapa ucapan beliau yang perlu diberi catatan kaki.
([5]) Perlu tambahan beberapa kata agar maksud Akhuna Firman bisa dipahami dengan mudah.
([6]) Walaupun sebenarnya ada. Shaikhuna
Yahya Al Hajury -hafizhohulloh- menyemangati para Salafiyyin untuk
berusaha menebarkan kebaikan kepada saudara-saudaranya semampunya,
walaupun dari sisi dasar-dasar lughoh, atau Al Ushuluts Tsalatsah dan
sebagainya. Yang penting -kata beliau:- jangan sampai bicara tanpa ilmu
atau yang tidak merasa mantap di dalamnya. Dan jika ada problem
hendaknya mencari ilmunya kepada ulama.
([7]) Perasaan apa? Barangkali yang
beliau maksudkan adalah perasaan gersang dengan kehidupan yang jauh dari
nilai-nilai agama (والله أعلم).
([8]) Perlu tambahan beberapa kata agar maksud Akhuna Firman bisa dipahami dengan mudah.
([9]) Sebaik-baik jalan adalah jalan
Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam-. Ada waktunya untuk lembut
–dan inilah asal metode dakwah Rosululloh -shollallohu ‘alaihi
wasallam-. Dan ada waktunya untuk keras. Semuanya harus dikembalikan
kepada syariat. Demikianlah berkali-kali ditekankan oleh Syaikhuna Yahya
Al Hajury -hafizhohulloh-.
([10]) Sepertinya yang dimaksud oleh Akhuna Firman adalah fitnah di antara sebagian du’at di sana.
([11]) Kita semua wajib untuk kembali
kepada Al Kitab dan As Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah. Tidak ada
di antara kita yang sempurna, tapi ( إن شاء الله) situs ALOLOOM.
ASSALAFIYAH adalah situs Salafy, mendakwahkan manhaj Salaf, mengajari
umat ilmu-ilmu syari’ah, memerangi kristenisasi, rofidhoh, komunisme,
Shufiyyah, Ikhwanul Muslimin, sekuler, dan bahkan malpraktek yang ada di
rumah sakit, dan juga hizbiyyah. Ini terbukti dari risalah-risalah yang
ditampilkan. Jadi tidak seperti yang dituduhkan oleh Cak Dul Ghofur
bahwasanya situs itu tidaklah dibuat kecuali untuk merusak dakwah
Salafiyah atau ucapan yang senada dengan itu. Semoga Cak Dul segera
mengumumkan rujuknya dengan jantan. Jika tidak ya silakan memakai
sendiri sepatu merah jambunya dengan dua kuntum mawarnya. Dan tuntutan
di akhirat bisa amat menakutkan.
([12]) Jika berita-berita tentang
kesalahan masa lalu Akhuna Firman itu salah, maka semoga punggung Cak
Dul cukup kuat untuk memikul dosa BUHTAN. Dan jika kesalahan tadi benar
adanya dan tersebar, tapi Akhuna Firman telah mengumumkan tobatnya, maka
dosa BUHTAN juga akan dipanggul oleh Cak Dul. Jika memang belum
ditobati, ya memang harus ditobati. Sama saja, dosa manhaji atau tidak,
dosa itu merusak muru’ah dan berbahaya buat pelakunya, di dunia ataupun
di akhirat. Dan seorang rowi hadits bisa ditolak haditsnya karena
kefasiqan. Demikian pula seorang saksi. Maka kami bersyukur kepada
Akhuna Firman, ataupun siapa saja yang mau merunduk di hadapan Alloh
bertobat dan mengakui kesalahannya. Tobat yang sejati merupakan bukti
kejujuran, keikhlasan dan sekaligus kejantanan. Semoga Cak Dul Ghafur
pun demikian. Jika tidak, ya sepatu merah jambunya tolong dipakai
sendiri. Jangan lupa bunga mawarnya.
([13]) Tobat yang jujur diterima,
meskipun dari kekufuran dan kesyirikan. Yang penting syarat-syarat dari
Alloh dan Rosul-Nya dipenuhi. Alloh itu Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.
([14]) Baik ustadz yang diluar negri ataupun yang di dalam negri, ataupun yang di dalam hati. Alloh ta’ala berfirman:
وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ
لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ
إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ [الأنعام/121]
“Dan sesungguhnya
setan-setan itu benar-benar menurunkan wahyu kepada para wali mereka
untuk mendebat kalian. dan jika kalian menaati mereka sungguh kalian itu
benar-benar orang yang musyrik.” (QS Al An’am 121)
([15]) – Akan tetapi kami tidak pernah
mendapatkan dari Cak Dul dan konco-konconya adanya nasehat atas
kekeliruan yang sangat jelas dan gambalang dari sisi syar’i ataupun adab
sopan-santun, bahkan yang ada adalah bagaimana memperkokoh kesalahan
mereka dengan cara memaksakan dalil untuk digunakan sebagai pendukung,
diantara perkara besar yang tidak mereka nasehatkan apalagi ditaroju’I
adalah seperti dosa tasawwul plus dengan yayasannya, bermudah-mudah
dalam menggunakan jasa perbangkan dalam posisi tidak dhoruri dan masih
banyak jalan seperti yang mereka pampangkan di logo Dauroh Nasional
mereka ketika mereka ngemis, membiarkan teman-teman majahil berteriak
bisu tanpa teguran, seperti Abu Mahfudh,Abu Umar, Dammaj Habibah dst,
bahkan saling bahu- membahu dalam mengkonsumsi dosa,padahal mereka
dibawah ketiak para pembesar yang mereka elu-elukan, ataukah itu semua
kalian anggap remeh yang penting kita bersama para pembesar.
﴿وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا ﴾ [الأحزاب/67]
Sementara kesalahan yang
wajar dan bukan diatas kesengajaan dari lawan mereka bawa kelobang
sempit untuk menjepit, sementara kesengajaan kesalahan ustadz-ustadz dan
para pendekar sok jantan mereka dibiarkan tetap bercokol di kalangan
mereka, kalau memang ucapan kami ini salah tolong sebutkan kepada kami
sikap nasehat atau tobat salah seorang dari mereka dalam masalah salah
yang sudah kita maklumi bersama.[Abu Turob]
([16]) – Cak, kata-kata awalmu dengan
akhirnya kok berlawanan, diawal kamu katakan dia tidak berharga, dan
diakhir kamu mengatakan amat berharga, ini menunjukkan bahwa ketetapan
dari pengamatanmu kurang akurat, dan kamu sudah mengakui bahwa kami (dan
kami tidak rela kalau dinisbahkan kepada Hajuriyin atau yang lainnya
yang bukan syar’iy karena ini bukan akhlaq salaf ) tidak menerima
orang-orang yang tidak jelas dari segi manhaj dan akhlaqnya, dan kami
hanya menerima orang yang tsiqoh dan berani bertanggung jawab atas
usahanya, akan tetapi mengapa engkau paksakan celah yang kamu sendiri
telah tahu posisi kami untuk menjepit kami?? Sungguh ini suatu
kedholiman yang harus segera ditaubati.[Abu Turob]
([17]) Mungkin maksud Cak Dul: sejagat
([18]) Sengaja ana tidak menuliskan
dalil-dalilnya karena sudah terkenal, dan sebagiannya telah ana tulis di
syair ketiga “perbaiki Bekal Hari Pembalasan”.
([19]) Perkataan Zaidah bin Qudamah
-rohimahullohu- ini merupakan pengingkaran terhadap pertanyaan Zuhair
-rohimahullohu-. Manakala orang mulai terjatuh ke dalam bid’ah Tasyayyu’
dan yang sezaman dengan itu, mulailah para Imam Salaf menerapkan
seleksi seperti ini. Dan mereka punya dalil-dalil dari Qur’an dan
Sunnah. Maka bagaimana perkara ini terlewatkan oleh Zuhair?
([20]) Barangkali yang dimaksud Cak Dul Ghofur adalah: sejagat, bukan sejawat
([21]) Yaitu: perbuatannya mentahdzir umat dari markiz Dammaj dan caciannya terhadap Syaikhuna Yahya -hafizhohulloh-sumber
Mengingat Kembali
Kebusukan Abdul Ghofur Al Malangi
Ditulis oleh:
Abu Fairuz Abdurrohman Al Qudsy Al Jawy Al Indonesy
-semoga Alloh memaafkannya-
Darul Hadits Dammaj
Yaman
-Semoga Alloh menjaganya-
Pengantar Penulis
الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وآله وصحبه وسلم أما بعد:
Sesungguhnya Alloh ta’ala telah menjadikan hati manusia beraneka ragam,
ada lembut dan mudah menerima kebenaran, ada sangat keras dan tidak
bermanfaat baginya Al Qur’an, tidak bisa tunduk luluh kecuali setelah
dilebur dalam Jahannam. Di antara dua jenis hati tersebut ada sekian banyak tipe hati.
Alloh ta’ala berfirman kepada Bani Isroil:
ثُمَّ
قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ
أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ
الْأَنْهَارُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ
وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ الله وَمَا الله بِغَافِلٍ
عَمَّا تَعْمَلُون [البقرة/74]
“Kemudian
hati kalian menjadi kaku setelah itu. Maka hati kalian seperti batu
atau lebih kaku lagi. Dan sesungguhnya di antara bebatuan itu ada batu
yang memancar darinya sungai-sungai. Dan di antara bebatuan itu ada juga yang pecah lalu mengalir darinya air.
Dan di antara bebatuan itu ada juga yang jatuh karena takut pada Alloh.
Dan Alloh itu tidak lalai terhadap apa yang kalian kerjakan.”
Al Imam As Sa’diy berkata: “Kemudian hati kalian menjadi kaku setelah itu” yaitu: menjadi keras dan tebal, sehingga tidak berpengaruh padanya nasihat. “setelah itu”
yaitu setelah Alloh memberikan kenikmatan pada kalian dengan berbagai
kenikmatan yang agung, dan memperlihatkan pada kalian tanda-tanda
kebesaran-Nya, dan tidak sepantasnya untuk hati kalian itu menjadi kaku,
karena perkara yang kalian saksikan itu termasuk perkara yang
mengharuskan lunaknya hati dan ketaatannya. Kemudian Alloh menggambarkan
kekauan hati-hati mereka dengan: “seperti batu atau lebih kaku lagi” yang mana batu itu lebih kaku daripada besi, karena besi dan timah itu jika dileburkan di dalam api, dia akan melebur, berbeda dengan bebatuan. Firman Alloh “atau lebih kaku lagi” yaitu: hati kalian tidak kurang kakunya dibandingkan dengan kakunya bebatuan. Dan bukanlah makna “atau” di sini adalah “bahkan”. Kemudian Alloh menyebutkan keutamaan bebatuan daripada hati-hati Bani Isroil tadi, dengan berfirman: “Dan
sesungguhnya di antara bebatuan itu ada batu yang memancar darinya
sungai-sungai. Dan di antara bebatuan itu ada juga yang pecah lalu
mengalir darinya air. Dan di antara bebatuan itu ada juga yang jatuh
karena takut pada Alloh” maka dengan perkara-perkara
inilah bebatuan tadi lebih utama daripada hati kalian. Kemudian Alloh
ta’ala mengancam mereka dengan ancaman yang paling keras: “Dan Alloh itu tidak lalai terhadap apa yang kalian kerjakan” bahkan Alloh itu mengetahui amalan kalian dan mengawasinya, baik amalan yang besar ataupun yang kecil, dan Dia
akan membalasi kalian berdasarkan itu dengan balasan yang paling
sempurna dan paling cukup.” (“Taisirul karimir Rohman”/hal. 55).
Itu kisah
Bani Isroil, dan kita dilarang untuk menyerupai mereka atau meniru jejak
mereka. Al Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata dalam tafsir ayat ini berkata: “Oleh karena itulah Alloh melarang kaum Mukminin untuk menyerupai keadaan mereka. Alloh ta’ala berfirman:
﴿أَلَمْ
يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ الله وَمَا
نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ
مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ
مِنْهُمْ فَاسِقُونَ﴾ [الحديد/16].
“Apakah
belum tiba saatnya bagi orang-orang yang beriman untuk hati-hati mereka
itu tunduk kepada peringatan Alloh dan kepada kebenaran yang telah
turun? Dan jangan sampai mereka menjadi seperti orang-orang yang diberi
kitab sebelum mereka, lalu masa yang panjang berlalu atas mereka
sehingga hati mereka menjadi kaku, dan kebanyakan mereka itu fasiq.”
(“Tafsirul Qur’anil ‘Azhim”/1/hal. 304).
Demikian
itulah keadaan seorang hizbiy pengekor hawa nafsu semacam Abdul Ghofur
Al Malangiy, yang hatinya penuh dengan kesombongan, tak mau tunduk
kepada kebenaran setelah runtuhnya argumentasi dan dakwaannya oleh
hujjah-hujjah yang kokoh, tajam dan bercahaya. Dia lebih suka
memperpanjang perdebatan, jika kalah di suatu medan, tidak mau mengikuti
kewajiban dari Robbul ‘alamin untuk rujuk dan mengaku kalah, tapi
melompat ke perkara yang lain. ‘Aisyah رضي الله عنها berkata: Nabi صلى
الله عليه وسلم bersabda:
إن أبغض الرجال إلى الله الألد الخصم.
“Sesungguhnya
orang yang paling dibenci oleh Alloh Alloh adalah orang yang suka
bertengkar dan paling suka berpindah-pindah.” (HR. Al Bukhoriy (2457)
dan Muslim (6951)).
Al Imam An
Nawawiy رحمه الله berkata:(الألدّ) adalah orang yang sangat keras
perkengkarannya. Istilah ini diambil dari lafazh (لدودي الوادي) yaitu
dua tepi lembah, karena orang ini setiap kali kalah debat dengan suatu
argumentasi, dia akan mengambil sisi yang lain lagi. Adapun (الخصم)
adalah orang yang mahir bertengkar. Dan yang tercela adalah pertengkaran
dengan memakai kebatilan, dalam rangka menghilangkan kebenaran, atau
menetapkan kebatilan. Wallohu a’lam.” (“Al Minhaj”/An Nawawiy/ 16/hal.
219).
Maka tipe
orang macam ini jika tidak dirohmati Alloh, dirinya akan terus tercebur
ke dalam kebatilan dan hancur bersama dengan hancurnya kebatilan tadi.
Al Khothib Al Baghdadiy berkata: “Wajib bagi setiap orang yang telah
terbantah dengan kebenaran untuk menerimanya dan tunduk padanya, dan
janganlah berlama-lamanya dia dalam pertengkaran dan perdebatan
membawanya untuk masuk ke dalam kebatilan padahal dia tahu hal itu.
Alloh ta’ala telah berfirman:
﴿بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ﴾ [الأنبياء: 18]
“Bahkan
Kami melemparkan kebenaran kepada kebatilan sehingga kebenaran
menghancurkan kebatilan, maka tiba-tiba saja kebatilan itu sirna.”
.” (“Al Faqih Wal Mutafaqqih”/2/hal. 113/Maktabatut Tau’iyatil Islamiyyah).
Orang yang
mencermati tulisan-tulisan Abdul Ghofur malang ini, sepanjang
tahun-tahun pembelaannya terhadap hizbiyyin fujjar Mar’iyyin Luqmaniyyin
dan upaya kerasnya untuk merusak Salafiyyin, -dan sampai pada hari-hari
ini- di bulan suci Romadhon 1433H- akan mendapati benarnya apa yang
saya paparkan barusan.
Sebagai
contoh kecil, saya akan mengajak para pembaca mengingat kembali
kejahatan dan kebatilan orang ini di dalam tulisan dirinya
“Hampir-hampir Mereka… Jantan” dan alur bantahan saya terhadapnya dengan
judul “Apel Manalagi Buat Cak Malangi” dengan sedikit perbaikan.
Pembaca yang
mendapatkan taufiq dari Alloh ta’ala akan bisa melihat betapa halus dan
lembutnya langkah yang saya tempuh di awal-awal seri, dengan hujjah
yang sangat kuat dan disertai dengan ketawadhu’an, demi meninggikan
kalimat Alloh dengan cara yang lebih baik, dan demi menyadarkan si Dul
dari kesesatannya. Akan tetapi seiring dengan waktu, semakin nyatalah
bagi saya akan kuatnya cengkeraman setan dan hawa nafsu di benak orang
ini, dan nampak sekali kesombongannya sehingga pada seri-seri berikutnya
saya terpaksa menampilkan tamparan dan cakaran, dan sebagiannya saya
membalikkan kosa-kata keji yang dipakai orang zholim ini sendiri
terhadap Ahlussunnah.
Dan di akhir risalah akan saya tampilkan rangkuman catatan poin-poin keburukan Abdul Ghofur Al Hizbiy, insya Alloh.
Taufiq saya hanyalah datang dari Alloh semata. Selamat menyimak.
Dammaj, 15 Romadhon 1433 H.
Daftar Isi
Pengantar Penulis. 2
Apel Manalagi Buat Cak Malangi (seri 1)5
Kesiapan Untuk Mengikuti Kebenaran. 5Meskipun Pahit dan Menyakitkan. 5
Kata Pengantar Seri Satu. 6
Bab Satu: Kita Diciptakan Untuk Beribadah Kepada Alloh ta’ala Semata. 6
Bab Dua: Kesiapan Memikul Konsekuensi 9
Bab Tiga: Sedikit Kesalahan Pada Judul 11
Bab Empat: Kasus Ucapan: “Dijamin Kebenarannya”. 13
Bab Lima: Kasus Firman Hidayat 20
Bab Enam: Istilah “Pusat Dakwah Salafiyyah Paling Murni Sedunia”. 32
Bab Tujuh: Akhunal Fadhil Muhammad Bin Umar -hafizhohulloh- Tidak Ngibul 35
Apel Manalagi Buat Cak Malangi (seri 2)42
Keluarnya Seseorang dari As Sunnah,42
Mungkinkah? Dan Kapankah?. 42
Kata Pengantar Seri Dua. 43
Bab Satu: Kedangkalan Ilmu Pemilik Sepatu Merah Jambu. 43
Bab Dua: Kami Mencela Para Mubtadi’ah, Bukan Mencela Ulama Ahlussunnah. 44
Bab Tiga: Siapakah Dari Umat Muhammad -shollallohu ‘alaihi wasallam- Yang Ma’shum?. 45
1. Dalil Al Qur’an dan As Sunnah. 45
2. Dalil kenyataan. 47
Bab Empat: Pengertian As Sunnah dan Seruan Untuk Memegangnya Dengan Kokoh. 49
Pasal Satu: Pengertian As Sunnah. 49
Pasal Dua: Seruan Untuk Memegang Teguh As Sunnah. 50
Bab Lima: Kapankah Seseorang Dihukumi Telah Keluar dari Ahlussunnah?. 53
Pasal Satu: Seseorang Dihukumi Menjadi Mubtadi’ Jika Menyelisihi Kaidah Umum, atau Banyak Menyelisihi Perkara Cabang. 53
Pasal Dua: Pengertian Perkara Pokok. 54
Pasal Tiga: Agama memang bertingkat-tingkat 56
Bab Enam: Penyelisihan Kedua Anak Al Mar’iy dan Pengikutnya Terhadap Kewajiban Menjaga Persatuan 56
Bab Tujuh: Dua Pokok Pemahaman Dalam Menjatuhkan Hukuman. 70
Bab Delapan: Pokok-pokok Salafiyyah Yang Lain Yang Diselisihi Anak Al Mar’iy dan Pengikutnya 71
Bab Sembilan: Sebagian Alamat Hizbiyyah Anak Al Mar’iy dan Pengikutnya. 72
Bab Sepuluh: Berbagai Perbuatan Kedua Anak Mar’iy dan Pengikutnya Itu Merupakan Ihdats Terhadap Dakwah 76
Bab Sebelas: Bayyinah-bayyinah Tadi Sampai Sekarang Tidak Bisa Dipatahkan oleh Para Penentang Dengan Hujjah Sebagaimana Mestinya. 77
Bab Dua Belas: Hukum Yang Dibangun Dengan Hujjah Yang Kuat Tidak Boleh Dianggap Sebagai Cercaan Kepada Ulama Ahlussunnah. 79
Bab Tiga belas: Tantangan Buat Cak Dul Untuk Meruntuhkan Bayyinah-bayyinah Tadi dengan Hujjah 79
Bab Empat Belas: Siapakah Sebenarnya Pihak Yang Menyetarakan Fatwa Ulamanya Dengan Al Qur’an? 81
Bab Lima Belas: Siapakah Yang Berhak Menjadi Keledai?. 87
Apel Manalagi Buat Cak Malangi (seri 3)90
Kesembronoan Abdul Ghofur Al Malangiy. 90
Dalam Kasus Syaikh Salim Al Hilaliy. 90
Kata Pengantar Seri Tiga. 91
Bab Satu: Masalah Kebersamaan Asy Syaikh Salim Al Hilaliy -hafizhohulloh- dengan Sururiyyin dan Turotsiyyin 92
Bab Dua: Tuduhan Pencurian kitab “Ash Shobr”. 100
Bab Tiga: Tuduhan Penyalahgunaan dana dari Ihya’ut Turots. 111
Apel Manalagi Buat Cak Malangi (seri 4)113
Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy Alim Salafiy,113
Adapun Abdulloh Alu Mar’i Itu Hizbiy. 113
Kata Pengantar Seri Empat. 114
Bab Satu: Dukungan Abdulloh Al Mar’i terhadap Abul Hasan Al Mishriy. 115
Bab Dua: Keahlian Mengambil Uang Orang Lain Dengan Batil Atas Nama Dakwah. 129
Bab Tiga: Teknik Khusus Hizbiyyun: Ceramah Lalu Mengemis. 142
Bab Empat: Abdulloh Mar’i Lebih Pantas Jadi Juragan Daripada Menjadi Sosok Seorang Ulama dakwah Salafiyyah 144
Bab Lima: Mengapa Asy Syaikh Robi’ –hafizhohulloh- Tidak Dijuluki Bagian Dari “Mar’iyyin”?. 145
Apel Manalagi Buat Cak Malangi (seri 5)151
Kebatilan Ubaid Al Jabiriy Tidak Dipungkiri,151
Yang Membongkarnya Justru Dimusuhi151
Kata Pengantar Seri Lima. 152
Bab Satu: Abdul Ghofur Tidak Adil Dalam Memaparkan Kasus. 152
Bab Dua: Si Dul Tergesa-gesa Menilai Sebelum Tahu Duduk Permasalahan. 153
Bab Tiga: Ahmad Asy Syihhiy, Korban fatwa Ubaid Al Jabiriy. 154
Kesimpulan Penting. 162
Catatan Perbedaan antara Abdul Ghofur Al Hizbiy dengan Ahlussunah. 162
Daftar Isi165
Apel Manalagi Buat Cak Malangi (seri 1)
Kesiapan Untuk Mengikuti Kebenaran
Meskipun Pahit dan Menyakitkan
Korektor:
Abu Turob Saif bin Hadhor Al Jawy Al Indonesy
-semoga Alloh memaafkannya-
Ditulis oleh:
Abu Fairuz Abdurrohman Al Qudsy Al Jawy
Al Indonesy
-semoga Alloh memaafkannya-
Darul Hadits Dammaj Yaman
-Semoga Alloh menjaganya-
بسم الله الرحمن الرحيم
Kata Pengantar Seri Satu
الحمد لله واشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله، اللهم صلى الله عليه وآله وسلم وسلم على محمد وآله وسلم، أما بعد:
Telah datang
kepada kami naskah tulisan dari seorang Muslim yang beridentitas Abu
Dzulqornain Abdul Ghofur dari kota Malang, yang berisi penuh dengan caci-makian kepada Salafiyyin Dammaj dan yang bersama dengan mereka.
Juga berisi kesalahpahaman dan pengkaburan fakta. Namun ada juga
koreksian terhadap kesalahan yang dilakukan oleh sebagian ikhwan kita.
Maka sebagian dari ikhwan meminta ana -waffaqoniyallohu- untuk
menanggapi surat tersebut, menjawab pertanyaannya, dan menjawab
kritikannya, dan meluruskan perkara-perkara yang salah.
Berhubung
banyaknya sisi yang dibidik, maka ana -waffaqoniyallohu- pun membagi
tulisan ini dalam beberapa seri ( إن شاء الله تعالى). Dan berhubung ini
adalah awal tegur sapa ana -waffaqoniyallohu- dengan Cak Dul Ghofur
-waffaqohullohu-, ana akan berusaha untuk menempuh gaya bahasa yang halus ( إن شاء الله تعالى).
Ana berharap
jawaban ini bisa bermanfaat untuk beliau, dan keumuman
Muslimin-Salafiyyin. Hanya kepada Alloh kita mohon taufiq dan kelurusan.
Bab Satu:
Kita Diciptakan Untuk Beribadah Kepada Alloh ta’ala Semata
Pada seri
yang pertama ini penulis mengajak seluruh pembaca untuk mengingat
kembali bahwasanya kita diciptakan dan dihadirkan di dunia bukanlah
untuk main-main, ataupun banyak mengobrol, ataupun menghabiskan waktu
dengan nongkrong di internet.
Alloh ta’ala berfirman:
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ [المؤمنون/115]
“Maka
apakah kalian mengira bahwasanya kami menciptakan kalian untuk
kesia-siaan belaka, dan bahwasanya kalian tak akan dikembalikan kepada
Kami?” (QS. Al Mukminun: 115).
Justru kita
semua diciptakan untuk suatu amanah yang agung, yang banyak makhluk yang
perkasa takut untuk memikulnya. Alloh ta’ala berfirman:
إِنَّا
عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ
فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا
الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا *
لِيُعَذِّبَ الله الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ
وَالْمُشْرِكَاتِ وَيَتُوبَ الله عَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
وَكَانَ الله غَفُورًا رَحِيمًا
”Sesungguhnya
Kami telah menawarkan amanah ini kepada langit-langit, bumi dan
gunung-gunung, tapi semuanya enggan untuk memikulnya dan takut
terhadapnya. Dan amanah itu dipikul manusia. Sesungguhnya dia itu sangat
zholim lagi sangat bodoh. Ini Alloh lakukan dalam rangka menyiksa para
munafiq yang laki-laki maupun yang perempuan, dan juga orang musrik yang
laki-laki maupun yang perempuan, dan agar Alloh menerima tobat
orang-orang yang beriman yang laki-laki maupun yang perempuan. Dan Alloh
itu Ghofur (Maha Pengampun) dan Rohim (Maha Menyayangi para hamba).” (QS. Al Ahzab: 72-73).
Al Imam Ibnu Katsir –rohimahulloh- setelah menyebutkan beberapa pendapat tentang makna “amanah” di sini, beliau berkata:
هي
متفقة وراجعة إلى أنها التكليف، وقبول الأوامر والنواهي بشرطها، وهو أنه
إن قام بذلك أثيب، وإن تركها عُوقِبَ، فقبلها الإنسان على ضعفه وجهله
وظلمه، إلا مَنْ وفق الله، وبالله المستعان.
”Seluruh
pendapat ini tadi bertemu dan kembali kepada makna pembebanan, dan
penerimaan perintah dan larangan disertai dengan syaratnya. Syarat
tersebut adalah: jika dia melaksanakannya sebagaimana mestinya, maka dia
akan diberi pahala. Tapi jika dia meninggalkannya, maka dia akan
dihukum. Maka manusia menerima amanah tadi dalam keadaan dia itu lemah,
bodoh, dan zholim, kecuali orang yang diberi taufiq oleh Alloh ta’ala.
Hanya kepada Alloh sajalah kita mohon pertolongan.” (“tafsirul Qur’anil
‘Azhim”/6/hal. 489).
Dan beban syariat kembali kepada makna ibadah, yang untuk itu kita diciptakan. Alloh ta’ala berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ [الذاريات/56]
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56).
Dunia ini merupakan medan ujian untuk membuktikan siapakah yang terbaik amalannya. Alloh ta’ala berfirman:
إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا [الكهف/7]
”Dan
sungguh kami menjadikan apa saja yang di atas bumi itu sebagai
perhiasan untuk kami menguji mereka siapakah yang terbaik amalannya.” (QS. Al Kahfi: 7).
Dan sungguh
ujian itu amat dahsyat, berhasil memisahkan orang yang jujur dan yang
tidak jujur dalam memikul amanah tadi. Alloh ta’ala berfirman:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آَمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ *
وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ الله
الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ [العنكبوت/2، 3]
“Apakah
manusia mengira bahwasanya mereka itu dibiarkan mengatakan “Kami
beriman” dalam keadaan mereka itu tidak diuji? Sungguh Kami telah
menguji orang-orang sebelum mereka sebelum mereka sehingga Alloh
mengetahui orang-orang yang jujur dan mengetahui para pendusta.” (QS. Al ‘Ankabut: 2-3).
Al Imam Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- berkata:
البلايا تظهر جواهر الرجال وما أسرع ما يفتضح المدعي
“Ujian dan
cobaan itu akan menampakkan jati diri orang-orang. Maka alangkah
cepatnya orang yang mengaku-aku itu terbongkar keasliannya.” (“Badai’ul
Fawaid”/3/hal. 751).
Dan dengan
ujian beban syariat dengan berbagai konsekuensinya tadi terpisahlah
manusia menjadi tiga kelompok: Mukminin, Munafiqin, dan Musyrikin. Kaum
Mukminin dikarenakan kesetiaan mereka kepada Alloh, maka merekapun
mendapatkan rohmat-Nya. Dan rohmat yang terbesar adalah ridho Alloh dan
Jannah-Nya. Memang jarang ada yang sempurna dalam melaksanakan amanah
tadi. Tapi Alloh telah menyiapkan ampunan-Nya buat para Mukminin yang
punya usaha untuk memenuhi tugasnya.
Adapun kaum
Musyrikin, dikarenakan pembangkangan mereka terhadap amanah dari Alloh
tadi, maka merekapun disiksa. Demikian pula para Munafiqin yang secara
lahiriyah mengaku bersama Mukminin, tapi secara batiniyah justru bersama
Musyrikin. (lihat kembali tafsir Ibnu Katsir, dan lainnya terhadap
akhir surat Al Ahzab).
Jadi kesimpulannya: kita diciptakan untuk beribadah kepada Alloh ta’ala,
baik itu berupa amalan hati, lisan ataupun anggota badan. Ucapan
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rohimahulloh- dalam bab ini telah
terkenal.
Dan amalan yang terbesar adalah: Iman kepada Alloh ‘Azza Wajalla. Abu Huroiroh -rodhiyallohu ‘anhu- berkata:
سئل
رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: أي الأعمال أفضل؟ قال: «إيمان بالله».
قال: ثم ماذا؟ قال: «الجهاد فى سبيل الله». قال: ثم ماذا؟ قال: «حج مبرور».
“Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- ditanya: “Amalan apakah yang paling utama?” Beliau menjawab,”Iman kepada Alloh.” Lalu penanya berkata,”Lalu apa?” beliau bersabda: “Jihad di jalan Alloh.” Lalu penanya berkata,”Lalu apa?” beliau bersabda: “Haji yang diterima.” (HR. Al Bukhory dan Muslim).
Lalu perlu
kita ketahui bersama bahwasanya keimanan seseorang itu itu tidak
sempurna sampai dia itu mencintai sesuatu karena Alloh, dan membenci pun
karena Alloh. Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda:
« من أحب لله وأبغض لله وأعطى لله ومنع لله فقد استكمل الإيمان ».
“Barangsiapa
mencintai karena Alloh, membenci karena Alloh, memberi karena Alloh,
dan menahan pemberian karena Alloh, maka sungguh dia telah
menyempurnakan keimanannya.” (HR. Abu Dawud (4/354), Al Imam Al Albany -rohimahullohu- berkata: shohih dengan gabungan jalannya. (“Ash Shohihah” no. 380)
Maka dari
sinilah kita tahu bahwasanya manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah AL WALA
(loyalitas) WAL BARO (dan kebencian) itu merupakan inti dari agama ini.
Seseorang yang mengaku cinta kepada Alloh ta’ala, maka dia wajib untuk
mencintai apa yang dicintai-Nya, dan mencintai para wali-Nya. Dia juga
wajib membenci apa yang dibenci-Nya, dan membenci para musuh-Nya. Dan
ini membutuhkan mental kuat untuk melaksanakannya karena seringkali akan
berbenturan dengan kesenangan pribadi. Dan di sinilah kekuatan iman
tentara Alloh dibuktikan. Alloh ta’ala berfirman:
لَا
تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِالله وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ يُوَادُّونَ
مَنْ حَادَّ الله وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آَبَاءَهُمْ أَوْ
أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُولَئِكَ كَتَبَ فِي
قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ
جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ
الله عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُولَئِكَ حِزْبُ الله أَلَا إِنَّ حِزْبَ
الله هُمُ الْمُفْلِحُونَ [المجادلة/22]
“Tidaklah
engkau akan mendapati suatu kaum yang beriman pada Alloh dan hari Akhir
itu saling mencintai dengan orang yang menentang Alloh dan Rosul-Nya,
meskipun mereka itu ayah mereka, atau anak mereka, atau saudara mereka,
atau kerabat mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah Alloh tetapkan
keimanan ke dalam hati mereka, dan Alloh perkuat mereka dengan
pertolongan dari-Nya. Dan Alloh akan memasukkan mereka ke dalam
Jannah-jannah yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di
dalamnya, Alloh ridho kepada mereka, dan mereka pun ridho kepada-Nya.
Mereka itulah tentara Alloh. Ketahuilah bahwasanya tentara Alloh itu
yang beruntung.” (QS. Al Mujadilah: 22).
Bab Dua:
Kesiapan Memikul Konsekuensi
Jadi perkara agama ini bukan ringan? Memang. Alloh ta’ala berfirman:
إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا [المزمل/5]
“Sungguh Kami akan menurunkan kepadamu ucapan yang berat.” (QS. Al Muzzammil: 5).
Alloh subhanahu berfirman:
لَوْ
أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآَنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا
مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ الله وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا
لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
“Andaikata
Kami turunkan Al Qur’an ini kepada suatu gunung, pastilah kamu akan
melihatnya merunduk dan pecah karena takut kepada Alloh. Dan permisalan
tersebut Kami adakan buat manusia agar mereka berpikir.” (QS. Al Hasyr: 21).
Zaid bin Tsabit –rodhiyallohu ‘anhu- menceritakan kisah turunnya ayat:
لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ الله [النساء/95]
Beliau berkata:
وفخذه على فخذي ، فثقلت علي حتى خفت أن ترضّ فخذي
“Waktu itu
paha beliau ada di atas pahaku, maka terasalah beratnya paha beliau
sampai-sampai aku khawatir pahaku akan retak.” (HR. Al Bukhory).
Bukannya
penulis bermaksud membikin susah ataupun menakut-nakuti. Alloh telah
menjelaskan bahwasanya agama itu ringan, dan bahwasanya setiap hamba itu
dibebani sesuai dengan kemampuannya. Hanya saja penulis perlu
mengingatkan agar semuanya memiliki kesiapan mental untuk memikul agama
ini sebagaimana mestinya, karena sudah banyak orang yang mengaku
beriman, atau dia itu Salafy, atau Sunny, tapi di tengah jalan
bertumbangan dan lari dari shirothol mustaqim manakala dia mendapati
berbagai konsekuensi yang tak terduga.
Di antara
konsekuensi tersebut adalah manakala seseorang itu semakin memahami
Islam, dan semakin paham halal dan harom, terkadang dia mendapati
bahwasanya apa yang dilakukannya kemarin adalah salah. Maka sanggupkah
dia untuk bertobat dan memperbaiki jalan yang kemarin ditempuhnya, dalam
keadaan orang-orang menganggapnya aneh karena merubah jalan yang biasa
ditempuh?
Atau mungkin
dia di atas kebenaran, tapi orang-orang yang dicintainya
menyelisihinya, menentangnya dan bahkan memusuhinya. Maka sanggupkah dia
menegakkan cinta dan benci karena Alloh, bersatu dengan orang yang
setia kepada Alloh, dan berpisah dengan orang yang memusuhi
syari’at-Nya? Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda:
« سبعة يظلهم الله فى ظله يوم لا ظل إلا ظله: … ورجلان تحابا فى الله اجتمعا عليه وتفرقا عليه ».
“Ada
tujuh golongan yang akan dinaungi Alloh di bawah naungan-Nya pada hari
yang saat itu tiada naungan selain naungan-Nya: … dua orang yang saling
cinta karena Alloh, berkumpul karena Alloh, dan berpisah pun
karena-Nya..” (HR. Al Bukhory dan Muslim dari Abu Huroiroh -rodhoyallohu ‘anhu-).
Dan dia juga harus siap untuk dikoreksi berdasarkan dalil dan bukti, jika mengalami kekeliruan.
Dan masih banyak konsekuensi yang lain yang akan dia temui di sepanjang jalan hidupnya.
Akan tetapi
hendaknya dia berbesar hati, bahwasanya semakin dia bertekad mengikuti
jalan Alloh dan berusaha istiqomah di atasnya, maka semakin banyak
pertolongan dan curahan kasih sayang dari Robbnya. Alloh ta’ala
berfirman:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ الله لَمَعَ الْمُحْسِنِين [العنكبوت/69]
“Dan
orang-orang yang bersungguh-sungguh mencari jalan Kami, pastilah kami
akan menunjuki mereka jalan-jalan keridhoan Kami. Dan sungguh Alloh
bersama orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Al ‘Ankabut: 69).
Bab Tiga:
Sedikit Kesalahan Pada Judul
Pada sampul
buku Cak Dul Ghafur tergambar Sepatu PDL yang gagah, lalu di sampingnya
ada sepatu hak tinggi perempuan berwarna merah muda, dan juga gambar dua
kuntum mawar merah jambu. Judulnya: “Hampir-hampir Saja … Mereka
Jantan.” Lalu dibawahnya ditulis dengan bahasa Arab:(كاد أن يكونوا رجالا)
Sepertinya pada kesempatan ini ana ingin mengajak Cak Dul untuk sedikit
muroja’ah masalah nahwu, biar nggak jenuh ngurusi hizbiyyin melulu.
(كاد) merupakan fi’il yang menunjukkan makna “hampir-hampir”, amalannya
adalah me-rofa’-kan isimnya, dan me-nashob-kan khobarnya, karena memang
dia itu dalam hal ini seperti ( كان). Al Imam Ibnu Malik -rohimahullohu-
berkata:
ككان كاد وعسى
Al Makudiy -rohimahullohu- berkata:
يعني : أن (كاد) و(عسى) مثل (كان) في كونها ترفع الاسم وتنصب الخبر إلا أن خبر كاد وعسى لا يكون في الغالب إلا فعلا مضارعا
Yaitu:
bahwasanya ( كاد) dan ( عسى) itu seperti ( كان) dalam keadaannya
me-rofa’-kan isimnya, dan me-nashob-kan khobarnya. Hanya saja khobar (
كاد) dan ( عسى) seringnya hanyalah berupa fi’il mudhori’. (“Syarhul
Makudiy ‘alal Alfiyah”/hal. 69).
Jika memang
demikian, maka hukum isim (كاد) dan khobarnya -yang berbentuk fi’il
mudhori’- itu sama dengan hukum asli mubtada’ dan khobar, yaitu dari
sisi harus ada robith (pengikat) pada khobar yang menggandengkannya
dengan mubtada’nya. Muhammad Al Ahdal -rohimahullohu- berkata tentang
khobar yang berbentuk jumlah:
ولا بد من اقترانها برابط يربطها بالمبتدأ، وإلا كانت أجنبية عنه فلا يصح الإخبار بها عنه .
“Dan jumlah
tadi harus diiringi dengan suatu robith yang mengikatnya dengan dengan
mubtada’. Jika tidak demikian maka jadilah jumlah tadi adalah sesuatu
yang asing dari mubtada’nya sehingga tidak sah untuk menjadi khobar
baginya.” Lalu beliau menyebutkan perincian yang lain. (rujuk “Al
Kawakibud Durriyyah”/hal. 186).
Lalu beliau -rohimahullohu- berkata:
ثم الأصل في الرابط كونه ضميرا مذكورا كان أو محذوفا
“Kemudian
pada asalnya: robith (pengikat) tadi itu berbentuk dhomir, baik dia itu
tersebutkan ataupun terhapuskan.” (“Al Kawakibud Durriyyah”/hal. 186).
Demikian
pula isim (كاد) dan khobarnya, harus ada pengikat antara khobar dan
isimnya. Dan seringkali pengikat tersebut adalah dhomir pada khobar yang
kembali pada isimnya. Contohnya adalah pada firman Alloh ta’ala:
إِنْ كَادَ لَيُضِلُّنَا عَنْ آَلِهَتِنَا [الفرقان : 42]
Khobarnya
adalah jumlah fi’liyyah ( ليضلنا). Pengikatnya dengan isimnya adalah
dhomir mustatir pada fi’il tersebut yang taqdirnya adalah ( هو), dia
kembali pada isim ( كاد) yaitu ( هو) juga.
Demikian pula firman Alloh ta’ala:
يَكَادُ الْبَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُم [البقرة : 20]
Khobarnya
adalah jumlah fi’liyyah (يخطف). Pengikatnya dengan isimnya adalah dhomir
mustatir pada fi’il tersebut yang taqdirnya adalah ( هو), dia kembali
pada isim ( كاد) yaitu ( البرق) dan ini cocok karena dia itu mufrod.
Demikian pula firman Alloh ta’ala:
وَمَا كَادُوا يَفْعَلُون [البقرة : 71]
Khobarnya
adalah jumlah fi’liyyah (يفعلون). Pengikatnya dengan isimnya adalah
wawul jama’ah pada fi’il tersebut, dia kembali pada isim ( كاد) yaitu
wawul jama’ah juga.
Demikian pula pada firman Alloh ta’ala:
وَإِنْ كَادُوا لَيَفْتِنُونَك [الإسراء : 73]
Khobarnya
adalah jumlah fi’liyyah (يفتنونك). Pengikatnya dengan isimnya adalah
wawul jama’ah pada fi’il tersebut, dia kembali pada isim ( كاد) yaitu
wawul jama’ah juga.
Demikian pula pada firman Alloh ta’ala:
كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا [الجن : 19]
Khobarnya
adalah jumlah fi’liyyah (يكونون). Pengikatnya dengan isimnya adalah
wawul jama’ah pada fi’il tersebut, dia kembali pada isim (كاد) yaitu
wawul jama’ah juga.
Dengan penjelasan ini semua, berarti Cak Dul perlu mengoreksi judul tersebut menjadi: (كادوا أن يكونوا رجالا)
Cak Dul,
bukannya ana hendak cari-cari kesalahan kecil. Andaikata kesalahan tadi
ada di sela-sela pembahasan yang ada di perut buku, mungkin ana tak akan
mempermasalahkan. Tapi berhubung kesalahan tadi cukup nyata, ada pada
halaman cover, maka sebaiknya segera diumumkan koreksiannya biar tidak malu-maluin.
Jika
Cak Dul melaksanakan nasihat ana ini, maka Cak Dul cukup jantan, tapi
jika tidak, maka tolong dipakai sendiri sepatu merah jambunya beserta
dua kuntum mawarnya.
O ya satu
lagi, tapi bukan dalam rangka menyalahkan. Antum menulis judul tadi:
(كاد أن يكونوا رجالا). Antum menjadikan (أن) untuk me-nashobkan khobar
(كاد). Ana tidak menyalahkan, hanya penggunaannya itu amatlah jarang di
kalangan Arab. Coba lihat contoh-contoh di Al Qur’an yang mana dia
merupakan bahasa Arab yang paling fasih. Untuk menyingkat waktu, ana
persilakan Antum merujuk Alfiyah Ibnu Malik dan seluruh syarohnya.
Misalnya: (“Syarhul Makudy ‘alal Alfiyah”/hal. 69).
Ini sekedar faidah, bukan menyalahkan. Dan semoga sebelum risalah ini sampai kepada Cak Dul, sudah ada perbaikan.
Bab Empat:
Kasus Ucapan: “Dijamin Kebenarannya”
Di antara
kritikan pedas yang dilontarkan oleh Cak Dul Ghofur Al Malangiy kepada
Asy Syaikh An Nashihul Amin Yahya bin Ali Al Hajury –hafizhohulloh-
adalah bahwasanya beliau menyatakan bahwasanya tulisan-tulisan dari Dammaj yang menjelaskan hizbiyyah Abdurrohman Al ‘Adany telah dijamin kebenarannya.
Berdasarkan ucapan yang disangkanya diucapkan oleh Asy Syaikh Yahya
inilah maka Cak Dul menyerang dan mencaci-maki beliau habis-habisan,
menggambarkan bahwasanya beliau menyelisihi firman Alloh ta’ala:
الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ [البقرة/147]
“Kebenaran itu dari Robbmu, maka janganlah sekali-kali engkau termasuk orang-orang yang meragukannya.” (QS. Al Baqoroh: 47)
Dan juga firman Alloh ta’ala:
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى * إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى [النجم/3، 4]
“Dan tidaklah apa yang diucapkan itu berasal dari hawa nafsunya. Ucapannya itu tidak lain melainkan wahyu yang diwahyukan.” (QS. An Najm: 3-4).
Dan membawakan hadits:
كل ابن آدم خطاء وخير الخطائين التوابون
“Setiap anak Adam itu banyak salah. Dan sebaik-baik orang yang salah adalah orang-orang yang banyak bertobat.” (HR. At Tirmidzy (2499) dari Anas bin Malik –rodhiyallohu ‘anhu-).
Jawaban ana adalah sebagai berikut:
Jawaban Pertama:
ucapan “dijamin kebenarannya” bukanlah dari Syaikhuna Yahya –hafizhohulloh-. Ucapan yang asli adalah:
الملازم التي تخرج من عندنا ملازم موثقة
yang
pendekatan artinya adalah: “Malzamah-malzamah yang keluar dari sisi
kami, malzamah-malzamah yang telah ditsiqohkan (bisa dipercaya).”
Tapi teman kami (Akhuna Muhammad Irham (Demak) –hafizhohulloh- ) salah dalam mengartikan sehingga menuliskan: “malzamah-malzamah yang telah dikoreksi dan dijamin kebenarannya“. Terdapat perbedaan yang besar antara kedua makna tadi, dan ana berharap Cak Dul tidak memaksakan diri untuk menyamakannya.
Kami bisa
memaklumi jika Cak Dul menyatakan bahwa penerjemahan yang pertama tadi
punya konsekuensi yang berat, seakan-akan Syaikhuna Yahya
–hafizhohulloh- menyombongkan diri dan menjadikan malzamah-malzamah dari
Markiz Salafiyyah Dammaj melampaui karya tulis manusia, atau bahkan
sejajar dengan Kitabulloh dan kalam Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam-.
Namun beban kesalahan ini adalah di pundak sang penerjemah,
bukan di pundak beliau. Maka wajib bagi sang penerjemah untuk
meralatnya. Dan (الحمد لله) Akhuna Irham –hafizhohulloh- adalah orang yang senang menerima nasihat. Dan beliau menyatakan sudah siap untuk meralatnya. Kami juga turut memikul kesalahan karena belum sempat memeriksanya.
Jawaban kedua:
sebagaimana
Cak Dul Ghofur menembak kami dengan hadits: (كل ابن آدم خطاء), maka
dengan hadits ini pula kami berdalil. Akhuna Irham (dan kami semua masih
dari keturunan Adam, makanya wajar saja jika terjatuh di dalam
kesalahan –walau telah berhati-hati-([1]).
Dan kasus ini -demi Alloh- bukanlah karena kesengajaan. Dan tidaklah
masuk akal bahwasanya beliau (dan kami semua) sengaja untuk merubah
lafazh dan makna ucapan Syaikhuna Yahya –hafizhohulloh- untuk
disejajarkan dengan Kitabulloh ataupun Sunnah Nabi -shollallohu ‘alaihi
wasallam-. Dan perkara ketidaksengajaan, Rosululloh -shollallohu ‘alaihi
wasallam- telah bersabda:
ما أخشى عليكم الفقر ولكن أخشى عليكم التكاثر وما أخشى عليكم الخطأ ولكن أخشى عليكم العمد
“Tidaklah aku mengkhawatirkan
terhadap kalian kemiskinan, akan tetapi aku mengkhawatirkan kalian
berlomba-lomba dalam memperbanyak keduniaan. Dan tidaklah aku
mengkhawatirkan terhadap kalian kesalahan yang tak disengaja, akan
tetapi aku mengkhawatirkan terhadap kalian kesalahan yang disengaja.”
(HR. Ahmad (8060) dari Abu Huroiroh -rodhiyallohu ‘anhu-, dihasankan
oleh Al Imam Al wadi’iy -rohimahulloh- dalam “Ash Shohihul Musnad”
(1349)).
Meskipun demikian tetap saja kesalahan
yang terjadi itu mengundang keprihatinan dan kesedihan kami. Makanya
kami ucapkan sebagaimana kandungan firman Alloh ta’ala:
وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ
إِلَّا أَنْ قَالُوا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي
أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا [آل عمران/147]
“Dan tiada ucapan mereka
selain berkata,”Wahai Robb kami, ampunilah kami dosa-dosa kami dan sikap
kami yang melampaui batas dalam urusan kami, kokohkanlah telapak kaki
kami.” (QS Ali ‘Imron: 147).
Maka dengan risalah ini kami
umumkan kekeliruan tersebut dan sekaligus ralatnya. Demikian pula Akhuna
Irham –hafizhohulloh- akan menulis ralat tersebut ( إن شاء الله).
Dan semoga kami masuk ke dalam kandungan
hadits yang jauh lebih shohih daripada hadits yang dipakai Cak Dul
Ghofur. Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa sallam- meriwayatkan dari
Robbnya ‘Azza wajalla yang berfirman:
يَا عِبَادِى إِنَّكُمْ
تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ
جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِى أَغْفِرْ لَكُمْ
“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya
kalian melakukan kesalahan di waktu malam dan siang. Dan Aku mengampuni
dosa-dosa semuanya. Maka mohonlah kalian ampunan kepada-Ku, niscaya Aku
akan mengampuni kalian.” (HR. Muslim (6737) dari Abu Dzarr rodhiyallohu ‘anhu).
Maka kami
mohon ampun kepada Alloh atas seluruh kesalahan kami, semoga Alloh
mengampuni kami, sebagaimana akhir dari hadits di atas.
Dan kami bersyukur kepada pihak-pihak yang menunjukkan kepada kami
kesalahan-kesalahan kami, meskipun dengan cara keras. ‘Umar ibnul
Khoththob -rodhiyallohu ‘anhu- berkata dalam suratnya yang terkenal:
ومراجعة الحق خير من التمادى فى الباطل
“Dan rujuk
kepada kebenaran itu lebih baik daripada berlama-lama di dalam
kebatilan.” (HR. Al Baihaqy (20324), Ibnu ‘Asakir (32/hal. 70) dan yang
lainnya. Al Imam Ibnul Qoyyim -rohimahulloh- berkata: “Ini adalah kitab
(surat) yang agung, yang telah diterima oleh umat.” (“I’lamul
Muwaqqi’in” (1/hal. 110). Syaikhuna Yahya –hafizhohulloh- berkata: “Para
ulama telah bersepakat untuk menerima surat ‘Umar ini.”)
Semoga Alloh
menjadikan Akhuna Irham -hafizhohulloh- (dan kami semua) menjadi
orang-orang yang bertaqwa, masuk dalam kandungan firman Alloh ta’ala :
إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ [الأعراف/201، 202]
“Sesungguhnya orang-orang
yang bertaqwa itu jika tertimpa gangguan dan godaan dosa dari setan
mereka segera ingat dan sadar lalu bertobat. Maka tiba-tiba saja mereka
jadi sehat dan lurus kembali([2]).” (QS. Al A’rof: 201-202).
Dan tidak diamnya Alloh ta’ala terhadap kesalahan yang kami lakukan
semoga menjadi suatu pertanda besarnya perhatian dan pemeliharaan Alloh
buat kami.
Jawaban ketiga:
kami tahu Cak, bahwasanya Antum adalah pengikut hizby Luqmaniyyah-Mar’iyyah. Dan
salah satu karakter hizby ini (dan keumuman hizbiyyun) adalah: keras
kepala dan tidak tunduk kepada kebenaran walaupun disertai dengan hujjah
yang terang. Maka sampai kapankah Antum –Cak Dul- ikut-ikutan
bersombong di muka bumi dan tidak mau mengikuti hujjah yang amat terang
yang dilengkapi dengan dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah dengan
manhaj Salaf, hanya karena taqlid (teriak: “Syaikh Fulan dan Imam Fulan
belum bicara!”)? Kapankah Antum mau mengikuti hadits yang Antum sukai:
كل ابن آدم خطاء وخير الخطائين التوابون
Cak, seperti inikan jauh dari ketaqwaan?
Untuk apa berlama-lama dalam kebatilan?
Perhatikanlah, Cak. Hadits Antum dan dalil kami sekarang menghantam Antum semua.
Jawaban keempat:
di antara karakter hizby Luqmaniyyah adalah: marah terhadap orang yang mengkritik dengan keras, meskipun isi kritikannya benar.
Mereka teriak: “Harus pakai uslub!”, “Uslub kalian keras, pantasan
semuanya lari.” (الحمد لله) pihak kami –Salafiyyun di Dammaj dan
semisalnya- telah membuktikan kepada Alloh bahwasanya kami telah
menerima kritikan yang benar sekalipun pedas dan jahat caranya, dan kami
tidak mau menjadi orang sombong. Cak Dul juga jadi saksi, ya.
Dan (الحمد
لله) pihak kami juga telah membuktikan bahwasanya para hizbiyyun tadi
sangat keras kepala dan sombong terhadap kebenaran sekalipun dimulai
penyampaiannya dengan cara yang halus, sampai cara yang keras. Sama
saja.
Para pembaca
yang jujur dan adil (إن شاء الله ) bisa menilai siapakah dari dua pihak
ini yang lebih terbimbing jalannya: Salafiyyun di Dammaj dan yang
bersama mereka, ataukah para hizbiyyun tadi. Bukan begitu, Cak?
Jawaban kelima:
salah satu senjata terbesar hizbiyyun (termasuk hizby Luqmaniyyah-mar’iyyah) adalah syi’ar “harus tatsabbut dan tabayyun!” terhadap berita orang yang tsiqoh. Dalil yang mereka pakai adalah firman Alloh ta’ala:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
“Wahai orang-orang yang beriman jika datang kepada kalian seorang fasiq dengan suatu berita, maka carilah kejelasan.” (QS Al Hujurot: 11).
Padahal mereka melanggar ayat ini dari dua sisi.
Sisi pertama: mafhum dari ayat ini.
Mafhum ayat
ini menunjukkan bolehnya menjadikan berita orang tsiqoh sebagai dasar
untuk bertindak dan sebagainya. Tentang ayat ini Syaikhul Islam
rohimahulloh berkata:
لأنه علل الأمر بأنه إذا جاءنا فاسق بنبأ خشية أن نصيب قوما بجهالة فلو كان كل من أصيب بنبأ كذلك لم يحصل الفرق بين العدل والفاسق بل هذه الأدلة واضحة على أن الإصابة بنبأ العدل الواحد لا ينهى عنها مطلقا ..
“..Karena
Alloh menyebutkan motif perintah tabayyun tadi dengan: jika datang pada
kita orang yang fasiq yang membawa berita. Bahkan dalil-dalil ini jelas
menunjukkan tidak terlarangnya menimpakan hukuman dengan berdasarkan
berita dari satu orang yang adil secara mutlak… (“Majmu’ul
Fatawa”/15/307).
Imam Al Wadi’i rohimahulloh berkata:
مفهوم الآية: أنه إذا جاءنا العدل نأخذ به. والعدل يشمل الذكر والأنثى، إذ الأصل عموم التشريع
“Mafhum dari
ayat ini adalah jika datang kepada kita orang yang adil, kita ambil
beritanya. Dan keadilan itu mencakup laki-laki dan perempuan, karena
pada asalnya adalah keumuman pensyariatan.” (“Al Makhroj Minal Fitnah”)
Syaikh Robi’ -hafizhahulloh- berkata: “Agama kita berdiri di atas berita orang-orang adil, di antara kaidah-kaidahnya adalah berita dari orang-orang adil. Maka jika seorang yang adil menukilkan kepadamu suatu perkataan, maka pada asalnya berita itu adalah shohih, dan wajib untuk engkau membangun hukum di atasnya.
Dan Alloh telah memperingatkan dari berita orang fasik. Maka jika ada
orang yang dikenal kefasikannya dan mendatangimu dengan suatu berita,
jangan kau dustakan dia. Telitilah dulu karena ada kemungkinan
bahwasanya si fasik ini jujur dalam berita tersebut. Tatsabbut nggak
apa-apa. Adapun sekarang: adil disusul dengan adil, adil disusul dengan
adil, menulis dan bersaksi ucapannya justru tidak diterima. Dia
menukilkan ucapan orang yang sesat dengan hurufnya ternyata
persaksiannya tidak diterima. Mereka justru berkata: haqid (dendam).
Ini adalah termasuk uslub-uslub (metode) ahlul bida’ wal fitan pada
zaman ini –kita mohon pada Alloh keselamatan-yang tidak dikenal oleh
khowarij ataupun rofidhoh ataupun ahlul bida’ pada masa-masa silam.
Orang-orang itu mendatangi umat dengan metode, kaidah, manhaj, fitnah
dan musykilah yang jika kau kumpulkan itu semua –demi Alloh- tak ada
yang tersisa dari agama ini sedikitpun. jika kau kumpulkan metode dan
kaidah-kaidah mereka itu, mereka tidak menyisakan Islam ini sedikitpun.
Di antaranya adalah berita orang-orang yang adil. Mereka ingin menggugurkannya … dst” (“Al Mauqifush Shahih”/ Syaikh Robi’ Al Madkkholi/hal. 22).
Sisi yang kedua: manthuqul ayat.
Ayat ini
dari sisi pengucapannya saja telah menunjukkan bahwasanya berita orang
fasiq itu harus ditatsabbut dulu sebelum diterima dan dibangun suatu
hukum berdasarkan berita tadi. Dan para hizbiyyun tadi telah menyelisihi
ayat ini dari sisi ini. Kenapa? Karena mereka itu sendiri selama ini
telah menyatakan bahwasanya Hajuriyyah-Turobiyyah (dan kami berlepas
diri kepada Alloh dari istilah jahiliyyah ini) adalah pembawa fitnah,
pembohong, tak bisa dipercaya, tukang pecah-belah (walau bukan pedagang
keramik), dsb.
Kami jawab:
jika memang demikian dalam pandangan kalian, berarti kami ini memang
telah kalian hukumi sebagai kaum yang fasiq. Al Imam Ibnul ‘Utsaimin
-rohimahulloh- berkata:
المعروف عند أهل العلم أن الكبيرة الواحدة تجعل الفاعل فاسقا ما لم يتب منها
“Yang telah
diketahui bersama di kalangan para ulama adalah bahwasanya satu dosa
besar saja bisa menjadikan pelakunya itu fasiq, selama dia belum
bertobat darinya.” (“Liqoatul Babil Maftuh”/hal. 447).([3])
Kalau memang
berita dari kami adalah berita para fussaq, berarti ayat tadi
mewajibkan Antum untuk tabayyun dulu. Jangan begitu membaca terjemahan
salah seorang dari kami langsung ditelan mentah-mentah dan membangun
konsekuensi darinya:
“Al-Hajuri hanya memberikan satu-satunya pilihan kepada semua orang (termasuk di dalamnya adalah para Masyayikh Dakwah) bahwa DIRINYALAH YANG BENAR!! Dan bahkan (sekali lagi) dia jamin kebenarannya!!” (hal. 12).
“AL-HAJURI, OOOOH… MEMANG DIA ITU SIAPA?” (hal. 12).
“Kebenaran itu adalah milik Allah, tetapi
bagi Al-Hajuri dakwah adalah miliknya!! Jaminan Kebenaran itu adalah
milik Al-Hajuri, oleh sebab itu adakah para pembelanya termasuk
orang-orang yang ragu? Duhai…siapakah sesungguhnya Al-Hajuri dan “wahyu” dari manakah yang dia dakwahkan? Dengan Jaminan Kebenaran malzamah-malzamah fitnah yang telah diikrarkannya, Pastilah Tanpa Ragu dirinya
telah meletakkan diri jauh dan jauuuuh di atas seluruh para ulama
Mujtahidin yang masih memiliki kemungkinan Ijtihadnya keliru (walaupun
dengannya telah mendapatkan satu pahala). Adapun “sesuatu” yang telah
berani menjamin kebenaran malzamah-malzamah fitnahnya?
Bukankah dia tidak layak lagi disebut sebagai Mujtahid? Allah, Allah
Ooooh…. siapakah kiranya dirinya, manusia atau apa?” (hal. 13).
Wahai para pembaca –hafizhokumulloh- tolong para hizbiyyun disabarkan
sedikit. Suruh mereka menerapkan kaidah mereka sendiri: “Tatsabbut” agar
tidak asal tuduh. Syaikhuna Yahya –hafizhohulloh- cuma bilang
“Malzamah-malzamah yang keluar dari sisi kami, malzamah-malzamah yang
telah ditsiqohkan (bisa dipercaya).”
Jelas semua
ulama yang mengeluarkan jarh terhadap seseorang dengan berdasarkan
bukti-bukti yang kuat dan saksi-saksi yang terpercaya di sisinya, beliau
boleh untuk mengatakan seperti itu. Tapi tidak sampai berkata: “Ini
dijamin kebenarannya.”
Maafkan ana
ya Cak, ternyata Antum membangun hukum dan caci-makian terhadap Syaikh
Yahya –hafizhohulloh- tadi tanpa penelitian yang cukup, dan bahkan
menyelisihi keadilan dalam menjalankan kaidah hizbiyyah kalian. Ini
menyelisihi ayat Al Qur’an yang kalian pakai untuk berhujjah selama ini
jika datang hantaman dari Salafiyyun Dammaj yang tidak menguntungkan
kalian.
Kami bersyukur kepada Alloh ta’ala, ternyata dalil tatsabbut yang mereka pakai berbalik menghantam mereka sendiri. Ada faidah cantik, Cak. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rohimahulloh- berkata:
وهكذا أهل البدع لا يكادون يحتجون بحجة سمعية ولا عقلية الا وهى عند التأمل حجة عليهم لا لهم
“Dan
demikianlah ahlul bida’, hampir-hampir tak pernah mereka itu memakai
suatu argumentasi dari ayat/hadits ataupun dari akal, kecuali dalil tadi
saat direnungkan merupakan argumentasi yang menghantam mereka sendiri,
bukan untuk mendukung mereka.” (“Majmu’ul Fatawa”/6/hal. 254).
Jawaban keenam:
sekedar penguat dari yang sebelumnya. Harap Antum tahu, Cak, bahwasanya salah satu ciri hizbiyyah adalah: menerapkan kaidah dan meninggalkannya sesuai dengan hawa nafsu, bukan berdasarkan keadilan.
Contohnya ya kasus di atas. Manakala ada berita yang bisa dipakai untuk
menyerang lawan debat, langsung diambil tanpa menerapkan kaidah
“Tabayyun” yang mereka gembar-gemborkan. Padahal sebelumnya jika ada
persaksian-persaksian yang merugikan mereka, langsung mereka
teriak-teriak: “Tatsabbut dulu!” Tampak sekali mereka itu memang
mengekor hawa nafsu. Alloh ta’ala berfirman:
فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ الله [ص/26]
“Maka
tegakkanlah hukum di antara manusia dengan kebenaran, dan janganlah
engkau mengikuti hawa nafsu sehingga menyesatkan dirimu dari jalan
Alloh.” (QS. Shod: 26).
Intinya apa
sih, Cak? Intinya adalah bahwasanya hizbiyyun itu tidak adil dan
konsekuen dalam menerapkan kaidah mereka: “Tabayyun-tatsabbut.”
Oya, Cak.
Apa benar bahwasanya Antum dulu getol memerangi Quthbiyyah-Sururiyyah?
Wah, itu bagus sekali, Cak. Sayang kita dulu di Indonesia belum sempat
kenalan. Masih ingat nggak Cak, akan ucapan Syaikh Abu Ibrohim bin
Sulthon Al ‘Adnani -hafizhahulloh- berkata tentang metode Al Quthbiyyah
yang ketiga: “Tidaklah seorang pembantah membantah mereka dengan apa
saja yang mereka kerjakan kecuali mereka akan berkata kepadanya dengan
sangat ramah dan tenang: “Tatsabbut.” Syiar ini juga menjadi senjata
penggempur kepada seseorang, atau kelompok, atau kitab, atau kaset, atau
suatu anggaran dasar yang hendak mereka hantam. Maka tidaklah yang
mereka kerjakan kecuali dengan mencercanya –walaupun dengan tanpa
bayyinah-, maka akhirnya jatuhlah dia walaupun benar, karena mereka
telah menanamkan di dalam jiwa mereka bahwasanya mereka itu ahli
tatsabbut.” (“Al Quthbiyyah”/ hal. 116).
Cak Dul,
tinggalkan saja Luqmaniyyun-Mar’iyyun, karena mereka itu hizbiyyun, dan
banyak kemiripan dengan Quthbiyyun-Sururiyyun yang kabarnya dulu Antum
gemar memerangi mereka. Ingat nggak, Cak, ketika sebagian kecil ulama
–hafizhohumulloh- menghantam Sururiyyin dengan hujjah-hujjah yang jelas,
tapi justru ekor-ekor mereka di Indonesia teriak: “Kita menunggu
ulama!” Maka dengan mantapnya si Askari membantah prinsip “Menunggu
ulama tersebut.” Tapi sekarang si Askari sendiri jatuh pada lubang yang
sama.
Jawaban ketujuh:
di antara
bukti upaya pihak kami untuk berhati-hati dan jujur dalam menyampaikan
berita (meskipun tetap saja mengalami ketergelinciran), bahwasanya kami
di samping mengirimkan fatwa Syaikh yahya –hafizhohulloh- di atas dengan
bahasa Indonesia, kami juga (bahkan lebih dulu) mengirimkan naskah
bahasa Arabnya, agar bisa diperiksa lafazh aslinya. Dan buat maestro chatting
kayak Antum, mudah saja bagi Antum untuk membandingkan kedua naskah
tadi. Tapi memang hizbiyyah itu membikin malas orang untuk mencari
kebenaran. Apa yang sesuai dengan hawa nafsunya itulah yang langsung
disambar tanpa pakai prinsip “Tabayyun” yang mereka kibarkan.
Jawaban kedelapan:
Dalam naskah nasihat Syaikh Yahya –hafizhohulloh- buat mutawaqqifun
tersebut beliau menyampaikan banyak sekali kebatilan-kebatilan
Mar’iyyun yang cukup menjadi dalil bahwasanya mereka itu adalah
hizbiyyun. Padahal jika Antum rajin membaca kitab-kitab Syaikh Robi’
–hafizhohulloh-, Antum akan dapati ( إن شاء الله) bahwasanya seringkali
beliau dalam menghukumi seseorang itu sebagai hizby tidak sampai
sepanjang itu pemaparan ciri-ciri hizbiyyah orang tadi. Tapi kok bisa ya
sekian banyak pemaparan hujjah Syaikh Yahya tadi tak bermanfaat bagi
Antum. Justru satu lafazh (salah terjemah) “Dijamin kebenarannya”
itulah yang justru menarik hati Antum untuk dikonsumsi.
Afwan, Cak. Hal itu cukup mengganjal di hati, karena Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh berkata:
ومن
الناس من طبعه طبع خنزير يمر بالطيبات فلا يلوى عليها فإذا قام الإنسان عن
رجيعه قمه وهكذا كثير من الناس يسمع منك ويرى من المحاسن أضعاف أضعاف
المساوىء فلا يحفظها ولا ينقلها ولا تناسبه فإذا رأى سقطة أو كلمة عوراء
وجد بغيته وما يناسبها فجعلها فاكهته ونقله
“Dan di antara manusia ada yang tabiatnya tabiat babi.
Dia melewati rizqi yang baik-baik tapi tak mau mendekatinya. Justru
jika ada orang bangkit dari kotorannya (selesai buang hajat),
didatanginya kotoran tadi dan dimakannya hingga habis. Demikianlah
kebanyakan orang. Mereka mendengar dan melihat darimu sebagian dari
kebaikanmu yang berlipat-lipat daripada kejelekanmu, tapi dia tidak
menghapalnya, tidak menukilnya dan tidak mencocokinya. Tapi jika dia
melihat ketergelinciran atau ucapan yang cacat, dapatlah dia apa yang
dicarinya dan mencocokinya, lalu dijadikannya sebagai buah santapan dan
penukilan.” (“Madarijus Salikin” 1/hal. 403).
Sekali lagi ‘afwan, Cak. Bukannya ana menyamakan Antum dengan makhluk tadi, hanya saja: jangan sampai Antum menirunya.
Bab Lima:
Kasus Firman Hidayat
Di dalam surat Cak Dul Ghofur, beliau
banyak sekali menyerang Salafiyyun Dammaj dan yang bersama mereka
berdasarkan kasus orang yang bernama Firman Hidayat. Disebutkan
bahwasanya dia itu berumur 31 tahun dan mendukung Hajuriyyin. Lalu
ditampilkan sekian banyak data yang menggambarkan bahwasanya Firman
hidayat ini punya sepak terjang yang tidak sedap, seperti:
1- membanggakan statusnya sebagai mantan Laskar Jihad,
2- mengancam orang untuk membunuhnya,
3- gampang mengumbar laknat dan caci-makian yang sangat banyak dan tidak tidak terkontrol,
4- loncat sana-sini dan menyusup kesana kemari,
5- memperbanyak debat dengan hizbiyyin tanpa mengikuti adab syari’at,
6- menuduh adanya ikhtilath dalam dauroh kalian tanpa bukti,
7- menuduh sebagian Luqmaniyyin rebutan kotak infaq,
8- punya beberapa identitas samaran,
9- Jawaban ngawur terhadap pernyataan baro’ dari Akhunal Fadhil Abu Hazim –hafizhohulloh-.
Cak Dul, jawaban ana adalah sebagai berikut, wabillahit taufiq:
Jawaban pertama:
ana pribadi
belum pernah berhubungan langsung dengan orang yang bernama Firman
Hidayat. Juga tak pernah melihat situs dia (belum tentu juga ana ke
internet walau sebulan sekali). Juga tak menyangka jika dia membantu
menyebarkan tulisan-tulisan Salafiyyin Dammaj dan yang bersama mereka.
Maka yang dia perbuat itu tadi secara umum di luar sepengetahuan kami.
Dan kami juga tidak ridho adanya kebatilan, siapapun yang melakukannya,
entah dari pihak hizbiyyin ataupun dari Salafiyyin. Yang salah ya harus
disalahkan dan dinasihati, sebagaimana yang benar harus dikatakan benar
dan didukung. Semuanya wajib berhukum kepada Kitabulloh dan Sunnah
Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam-. Maka pada asalnya bukan kami
yang turut memikul dosanya. Alloh ta’ala berfirman:
وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى [الأنعام/164]
“Dan tidaklah orang yang berdosa itu akan memikul dosa orang lain.” (QS. Al An’am: 164).
Jawaban kedua:
Jika benar
apa yang Antum paparkan di atas, maka kami menyatakan tidak ridho dengan
kebatilan macam itu ataupun yang lainnya. Dan kami berlepas diri dari
yang demikian itu. Dan kami menyatakan pengingkaran dan peperangan
terhadap kebatilan macam itu.
Jawaban ketiga:
beberapa
waktu yang lalu ada banyak SMS yang masuk ke sebagian HP teman kami di
sini sambil memperkenalkan diri dengan nama Firman Hidayat, dan
menyatakan dukungan terhadap dakwah dan perjuangan kami. Barangkali
akhuna inilah yang Cak Dul maksudkan. Makanya begitu ada tulisan dari
Cak Dul yang sampai kepada kami tersebut ana minta kepada Akhuna Shiddiq
Al Bughisiy –hafizhohulloh- untuk mengkonfirmasikan hal itu pada si
Firman Hidayat, karena dia mengirimkan beberapa SMS ke Akhuna Shiddiq
–hafizhohulloh-.
Maka pada hari itu juga beliau mengirimkan SMS ke Akhuna Firman Hidayat yang isinya kurang lebih: “AFWAN
DI MALZAMAH ABDUL GHOFUR AL MALANJI (hampir hampir mereka jantan)
menyebutkan kesalahan-kesalahan antum (firman hidayat), kalo tidak benar
antum bantah, kalo benar ahsannya antum sebar taruju/taubat
jazakamallah khairan. Dari ABU TUROB, & ABU FAIRUZ.“
Cak Dul, inilah bukti bahwasanya kami tidak diam terhadap kesalahan, meskipun yang berbuat adalah –misalnya- teman sendiri.
Jawaban keempat:
pada hari
berikutnya (tanggal 16 Rojab 1431 H) datanglah jawaban dari Akhuna
Firman Hidayat yang isinya adalah bahwasanya dia telah mengumumkan
taroju’ terhadap kesalahan tersebut, dan sekaligus bantahan terhadap apa
yang pantas untuk dibantah, silakan lihat: www.Salafyindependent.wordpress.com([4])
Makanya ana
(Abu Fairuz –waffaqoniyalloh-) bersama Akhuna Abul Jauhar Adam Al Ambony
–hafizhohulloh- pada hari itu juga berangkat ke internet (meskipun
warnet bukanlah tempat yang kami sukai). Kami buka alamat tersebut dan
kami dapatkan sebagai berikut (setelah menyebutkan muqoddimah):
“Berawal sms dari du’at qodim di darul hadits dammaj berisi : “AFWAN
DI MALZAMAH ABDUL GHOFUR AL MALANJI (hampir hampir mereka jantan)
menyebutkan kesalahan kesalahan antum (firman hidayat), kalo tidak benar
antum bantah, kalo benar ahsannya antum sebar taruju/taubat
jazakamallah khairan. dari al fadhil ABU TUROB hafidhohulloh, & al
fadhil ABU FAIRUZ hafidhohulloh “
Sebelumnya
kita mendapati artikel dengan kualitas tulisan rendah mudah di bantah,
karena mendesak perkara ini harus di selesaikan di media umum seperti
ini.
Dengan ini ana mengakui kesalahan2 ana di masa lalu di bawah ini :
1.
menjadi RAPPER (bukan penyanyi karena rap bukan nyanyian) adapun orang
menyangka bahwa rap itu nyanyian, ana tetap meyakini RAP bukan nyanyian
karena ana tidak bisa nyanyi. (mungkin orang yang masih tuduh ana rapper
mereka bisa nyanyi, tapi prinsip ana masa lalu mereka tidak bisa di
jadikan hujjah untuk membela diri ana)([5]).
Pada tahun
2005, ana kembali ke Jakarta menjalani hidup seperti orang awam. bergaul
dengan orang – orang fasiq jauh dari majelis-majelis ta’lim. Karena ana
meyakini waktu itu tidak ada yang layak DU’AT di Indonesia diambil
majelisnya([6]).
Sibuk dengan
dunia seperti mencari nafkah menjual PULSA, HP SECOND dll, karena ana
hobby dunia HIP HOP yang notabene dunianya orang kulit hitam urban
Amerika yang penuh glamour.
Lalu ana terjun langsung ke dunia hip hop, seperti membuka toko baju hip hop.
Lalu ana
membuat lagu RAP,waktu itu seingat ana awal tahun 2008 koloborasi artist
terkenal non muslim SAYKOJI. Berangsur angsur sedikit demi sedikit
sudah ana tinggalkan.
Lalu muncul-lah perasaan([7]) di waktu bulan ramadhan, lalu ana mendatangi MASJID FATAHILLAH (markiz hizbi jadid mari’eyyun).
Hidayah ana
belum mencapai titik ketenangan, banyak kejangalan-jangalan yang ada
pada mereka (hizbi jadid). Saat itu ana belum ada niat mencari tahu,
kondisi ana saat itu membaca situasi dan kondisi belum bisa mengambil
kesimpulan. ([8])
Tapi ada
rada ANEH setelah kedatangan ana di depok, situasi panas mencekam tidak
menerima atas kedatangan (wallahu a’alam apa mereka sudah tahu karakter
ana ??? TIDAK KENAL GENTAR MENAMPAKKAN AL HAQ SECARA FRONTAL([9])).
Pada saat
itu ada acara DAUROH DI BANTUL tahun 2009, alhamdulillah dengan rejeki
ana membawa uang cukup sekaligus mencari pendamping setelah acara dauroh
tersebut.
Lalu ana mengikuti acara tersebut, bertemulah dengan teman–teman lama. Tapi aneh sikap sikap mereka ada yang disembunyikan ? ? ?
Sampailah
ana bertemu kembali seorang DUAT yang ana percaya untuk membabat habis
LUQMAN BA’ABDUH dan ASKARY pada tahun 2004 yaitu seorang yang terkenal
pada saat ini DZULKARNAIN dari ’akasar berpelukanlah ana dengan fulan
ini.
Lalu tibanya selesai dari acara DAUROH HIZBI NASIONAL BANTUL, ana ke SOLO mengikuti informasi ikhwah – ikhwah.
Sampai di SOLO ana disuguhi FITNAH-FITNAH([10]) yang menurut ana perkara ini sudah selesai. ternyata masih lanjut sepertinya…..
Lalu ana di
antar ke masjid Jajar SOLO AL MADINAH, karena mereka belum tahu mauqif
ana maka ana mendatangi kedua kubu itu untuk mendapatkan bukti bukti ana
mendatangi AL GHUROBA juga.
Tapi memang
tandzim itu lebih CANGGIH daripada jaringan internet, sedikit tahu
mereka tentang ana. Mulai menampakkan suatu ucapan2 yang dikirim dari
alam ghaib para luqmaniyyun.
Lalu ana pergi ke NGAWI di sana datangi 2 ma’had sampai ke gunung – gunung.
Lalu ana kembali ke Jakarta tidak membawa hasil, terkecuali PERMUSUHAN ana kepada orang-orang hizbi di FATAHILLAH.
Lalu ana tutup toko baju (hip hop), kembali ke rumah ana disibukkan dalam perkara dunia.
Setelah ana
mulai mendapatkan info tentang uslub da’wah di Magetan yang dibawa oleh
Al Ustad Abu Hazim Muhsin Muhammad Al Bashory hafidhohulloh.
Lalu ana bergegas mencari tahu tentang beliau, ana melihat ada kesamaan pandangan tentang yayasan da’wah adalah muhdats.
Tibalah puncaknya DAUROH JARH WAT TA’DIL bertema ”Mengenang da’wah imam Muqbil bin Hadi al Wadi’i rahimahullah“
Lalu ana merekam kajian beliau tepatnya di masjid kampus Muhammadiyah jogja.
Sebelomnya
memang ana sudah membuat blog sebelom ana mendatangi
beliau.www.salafyindependent.wordpress.com ana sudah berniat di hadapan
LUQMANIYYUN blog ini untuk menghantam mereka LUQMAN BA’ABDUH dan ASKARY.
Sebelum ana membuat blog ini ana mendapatkan website sejalan dan semanhaj dengan ana ALOLOOM.NET([11]). Sebagian artikel ana masukan ke blog ana untuk membabat abis mereka.
Sampai di
Jakarta ana UPLOAD KAJIAN JOGJA yang di bawakan ustad Abu Hazim, lalu
ana sebar kajian beliau sampai ana tayangkan di RADIO SALAFY streaming
kepunyaan ana.
Lalu ada
kajian di masjid Kali Malang bekasi, lalu ana kenal lebih dengan beliau
setelah beliau menanyakan blog ana tentang malzamah-malzamah dari
Dammaj.
Waktu
berlalu sampailah terjadilah malapetaka yang dibawa ahlu fittan
kontemporer (ABDUL GHOFUR AL MALINGI) membuat tuduhan tuduhan yang sudah
ana tinggalkan di masa lalu (futur).
Sangat
disayangkan perkara itu tembus ke Magetan, ajaib memang kok bisa tembus?
Ana terheran-heran padahal tuduhannya bukan perkara (manhajiyyah) tapi
perkara keFASIQan([12]) itupun kurang cukup bukti dan saksi.
Perlu di
pahami pada saat itu ana sedang labil, tidak adalagi tempat dan orang
untuk di tanyakan dalam perkara ini. (lalu ana berkata lancang seperti
ini). Tapi alhamdulillah tidak ada kalimat di atas, kalimat celaan
terhadap Darul Hadits Dammaj.
Gerakan adu
domba dari dalam wallahu a’alam (bukan hanya ana saja di antara lain
memang terjadi seperti itu), atau karena memang situasi tidak mendukung
untuk ana terekspos maju ke depan. Karena pada saat itu tidak ada yang
mengenal ana, secara berangsur-ansur berulang-ulang. Karena pada saat
itu tidak ada satupun orang yang mengenal ana secara baik keseluruhan
dan sebagian.
Alhamdulillah
semua keadaan menjadi baik beransur ansur,hubungan ana dengan AL USTAD
ABU HAZIM MUHSIN MUHAMMAD AL BASHORY hafidhohulloh ta’ala mulai membaik.
ANA MINTA MAAF (ghuluw), lancang, dan su’udzon kepada AHLU HAQ yang tidak pantas ana lakukan.
Adapun ana
pernah konflik dengan al akh Achmad Djunaidi, memang saat itu sangat
dahsyat antara perbedaan karakter mauqifnya ihkwah-ihkwah pembela Dammaj
dengan ana. Ana secara prinsip ”TIDAK YAKIN PERCAYA TAUBAT SEORANG MUSLIM DARI MENCELA AL ALLAMAH AN NASHIH AL AMIN YAHYA ALI ALHAJURY hafidhohulloh “([13])
Walaupun
waktu itu ana keadaan futur (mendekati kefasiqan), hati ini masi
tersimpan nama yang mulya setelah syaikh Albani, syaikh Bin Baz dan
syaikh Muqbil yaitu ” AL ALLAMAH AN NASHIH AL AMIN YAHYA ALI ALHAJURY hafidhohulloh” dari tahun 2002 setelah mendengar rekaman kajian beliau.
Bagaimana
mungkin mereka (hizbi jadid mari’eyyun), begitu dasyat berani
membinasakan diri diri mereka mencela ULAMA RABBANIYYUN. Tanpa ada rasa
pertimbangan bahan hanya bersumber dari kalam ustadz – ustadz mereka ? ([14])
Jadi ini alasan ana MENJAUHI TOTAL X LUQMANI,SURURI atau IM (karena memang ana bukan mantan hizbi), jadi perbedaan pandangan para pembela Dammaj pada saat itu agak menjurang.
Alhamdulillah
keadaan mulai membaik, tangan mulai merangkul kembali. Tapi sikap ana
masi berhati hati ” HATI HATI HAMBA DI JEMARI JEMARI ALLAH azza wa
jalla” hari ini kawan, besok menjadi lawan. (ana melihat sebagian
asatidz di arah timur merangkul tangan (dengan kubu Dzulkarnain makasar)
ana blom mendapatkan bukti mauqifnya)
Pada hakekatnya AL HAQ itu di perjuangkan di pundak masing masing, ta’awun untuk membela kebenaran harus di rajut kembali.
2. kalimat takfir sembarangan (lalu mencantumkan gambar yang disebutkan oleh Cak Dul Ghofur).
Artikel
kalimat ini benar itu kalimat ana jahil waktu tahun sekitar akhir tahun
2007 atau 2008 afwan ana lupa kira kira seperti itu. Dan ana menyatakan ”TAUBAT DARI PERKATAAN YANG MELAMPAUI BATAS
” karena ana melihat dan menduga orang yang memusuhi ana itu non
muslim, alasan ana berkata demikin ana mencoba mengira fulan itu Muslim
dengan memakai kata MURTAD ??? jika dia Muslim maka dia tidak terima
perkataan ana MURTAD itu. Lalu fulan ini berkata ” jangan kamu musuhi
saudaramu ” maka perkataan itu ana cabut di bawah tulisan di atas.
Jadi kronologisnya tidak sama yang di sampaikan ABDUL GHOFUR AL MALINGI
3. mendatangi dauroh hizbi sururi
Ana menyatakan “ANA BERTAUBAT KARENA MENDATANGI DAUROH MEREKA ATTUROUTIYYUN “
Perlu di
ketahui kronologisnya bagaimana ana mendatangi acara tersebut. Pada saat
itu ana blom mengetahui bagaimana hukumnyaa menghadiri acara itu? yang
ana anggap ULAMA ahlu sunnah ?
Ucapan Abu Fairuz (-waffaqoniyallohu-):
Cak Dul Ghafur, inilah yang disampaikan oleh Al Akh Firman Hidayat,
tentu saja ada beberapa perkataan yang perlu dikomentari. Tapi pada
intinya dia telah menyatakan tobat. Berhubung Antum yang banyak chatting,
Antum lebih tahu daripada ana tentang Al Akh Firman Hidayat. Jika ada
yang perlu diluruskan ya sampaikan kepadanya dengan baik-baik.
Jawaban kelima:
Cak Dul
Ghofur, demikianlah yang ditulis oleh Akhuna Firman Hidayat
–waffaqohulloh- setelah kami memintanya untuk berbicara. Antum bisa
lihat sendiri bahwasanya kami ( إن شاء الله) tidak diam terhadap
kebatilan, (sebisa mungkin) meskipun dari pihak yang membantu kami
sendiri. Antum sendiri tahu bahwasanya kami tidak diam terhadap
kesalahan yang dilakukan sahabat seiring yang utama seperti Akhunal
Fadhil Abu Hazim, Akhunal Fadhil Abu Arqom, Akhunal Fadhil Fajar,
Akhunal Fadhil Ahmad, Akhunal Fadhil Haamdani dan Akhunal Fadhil Abu
Arbah –hafizhohumullohu jami’an- (dan siapa sih yang tak punya salah?). ([15])
Maka
bagaimana mungkin kami sengaja diam terhadap kesalahan Akhuna Firman
Hidayat yang barusan memperkenalkan diri kepada kami beberapa waktu yang
lalu? Ini jika kami tahu kesalahan tersebut. Dan kami mohon ampun pada
Alloh atas kekurangan kami dalam menegakkan nasihat terhadap diri
sendiri maupun terhadap yang lain.
Dan ( إن شاء
الله) para teman dan sahabat kami tersebut senang dan bangga punya
saudara yang peduli terhadap mereka dan tidak diam terhadap
kekurangan-kekurangan mereka, dan tidak menunggu sampai selesainya
peperangan melawan ahlul bida’ (kapan juga selesainya? Jangan-jangan
kami sudah mati sebelum menyampaikan nasihat gara-gara ditunda-tunda).
( الحمد لله) kami bukan hizbiyyun
yang salah satu cirinya adalah lemah dalam mengingkari kemungkaran
teman sendiri karena takut temannya akan marah dan meninggalkannya.
Antum Cak, termasuk saksi kami di hadapan Alloh ta’ala nantinya
bahwasanya teman sendiripun kami nasihati sesanggup kami, dari cara yang
halus sampai agak keras.
Jawaban keenam:
faidah
cantik Cak, yang menunjukkan bahwasanya kami tidak seperti yang Antum
tuduhkan. Syaikhul Islam -rahimahulloh- berkata perihal terjadinya
perselisihan di antara para pengajar atau para thullab dan semisalnya:
فإن
وقع بين معلم ومعلم وتلميذ وتلميذ ومعلم وتلميذ خصومة ومشاجرة لم يجز لأحد
أن يعين أحدهما حتى يعلم الحق ، فلا يعاونه بجهل ولا بهوى بل ينظر في
الأمر فإذا تبين له الحق أعان المحق منهما على المبطل سواء كان المحق من
أصحابه أو أصحاب غيره ، وسواء كان المبطل من أصحابه أو أصحاب غيره ، فيكون
المقصود عبادة الله وحده وطاعة رسوله واتباع الحق قال تعالى :}يا
أيها الذين آمنوا كونوا قوامين بالقسط شهداء لله ولو على أنفسكم أو
الوالدين والأقربين إن يكن غنيا أو فقيرا فالله أولى بهما فلا تتبعوا الهوى
أن تعدلوا وإن تلووا أو تعرضوا فإن الله كان بما تعملون خبيرا{([49]).
يقال: لوى يلوي لسانه فيخبر بالكذب ، والإعراض أن يكتم الحق فإن الساكت عن
الحق شيطان أخرس ، ومن مال مع صاحبه سواء كان الحق له أو عليه فقد حكم
بحكم الجاهلية وخرج عن حكم الله ورسوله .
“Maka
apabila terjadi persengketaan dan perselisihan antar pengajar, atau
antar murid, atau antara pengajar dan murid, tidak boleh bagi seorangpun
untuk menolong satu pihak sampai dia tahu yang benar.
Maka tak boleh baginya untuk saling menolong dengan kebodohan dan hawa
nafsu. Akan tetapi dia harus memperhatikan perkara tersebut. Apabila
jelas baginya kebenaran, dia harus menolong pihak yang benar untuk
menghadapi pihak yang berbuat batil, sama saja apakah pihak yang benar
itu dari temannya ataukah bukan. Dan sama saja apakah pihak yang batil
itu dari temannya ataukah bukan. Maka jadilah tujuannya itu
ibadah kepada Alloh semata dan ketaatan kepada Rosul-Nya, dan mengikuti
kebenaran. Alloh ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman,
jadilah kalian sebagai orang yang menegakkan keadilan, sebagai saksi
untuk Alloh walaupun terhadap diri kalian sendiri atau terhadap orang
tua dan sanak kerabat. Kalau dia itu orang kaya ataupun miskin, maka
Alloh itu lebih utama daripada mereka berdua. Maka janganlah kalian
mengikuti hawa nafsu sehingga tidak berbuat adil. Dan jika kalian
membolak-balikkan kata (untuk berbohong) atau berpaling maka
sesungguhnya Alloh maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.”
Dikatakan:
(لوى) yaitu: memberikan kabar secara bohong. Dan (الإعراض) adalah
menyembunyikan al haqq, karena sesungguhnya orang yang diam terhadap al
haqq adalah setan yang bisu. Dan barangsiapa condong bersama
temannya, sama saja apakah kebenaran bersamanya ataupun melawan dirinya,
maka sungguh dia itu telah berhukum dengan hukum jahiliyyah dan keluar
dari hukum Alloh dan Rosul-Nya.” (“Majmu’ul Fatawa”/28 /hal. 17).
Jawaban ketujuh:
dengan
penjelasan ini semua ( الحمد لله) runtuhlah tuduhan palsu dan jahat Cal
Dul terhadap kami bahwasanya kami sengaja membiarkan Firman Hidayat
berbuat batil karena dia bersama kami.
Nasihat ana
buat Antum, Cak Dul –waffaqokallohu-: segeralah Antum mengumumkan
permohonan maaf pada Salafiyyin di Dammaj dan yang bersama mereka, atas
tuduhan palsu tadi. Antum bilang sebagai berikut:
“Sesungguhnya, dari sisi akhlaq apalagi dari segi manhaj dirinya –yaitu Firman Hidayat- tidaklah berharga bagi Hajuriyah. Hanya
saja dia bisa bersama kumpulan mereka karena sejalan dalam
mencabik-cabik kehormatan para ulama, para du’at dan melancarkan fitnah
keji serta mengadu domba. Maka dia amat berharga di sisi Hajuriyah, minimal sebagai tukang pos gratis !!!” (hal. 30).([16])
Jika Antum,
Cak merasa tinggi hati dan tak mau mengumumkan pencabutan ucapan tadi
dan minta maaf, bisa jadi Antum perlu banyak berdoa keselamatan. Alloh
ta’ala berfirman:
وَقَدْ خَابَ مَنِ افْتَرَى [طه/61]
“Dan sungguh celakalah orang yang membikin-bikin.”
Antum juga bilang: “Pantaskah seorang Fattan Khabits –yaitu Firman
Hidayat- seperti bukti di atas memiliki nilai di sisi dakwah paling
murni sedunia? Tetapi demikianlah kenyataannya. Tidaklah memiliki nilai
keutamaan di sisi mereka kecuali hanyalah sebagai keledai tunggangan
pengangkut beban fitnah yang mau pergi kemanapun tuannya mengarah. Sejatinya bahwa seekor keledai tidaklah memiliki rasa malu, hanyasanya sang
penggembalalah yang pantas kita tuding: Demikiankah manhaj kalian dalam
memurnikan dakwah dengan cara membuang jauh-jauh sifat malu dengan
membiarkan fattan pendusta berkeliaran atas nama ‘dakwah paling murni’
sejawat?([17])” (hal. 31).
Jika Antum,
Cak, merasa tinggi hati dan tak mau mengumumkan pencabutan berbagai
tuduhan kotor ini dan minta maaf, bisa jadi Antum perlu banyak
memperbanyak pahala, karena mungkin lebih dari tiga puluh orang akan
menuntut haknya dalam masalah ini dari Antum di hari Kiamat. Abu
Huroiroh -rodhiyallohu ‘anhu- berkata: Rosululloh -shollallohu ‘alaihi
wasallam- bersabda:
« لتؤدن الحقوق إلى أهلها يوم القيامة حتى يقاد للشاة الجلحاء من الشاة القرناء ».
“Pastilah
hak-hak itu akan ditunaikan kepada orang yang berhak mendapatkannya
pada hari kiamat, sampai-sampai kambing yang tak bertanduk akan
dibalaskan haknya terhadap kambing yang bertanduk.” (HR. Muslim).
Antum juga
bilang: “Selain keledai, sesungguhnya akal sehat manusia yang berakal
akan mengingkari semua lenguhan keledai di atas, hanya saja demikianlah
letak perbedaan akal manusia dan akal keledai (yang sengaja dibiarkan hidup berkeliaran oleh tuannya) untuk mengacaubalaukan ukhuwah imaniyah yang selama ini dijaga.” (hal. 37).
Jika Antum,
Cak, merasa tinggi hati dan tak mau mengumumkan pencabutan ucapan ini
dan minta maaf, bisa jadi Antum butuh masker dan seragam anti polusi di
akhirat. Abdulloh bin Umar -semoga Alloh meridhoi keduanya- berkata: Aku
mendengar Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda:
وَمَنْ قَالَ فِى مُؤْمِنٍ مَا لَيْسَ فِيهِ أَسْكَنَهُ الله رَدْغَةَ الْخَبَالِ حَتَّى يَخْرُجَ مِمَّا قَالَ».
“…
dan barangsiapa berkata tentang seorang mukmin dengan suatu perkara
yang tidak ada pada dirinya, maka Alloh akan menjadikan dia tinggal di
dalam rodghotul khobal (perasan penduduk neraka) sampai dia keluar dari
apa yang diucapkannya.” (HR. Abu Dawud (3592) dan dishohihkan Imam Al Wadi’y -semoga Alloh merohmatinya- dalam “Ash Shohihul Musnad” (755)).
Antum juga bilang: “Tidaklah mengherankan jika si keledaipun terus dibiarakan “hidup”
walaupun dia melenguh dengan lenguhan-lenguhan KHABITS yang sungguh
tidak pantas didengarkan dan seharusnyalah bagi setiap orang tua Muslim
untuk menjauhkan ANAK-ANAKnya dari kekejian lisannya yang pastilah
diingkari oleh fitrah kaum mukminin yang masih memiliki rasa malu dan
menjaga kehormatan dirinya apalagi menjaga kemuliaan agamanya.” (hal.
39).
Demikianlah Cak, terus-terusan Antum menuduh kami membiarkan kebatilan
Firman, dalam keadaan kami selama ini tidak mengenalnya dan tidak tahu
sepak terjangnya. Antum benar-benar mencemarkan kehormatan kami, Cak.
Maka ana berharap Antum segera mengumumkan pencabutan ucapan tersebut
dan minta maaf pada kami semua. Tahu nggak, Cak, bahwasanya riba itu
hukumannya berat, di antaranya adalah([18]):
(1) pelakunya akan diperangi Alloh dan Rosul-Nya -shollallohu ‘alaihi wasallam- (mungkin di dunia, ataupun di akhirat).
(2) Pelakunya disuruh renang di sungai darah sambil dilempari batu, di alam kuburnya.
(3) Pelakunya terlaknat.
(4) Barokahnya rusak.
(5) Pelakunya kesurupan setan.
Sekarang Cak, bagaimana jika Antum terjatuh ke dalam riba yang terbesar? Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda:
« إن من أربى الربا الاستطالة فى عرض المسلم بغير حق ».
“Sesungguhnya
termasuk riba yang terbesar adalah panjang lisan (menuduh atau mencaci)
terhadap kehormatan Muslim tanpa kebenaran.” (HR. Abu Dawud (13/222) dan dishohihkan Al Imam Al Wadi’iy -rohimahulloh- dalam “Al Jami’ush Shohih” (3598)).
Cak Dul,
bukannya ana hendak mempermalukan antum di depan umum, dengan
terjatuhnya Antum ke dalam pelanggaran nyata terhadap dalil-dalil di
atas. Sungguh Cak, beberapa hizbiyyin di sini jika ana atau sebagian
teman ditonjok di wajahnya, mereka senang dan mengejek. Tapi pada saat
satu teman mereka terbakar muka dan sebagian anggota badannya, kami
tidak merasa senang dan juga tidak mengejek. Tapi kami juga tak mau
menjenguknya karena bagi kami dia itu hizby.
Jawaban kedelapan:
o ya Cak,
gambar sampulmu bagus juga: Sepatu PDL yang gagah, lalu di sampingnya
ada sepatu hak tinggi perempuan berwarna merah muda, dan juga gambar dua
kuntum mawar merah muda. Judulnya: “Hampir-hampir Saja … Mereka
Jantan.” Ana paham maksud Antum.
(
الحمد لله) kami dengan jantan mengakui terjadinya salah penerjemahan
dalam kasus “Dijamin kebenarannya”. Nah sekarang telah terbukti
kedustaan tuduhan Antum yang bertubi-tubi, bahwasanya kami sengaja
membiarkan Akhuna Firman Hidayat berbuat kebatilan. Sekarang Antum mau
nggak, Cak untuk mengumumkan permintaan maaf pada kami semua. Jika Antum
telah mengumumkannya, maka Antum memang jantan. Tapi jika tidak
berani mengumumkan, maka ya … sepatu merah Antum cantik juga untuk
Antum pakai. Jangan lupa dua kuntum mawarnya taruh di rambutmu.
Jawaban kesembilan:
coba
perhatikan, Cak. Berita-berita dari Antum tidak kami tolak
mentah-mentah, ataupun kami sikapi dengan bengis. Bahkan kami berusaha
untuk menyikapinya sesuai dengan syariat semampu kami, karena kebenaran
itu memang di atas segalanya. Syaikh Robi’ –hafizhohulloh- berkata:
الحق
يا عبد الرحمن أكبر من السموات والأرض، وأكبر من الطوائف التي تدافع عنها.
وهو أحب إلينا من الأبناء والعشائر اهـ. (“جماعة واحدة” /ص86).
“Kebenaran
itu wahai Abdurrohman, lebih besar daripada langit dan bumi, dan lebih
besar daripada kelompok-kelompok yang kamu bela. Kebenaran itu lebih
kami cintai daripada anak, dan keluarga.” (“Jama’ah Wahidah”/hal. 86).
Sekarang
Antum sendiri bagaimana, Cak? Kami sampaikan kepada kalian sisi-sisi
kebatilan si majhul Abu Mahfut dan Abu Umar, beserta dalil-dalil yang
menunjukkan bahwasanya mereka tadi telah keluar dari prinsip-prinsip
Ahlussunnah Wal Jama’ah. Dan hingga kini kalian tak sanggup mematahkan
hujjah-hujjah kami sebagaimana kaidah-kaidah ilmiah-syar’iyyah yang
berlaku di dalam perdebatan. Ana yakin para ustadz kalian juga tahu
kedustaan, dan kelemahan argumentasi orang-orang majhul tadi. Tapi mana
pengingkaran mereka terhadapnya? Mana penjelasan mereka kepada para
Salafiyyin (yang tertipu) bahwasanya argumentasi teman-teman mereka tadi
(Abu Mahfut dan Abu Umar) lemah?
Lalu
bagaimana, Cak? Kebatilan Abu Mahfut dan Abu Umar (dan yang lainnya)
tadi telah tersebar di mana-mana, dan telah kami tunjukkan sisi
kebatilan tersebut dengan dalil-dalilnya, dan kalian tak sanggup
membantahnya. Maka mana pengingkaranmu terhadap mereka? Apakah Antum
memang meridhoi sikap mereka tadi? Awas, Cak, Antum bisa memikul jenis
dosa yang sama tanpa Antum capek-capek berbuat, karena orang yang ridho
terhadap kebatilan itu sejenis dengan orang yang melakukannya. Al Imam
Al Qurthuby -rohimahullohu- di dalam tafsir ( إنكم إذا مثلهم)
menyebutkan:
أي إن الرضا بالمعصية معصية، ولهذا يؤاخذ الفاعل والراضي بعقوبة المعاصي حتى يهلكوا بأجمعهم.
“Yaitu:
sesungguhnya ridho terhadap kemaksiatan merupakan kemaksiatan juga. Oleh
karena itulah makanya pelaku kemaksiatan dan yang meridhoinya dihukum
dengan hukuman perbuatan maksiat hingga mereka semua binasa”. (“Al Jami’
Li Ahkamil Qur’an”/5/hal. 418).
Lihat juga tafsir As Sa’dy –rohimahumalloh-.
Kalo Antum
bilang: “Ana belum paham syariat dan kaidah-kaidahnya.” Maka jawab ana:
kami telah menjelaskan kebatilan mereka lengkap dengan dalil-dalilnya
dari Al Qur’an dan As Sunnah dengan manhaj Salaf, dengan bahasa yang
terang. Bagaimana Antum masih tidak paham, dan justru menyerang
Salafiyyin di Dammaj dan yang beserta mereka, dengan berbagai
caci-makian dan kedustaan serta kengawuran, yang Syaikh Robi’
-hafizhohulloh- saja tidak melakukannya? Katanya kalian nunggu Syaikh
Robi’ karena beliau adalah Imam jarh wat Ta’dil? Jika Antum memang jujur
dengan pengakuan kebodohan Antum, maka ada ungkapan Arab yang cocok:
فدع عنك الكتابة لست منها … ولو لطخت وجهك بالمداد
“Maka
tinggalkanlah tulis-menulis, karena engkau belum pantas menjadi ahlinya,
meskipun kamu kotori wajahmu dengan tinta.” (“Subhul A’sya”/2/hal.
502).
‘Afwan, Cak
jika terlalu kasar. Tapi mungkin itu lebih baik daripada Antum tambah
dosa berbicara terhadap banyak Muslimin dengan batil, dan menyesatkan
banyak orang. Ini sekedar nasihat, Cak, walaupun agak kasar semoga
diterima. Antum sendiri sudah melihat bahwasanya ucapan-ucapan keji dan
kotor dari Antum jika memang mengandung kebenaran ana terima. lillahi
ta’ala, Cak.
Jawaban kesepuluh:
masih ada
beberapa poin jawaban yang ana simpan, yang sebenarnya bisa membikin
wajah Antum benjol bagai apel Manalagi. Tapi risalah ini sudah cukup
panjang. Para pembaca yang serius mencari kebenaran dan bersikap adil (
إن شاء الله) akan bisa menilai siapakah yang lebih jujur dan lebih dekat
kepada kebenaran.
Bab Enam:
Istilah “Pusat Dakwah Salafiyyah Paling Murni Sedunia”
Sungguh, Cak, ana sebenarnya tak suka ungkapan-ungkapan yang
menggambarkan kebanggaan diri atau kelompok, dan semisalnya. Hanya saja
di zaman ini makin banyak markiz Salafiyyah yang mengabaikan thoriqotus
Salaf dalam menyeleksi murid. Banyak yang membiarkan para murid campur
aduk dengan para pembawa pemikiran bid’ah di markiznya. Padahal Antum
sendiri tahu Cak, bahwasanya jarang sekali orang sehat jika ngumpuli
orang sakit, lalu si sakit jadi ketularan sehat. Yang terjadi justru
sebaliknya. Makanya syari’at Alloh ta’ala mengajarkan pemisahan, kecuali
bagi para dokter atau perawat yang bertugas mengobati si sakit.
Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda:
« لا يورد الممرض على المصح ».
“Tidak boleh orang yang sakit itu dimasukkan kepada orang yang sehat.” (HR. Al Bukhory dan Muslim, dari Abu Huroiroh -rodhiyallohu ‘anhu-).
Makanya
mengingat berbagai bahaya yang mungkin timbul dari akibat masuknya
pembawa syubhat ke tempat pengajaran Salafiyyah, makanya para Salafpun
menerapkan sikap tamyiz-tamayyuz (penyeleksian dan pemisahan diri).
Imam Ahmad bin Yunus rohimahulloh berkata:
«رأيت
زهير بن معاوية جاء إلى زائدة بن قدامة فكلمه في رجل يحدثه ، فقال : من
أهل السنة هو ؟ قال : ما أعرفه ببدعة ، قال : هيهات ، أمن أهل السنة هو ؟
فقال : زهير : متى كان الناس هكذا ؟ فقال زائدة : متى كان الناس يشتمون أبا
بكر وعمر».
“Aku melihat
Zuhair bin Mu’awiyah mendatangi Zaidah bin Qudamah, lalu mengajaknya
bicara tentang seseorang agar beliau mau memberinya hadits. Maka Zaidah
berkata,”Apakah dia dari Ahlussunnah?” Maka dia berkata,”Saya tidak
mengetahui dia terkena kebid’ahan.” Maka Zaidah berkata,”Tidak bisa.
Apakah dia dari Ahlussunnah?” Maka Zuhair berkata,”Sejak kapan
orang-orang seperti ini?” Zaidah berkata,”Kapankah orang-orang
mencaci-maki Abu Bakr dan Umar?”([19]) (“Al Jami’ Li Akhlaqir Rowi”/2/hal. 353).
Imam An Nadhr bin Syumail rohimahulloh berkata:
«
كان سليمان التيمي إذا جاءه من لا يعرفه من أهل البصرة قال : أتشهد أن
الشقي من شقي في بطن أمه ، وأن السعيد من وعظ بغيره ؟ فإن أقر وإلا لم
يحدثه »
“Dulu
Sulaiman At Taimy jika ada orang dari penduduk Bashroh yang
mendatanginya tapi dia tidak mengenalnya, maka beliau berkata,”Apakah
engkau bersaksi bahwasanya orang yang celaka itu celaka di perut ibunya,
dan bahwasanya orang yang beruntung itu adalah yang bisa mengambil
pelajaran dengan orang lain?” Jika dia mengakuinya akan diberinya
hadits. Tapi jika tidak bersaksi demikian beliaupun tidak memberinya
hadits.” (“Al Jami’ Li Akhlaqir Roqi”/2/hal. 348).
Imam Sufyan Ats Tsaury rohimahulloh berkata:
امتحنوا أهل الموصل بالمعافى.
“Ujilah oleh kalian penduduk Maushil dengan Al Mu’afa –Imam Al Mu’afa bin ‘Imron-.” (“Siyar A’lam”/9/hal. 82).
Al Imam Al Wadi’iy -rohimahullohu- berkata:
وننصح
أهل السنة أن يتميزوا وأن يبنوا لهم مساجد ولو من اللبن أو من سعف النخل،
فإنّهم لن يستطيعوا أن ينشروا سنة رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم
إلا بالتميّز وإلا فالمبتدعة لن يتركوهم ينشرون السنة.
“Dan kami menasihati Ahlussunnah untuk tamayyuz
(memisahkan diri dari Ahlul bida’) dan membangun masjid-masjid untuk
diri mereka sendiri sekalipun dari batu lempung ataupun dari pelepah
kurma, karena mereka tak akan sanggup menyebarkan sunnah Rosululloh
-shollallohu ‘alaihi wasallam- kecuali dengan cara tamayyuz. Jika tidak demikian, maka ahlul bida’ itu tak akan membiarkan mereka menebarkan As Sunnah.” (“Tuhfatul Mujib”/hal. 208).
Asy Syaikh Robi’ Al Madkholiy –hafizhohulloh- berkata:
…
الشيخ مقبلاً وكبار تلاميذه لأنهم كانوا ولا يزالون يرون هجر أصحاب
الحزبيات والتميز عنهم بل قال الشيخ مقبل:”هذه دعوتي وهذه طريقتي التي
تميزني عن هؤلاء الجهلة”. (“انتقاد عقدي منهجي” ص 303)
“… Asy
Syaikh Muqbil dan para murid seniornya, karena mereka itu sejak dulu dan
senantiasa memandang harusnya memboikot pelaku hizbiyyah dan memisahkan
diri dari mereka. Bahkan Asy Syaikh Muqbil berkata: “Inilah dakwahku,
dan inilah jalanku yang membedakan diriku dari orang-orang bodoh itu.”
(“Intiqod ‘Aqody Manhajiy ‘ala Abil Hasan”/hal. 303).
Manakala
banyak markiz yang meninggalkan thoriqotus Salaf tadi, dan justru di
kemudian hari banyak menjadi tempat penampungan hizbiyyin, dan
pengelolanya menjadi pembela mereka, jadilah Syaikhuna Abu Hamzah
Muhammad bin Husain Al ‘Amudiy -hafizhohulloh- menyuruh ana untuk
menampilkan istilah: “Markiz Dakwah Salafiyyah yang Murni di Dunia”
sebagaimana bentuk syukur kepada nikmat Alloh ta’ala, dan nasihat buat
yang lainnya. Ya memang resikonya adalah para ahlil bida’ jengkel.
Kemudian, Cak, ana melihat bahwasanya sebagian hizbiyyin yang suka
berdalam-dalam akan memprotes –walaupun ngawur-: “Jika markiz kalian
murni, berarti yang lain kalian tuduh tidak murni, dong!?” Makanya
meskipun ana punya jawabannya yang sesuai dengan bahasa dan usul fiqh,
ana memilih untuk lebih melunakkan istilah menjadi: “Markiz Dakwah
Salafiyyah yang Paling Murni di Dunia”, barangkali agak
mengurangi protes karena istilah tadi bermakna: yang lain juga ada yang
murni, hanya saja yang di Dammaj lebih murni daripada yang lainnya.
Tetap saja hizbiyyun banyak yang terbakar dan gatal-gatal. Dasar memang tukang hasad, ya Cak.
Nah,
sekarang ada berita gembira buat kalian semua, Cak. Beberapa waktu yang
lalu pada saat ana menyerahkan naskah kitab yang menyingkap Kristenisasi
ke Syaikhuna Yahya -hafizhohulloh-. Beliau menyetujuinya dan bahkan
memberikan kata pengantar. Tapi juga ternyata beliau mencoret beberapa
kata di sampul depan yang menggambarkan keagungan markiz Dammaj, dan
yang tersisa hanyalah: “Darul hadits di Dammaj-Yaman.”
Semoga Alloh ta’ala merohmati beliau dan mengangkat derajat beliau atas sikap rendah hati tersebut.
Dan semoga
kalian semua pandai bersyukur pada Alloh ta’ala atas nikmat ini:
hilangnya sebagian bara kedongkolan dari dalam hati. Cak Dul, buang
sajalah bara hasad itu, karena dia itu lebih panas daripada bara sate
Malang.
Maka
berdasarkan apa yang ana sebutkan di atas, sejak saat ini ana tidak lagi
mencantumkan lafazh “Markiz Dakwah Salafiyyah yang Murni di Dunia”
ataupun yang sejenis dengan itu, ( إن شاء الله).
Bab Tujuh:
Akhunal Fadhil Muhammad Bin Umar -hafizhohulloh- Tidak Ngibul
Di dalam
tulisan Cak Dul Ghofur Al Malangi, beliau menyebutkan bahwasanya Akhunal
Fadhil Muhammad bin Umar -hafizhohulloh- ngibuli Akhuna Abu Huroiroh
perihal ‘Ubaid Al Jabiry –hadahulloh-. Cak Dul bilang:
Terkait penghinaan Hajury dan Hajuriyun terhadap Asy Syaikh Ubaid Al Jabiri hafizhahullah,
bak keledai independent (maksudnya adalah Abu Huroirah Firman)
memamerkan keakrabannya dengan para “sopir” dakwah paling murni sejawat([20]) (lalu Cak Dul Ghofur menukilkan tulisan Abu Huroirah):
Kemudian Cak Dul menukilkan tulisan dari Aloloom As Salafiyyah):
Dengan perbedaan fatwa tersebut Cak Dul Ghofur berulang-kali menuduh Akhuna Ibnu Umar telah mengibuli Abu Hurairah.
Jawaban pertama dari Abu Fairuz –‘afallohu ‘anhu-:
Akhunal Fadhil Muhammad bin Umar Al Acehy -hafizhohulloh- pulang ke
Indonesia beberapa bulan yang lalu, setelah meredanya krisis Rofidhoh
pada tahun ini, dan jalan ke Shon’a terbuka luas. Beliau pulang dalam
keadaan membawa fatwa lama dari Syaikhuna Yahya -hafizhohulloh- yang
intinya bahwasanya Syaikh Ubaid Al Jabiry itu salah dan membela hizby jadid.
Belum
didapati adanya fatwa tegas dari Syaikhuna Yahya -hafizhohulloh-
bahwasanya dia itu hizby. Makanya wajar saja jika Akhuna Ibnu Umar
-hafizhohulloh- menjawab sesuai dengan apa yang beliau tahu. Belumlah
sampai kabar pada beliau bahwasanya Ubaid Al Jabiry berkali-kali
memperbaharui serangan cacian kepada Syaikhuna Yahya -hafizhohulloh-
dan tahdzir terhadap Dammaj. Kami yang di sini mengetahui langsung apa
yang tidak diketahui Akhuna -hafizhohulloh-. Sampai akhirnya Syaikhuna
Yahya -hafizhohulloh- pada tanggal 16 Jumadits Tsaniyyah 1431 H (dalam
catatan ana) pada waktu antara Mahgrib dan ‘Isya di dars ‘am
(pelajaran untuk seluruh pelajar) ditanya tentang keadaan Ubaid Al
Jabiriy, maka beliau menjawab dengan jawaban yang panjang dan
sebagiannya agak terulang-ulang, yang di antaranya adalah:
عبيد الجابري حزبي مفتر،
“Ubaid Al Jabiriy itu hizby pembikin kedustaan.”
وما حمله الهدى والسنة، وإنما حمله حزبيته وإرادته إثارة الفتنة والتعصب للحزبيين.
“Bukanlah hidayah dan sunnah yang membawanya kepada perbuatan itu([21]).
Yang membawanya kepada perbuatan itu adalah sifat hizbiyyahnya dia, dan
keinginannya untuk mengobarkan fitnah dan fanatisme kepada para
hizbiyyin.”
استمات في الدفاع عن الحزبية، وهذا شأن الحزبيين
“Dia berjuang mati-matian untuk membela hizbiyyah. Dan ini merupakan karakter para hizbiyyin.”
Yang ana
tuliskan di sini hanyalah sebagian dari ucapan beliau -hafizhohulloh-,
sebagaimana yang tertulis di Aloloom Assalafiyyah pun demikian.
Makanya yang terjadi pada Akhuna Ibnu Umar -hafizhohulloh- itu bukanlah pengibulan, tapi penyebutan hukum sesuai dengan apa yang beliau tahu.
Paham nggak Cak, bedanya. Jika Antum nggak paham, ana nasihatkan untuk
banyak-banyak belajar dan memperdalam syari’at Islam ini dengan serius
dan niat ikhlas agar semakin punya pemahaman yang lurus dan mendalam dan
semakin punya rasa takut pada Alloh. Kurangilah nongkrong di layar
internet, Cak. Ini nasihat yang tulus, Cak, bukan ejekan.
Jawaban kedua:
jawaban di atas cocok untuk kasus penukilan berita. Misalnya: jika
posisi Akhuna Ibnu Umar -hafizhohulloh- pada waktu itu adalah sedang
menukil berita dari Syaikhuna Yahya -hafizhohulloh-. Maka kita katakan
bahwasanya beliau menyampaikan berita sesuai dengan apa yang beliau tahu
langsung dari Syaikhuna Yahya -hafizhohulloh- sebelum pulang ke
Indonesia. Dan beliau tidak tahu bahwasanya pada pekan-pekan berikutnya
terjadi serangan-serangan yang menyebabkan Syaikhuna Yahya
-hafizhohulloh- memperkeras hukum terhadap Syaikh Ubaid. Maka tinggal
kita perbarui pengetahuan yang ada pada Akhuna Ibnu Umar
-hafizhohulloh-. Dan sama sekali Antum –ataupun yang lainnya- tidak
berhak untuk mengatakan bahwasanya beliau mengibuli Abu Hurairah.
Tapi jika kita melihat lahiriyah dari jawaban beliau kepada Abu
Hurairah, kita dapati bahwasanya beliau (Akhuna Ibnu Umar
-hafizhohulloh-) tidak sedang menisbatkan hukum tadi kepada Syaikhuna
Yahya -hafizhohulloh-. Maka jika terjadi perbedaan hukum yang
dilontarkan oleh Syaikhuna Yahya -hafizhohulloh- dan Akhuna Ibnu Umar
-hafizhohulloh-, lebih pantas lagi untuk tidak dikatakan bahwasanya
beliau mengibuli Abu Hurairah. Paham nggak, Cak? Jika nggak paham ya
banyak-banyak doa, Cak.
Jawaban ketiga: Tahu nggak, Cak bahwasanya termasuk syiar terbesar dari hizbiy Mar’iyyin adalah “Kalian mutasarri’un dan musta’jilun
(tergesa-gesa) dalam menghukumi!”. Ini teriakan Syaikh Antum Abdulloh
bin ‘Umar bin Mar’iy pada saat sibuk membela-bela Abul Hasan Al Mishry.
Ini juga teriakan para pengikut Syaikh Antum Abdurrohman bin ‘Umar bin
Mar’iy untuk berkelit dari vonis Salafiyyun dalam fitnah ini. Bahkan
ini juga syiar Jama’ah Tabligh (lihat “Al Qoulul Baligh”/hal. 106), Al
Ikhwanul Muslimin (lihat “Ar Roddul Muhabbar”/hal. 188), dan Jam’iyatul
Hikmah (lihat “Qom’ul Mu’anid”/1/hal. 63-64), dan tokoh pembela
Jam’iyathul Ihsan (lihat “Nubdzatun Yasiroh”/hal. 76-78), dan Abul Hasan
(Lihat “Majmu’ur Rudud”/hal. 459).
Yang ana
inginkan di sini, Cak penjelasan bahwasanya kedua Syaikh Antum itu
hizby, syiar mereka sama dengan syiar para hizbiyyin terdahulu.
Tapi sekalipun demikian, mbok ya yang adil dalam menerapkan syiar. Teriak-teriak: “Kalian mutasarri’un dan musta’jilun
(tergesa-gesa) dalam menghukumi!”. O ternyata mereka sendiri
tergesa-gesa dan ngawur dalam menimpakan vonis. Contohnya ya Cak Dul
sekarang ini.
Jawaban keempat:
Syiar Mar’iyyin juga: “Tabayyun dan tatsabbut sebelum menyimpulkan!”
Tapi mbok ya yang adil dalam menerapkan syiar. Contohnya ya Cak Dul
sekarang ini. Berikut ini adalah faidah, Cak,: Ibrohim At Taimy
-rohimahullohu-berkata:
ما عرضت قولي على عملي إلا خشيت أن أكون مكذَّبا
“Tidaklah
aku sodorkan perkataanku kepada perbuatanku, kecuali aku takut akan
didustakan (dianggap sebagai pendusta).” (“Shohihul Bukhory”/kitab
Bad’il Wahyi/Bab Khoufil Mu’min).
Jawaban kelima:
setelah terbukti ngawurnya tuduhan tadi, coba kita hitung sejenak
kejahatan Antum pada Akhuna Ibnu Umar, dan apa ancaman kerugian buat
diri Antum sendiri.
Antum bilang: “Ya ustadz Ibnu ‘Umar hadahullah, demikiankah atsar ilmu luas dan dalam yang didapatkan dari Al-Hajuri ? Baru pulang dari sana sudah “MENGIBULI”
hanya karena HARTANYA adalah ASSET BERHARGA 24 karatan (yaitu: Abu
Hurairah) yang harus dibiarkan “hidup berkeliaran” walaupun dia bak
seekor keledai yang memanggul kitab?” (hal. 34).
Sudah jelas bahwasanya beliau tidak mengibuli Abu Hurairah. Ingat nggak, Cak Dul bahwasanya dengan ini Antum terancam masuk ke rodghotul khobal (perasan penduduk neraka)?
Lalu Antum mengulang lagi tuduhan tadi dengan berkata: “Dikaupun begitu tega “mengelabui” Abu Hurairah?
Iya, sekarang si bocoralus (yaitu: Abu Hurairah) telah melakukan
operasi face-off untuk kesekian kalinya dengan topeng barunya sebagai
Abu Hurairah.” (hal. 35).
Sudah jelas bahwasanya beliau tidak mengibuli Abu Hurairah. Ini tuduhan
palsu, Cak. Ingat nggak Cak hadits Abu Huroiroh -rodhiyallohu ‘anhu-:
أن
رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال « أتدرون ما المفلس ». قالوا المفلس
فينا من لا درهم له ولا متاع. فقال « إن المفلس من أمتى يأتى يوم القيامة
بصلاة وصيام وزكاة ويأتى قد شتم هذا وقذف هذا وأكل مال هذا وسفك دم هذا
وضرب هذا فيعطى هذا من حسناته وهذا من حسناته فإن فنيت حسناته قبل أن يقضى
ما عليه أخذ من خطاياهم فطرحت عليه ثم طرح فى النار ».
“Bahwasanya Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- bertanya: “Tahukah kalian siapa itu orang yang bangkrut?” Mereka menjawab,”Orang yang bangkrut di kalangan kami adalah orang yang tak punya uang ataupun barang.” Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya
orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari
kiamat dengan pahala sholat, puasa, dan zakat. Tapi dia datang dalam
keadaan telah mencaci si ini, menuduh si itu, makan harta orang ini,
menumpahkan darah orang itu, dan memukul si dia. Maka si ini diberi
kebaikannya, si itu diberi kebaikannya. Jika kebaikannya telah habis
sebelum dia membayar seluruh kewajibannya, diambillah dari kejelekan
mereka lalu dipikulkan ke punggungnya, lalu dilemparkanlah dirinya ke
dalam neraka.” (HR. Muslim).
Antum juga ulangi tuduhan, Cak dengan perkataan: “Kita katakan kepada Abu Hurairah Firman, baginda telah “dikibulin”!” (hal. 35).
Beliau tidak mengibuli Abu Hurairah, Cak. Antum yang dusta dan membikin
dosa. Maka perbanyaklah doa keselamatan, karena Alloh ta’ala berfirman:
وَيْلٌ لِكُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ (الجاثية/7)
“Dan kecelakaanlah untuk setiap pendusta lagi pendosa.” (QS. Al Jatsiyah: 7).
Pantun Cak Dul berikut ini adalah tuduhan yang kesekian: Naik gunung membeli jati* Berhenti dekat pohon pepaya* Pakcik Agung kibuli si jakarti* Bagaimana umat akan percaya* Kucing orang dielus-elus* Sambil berbaring di kasurnya* Keledai orang diakal bulus* Sambil berbaring di kasurnya* Tega nian dikau (hal. 35).
Ingat, Cak, hukuman terhadap riba apa saja? Bagaimana dengan riba yang
terbesar -menuduh seorang Muslim tanpa kebenaran-?
Ternyata terus-terusan Antum ulang tuduhan palsu tadi. Alangkah ngerinya
kobaran api kebencian di hatimu. Waspadalah Cak, jangan sampai dia
membakar dirimu sendiri. Antum bilang: “Sepantasnya kita memperbanyak
istighfar kepada Allah. Sekian tahun menimba ilmu di bawah bimbingan
langsung Al Imam Jarh wa Ta’dil Yaman, pulang-pulang membuka dakwah dengan “mengibuli” orang.” (hal. 35).
Ini termasuk mencari-cari kekurangan seorang Muslim (sampai-sampai yang
bukan dosapun dicatat dan diberi stempel: “Ngibul”). Awas, Cak, balasan itu sesuai dengan amalan.
Bisa jadi Alloh akan balas mencari-cari kekurangan Antum, maka jangan
harap bisa sembunyi di kebun Apel Manalagi di Batu Malang, ataupun di
kawah gunung Bromo. Nafi’ -rohimahullohu- berkata:
عن
ابن عمر قال : صعد رسول الله صلى الله عليه و سلم المنبر فنادى بصوت رفيع
فقال يا معشر من قد أسلم بلسانه ولم يفض الإيمان إلى قلبه لا تؤذوا
المسلمين ولا تعيروهم ولا تتبعوا عوراتهم فإنه من تتبع عورة أخيه المسلم
تتبع الله عورته ومن تتبع الله عورته يفضحه ولو في جوف رحلة قال ونظر ابن
عمر يوما إلى البيت أو إلى الكعبة فقال ما أعظمك وأعظم حرمتك والمؤمن أعظم
حرمة عند الله منك
“Dari Ibnu
‘Umar -rodhiyallohu ‘anhuma- yang berkata: “Rosululloh -shollallohu
‘alaihi wasallam- pernah naik ke mimbar, lalu berseru dengan suara yang
tinggi seraya berkata: “Wahai orang-orang yang masuk Islam
dengan lidahnya, tapi iman itu belum menembus ke dalam hatinya,
janganlah kalian mengganggu Muslimin, dan jangan mencaci mereka, dan
jangan mencari-cari kekurangan mereka, karena barangsiapa mencari-cari
kekurangan saudaranya Muslim, maka Alloh akan mencari-cari
kekurangannya. Dan barangsiapa dicari-cari kekurangannya oleh Alloh,
pastilah Alloh akan membongkarnya sekalipun dia bersembunyi di tengah
rumahnya.”
“Pada suatu
hari Ibnu ‘Umar -rodhiyallohu ‘anhuma- memandang ke Al Baitul Harom,
atau ke Ka’bah, lalu berkata: “Alangkah agungnya engkau, dan alangkah
agungnya kehormatanmu. Tapi Mukmin itu lebih agung kehormatannya
daripada engkau.” (HR. At Tirmidzy (6/180), dihasankan oleh Al Imam Al
Wadi’iy -rohimahullohu- dalam “Al Jami’ush Shohih” (3601)).
Cak, masih juga Antum mengulang tuduhan itu sambil mengejek dengan berkata: “Wa yang lebih kejam lagi, dikau “mengibulinya” sambil berbaring di tempat tidurnya.” (hal. 35).
Ittaqillah,
Cak, Akhuna Ibnu ‘Umar -hafizhohulloh- walaupun Antum remehkan beliau,
beliau itu mengerjakan sholat Shubuh. Kejahatan terhadap orang yang
shalat Shubuh bukanlah kejahatan yang enteng. Rosululloh r bersabda:
منصلىالصبحفهوفيذمةاللهفانظرياابنآدملايطلبنكاللهمنذمتهبشيء.
“Barangsiapa
sholat Shubh maka dia itu ada dalam jaminan Alloh. Maka perhatikanlah
wahai anak Adam jangan sampai Alloh menuntutmu sedikitpun dari
jaminan-Nya.” (HSR Muslim dari Jundub bin Sufyan).
Masih juga Antum belum puas dengan tuduhan palsu yang bertubi-tubi tadi.
Antum melanjutkan proses merusak “wajah” dan menyakiti hati beliau: “wa yang sangat menggemaskan dikau “mengibulinya” sambil memegang kucingnya. Astaghfirullahal ‘adzim. Allahummaghfirlahu. Betapa malang nasibmu wahai Abu Hurairah Firman, benar-benar dikau bagaikan keledai fitnah yang memanggul kitab”. (hal. 35).
Tobat, Cak, sebelum datangnya balasan yang pastilah sesuai dengan amalan. Anas t meriwayatkan bahwa Rosululloh r bersabda:
لماعرجبيمررتبقوملهمأظفارمننحاسيخمشونوجوههموصدورهم،فقلت: منهؤلاءياجبريل؟قال: هؤلاءالذينيأكلونلحومالناس،ويقعونفيأعراضهم
“Ketika
aku dinaikkan ke langit aku melewati suatu kaum yang punya kuku-kuku
dari tembaga, mereka mencakar-cakar wajah dan dada mereka sendiri.
Kutanyakan,“Siapakah
mereka itu wahai Jibril?” Jawabnya,”Mereka adalah orang-orang yang
memakan daging manusia dan merusak kehormatan mereka.” (HSR Abu Dawud (4880). dishohihkan oleh Al Imam Al Wadi’i –rahimahulloh- dalam “Al jami’ush Shohih” (3600)).
Jawaban keenam:
nasihat ana buat Antum, Cak, untuk segera mengumumkan pencabutan
tuduhan yang berulang-ulang tadi. Jika ini Antum lakukan maka kami
merasa salut pada kejantanan Antum. Lagi pula itu hak diri Antum
terhadap Antum sendiri: menyelamatkan diri dari kerugian. Tapi
jika ternyata Antum pengecut, maka silakan ambil kembali sepatu merah
jambu Antum, dan tolong dipakai sambil jalan-jalan. Jangan lupa taruh
bunga mawar Antum di kedua telinga Antum. Barangkali Cak Dul setelah itu butuh operasi face off kayak ucapannya pada Abu Hurairah -waffaqohullohu-.
Ana yakin Antum masih punya jiwa jujur dan ksatria untuk mengakui
kesalahan sebagaimana mestinya. Rosululloh -shalallohu ‘alaihi wa
sallam- bersabda:
شر ما في رجل شح هالع وجبن خالع
“Sejelek-jelek
sifat yang ada pada seorang lelaki adalah sifat kikir yang penuh dengan
keluhan, dan sifat penakut yang amat sangat.” (HSR Ahmad
dan At Tirmidzy dari Abi Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu. Lihat “Al Jami’ush
Shohih” 5/131 karya Imam Al Wadi’y -rahimahulloh-).
Setelah
Antum melihat kejujuran dan kejantanan kami dalam menyikapi kesalahan
sendiri, maka ana nasihatkan buat Antum untuk berbuat serupa atau yang
lebih baik. Bukan dalam rangka Antum tunduk pada musuh, tapi demi nama
baik Antum sendiri di mata Alloh ta’ala. dan ( إن شاء الله) suatu saat
Antum akan tahu bahwasanya nasihat orang yang Antum musuhi ini jauh
lebih berharga daripada pujian dan sanjungan para pendukung Antum.
Antum
sendiri telah lihat bahwasanya nasihat ana ini ( إن شاء الله) sesuai
dengan dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah. Maka jika Antum
mengambilnya, sebenarnya Antum menaati Alloh dan Rosul-Nya, bukan
merunduk pada sang penyampai yang Antum benci ini. Suatu saat nanti
kita akan melihat kebenaran firman Alloh ta’ala:
وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا * يَا وَيْلَتَا لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا * لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي [الفرقان : 27 - 29]
“Dan
pada hari di mana orang yang zholim itu menggigit kedua tangannya
sambil berkata: “Aduh, andaikata aku mengambil jalan bersama Rosul.
Aduh, celakalah aku, andaikata aku tidak mengambil si Fulan sebagai
teman akrab. Sungguh dia telah menyesatkan aku dari peringatan setelah
peringatan itu datang kepadaku.” (QS. Al Ahzab: 27-29).
Tulisan ini
merupakan awal dari dialog ana dengan Cak Dul. Semoga cukup halus dan
tidak sekasar tulisan Cak Dul. Dan semoga bermanfaat dan menumbuhkan
kesadaran pada beliau dan orang-orang yang tertipu olehnya. Dan ana
ucapankan (جزاكم الله خيرا) kepada Akhuna Abu Yusuf Al Ambony dan yang
lainnya atas seluruh bantuan yang diberikan.
( إن شاء الله) tulisan ini akan disambung pada seri yang kedua.
والله تعالى أعلم. سبحانك اللهم وبحمدك لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك.
والحمد لله رب العالمين.
Dammaj, 20 Rojab 1431 H
Ditulis oleh Al Faqir Ilalloh ta’ala
Abu Fairuz Abdurrohman Al Qudsiy
Al Indonesiy
([1]) Termasuk di antaranya adalah salah
duganya Akhunal fadhil al ghoyur Abu Turob Al Jawy -hafizhohulloh-
tentang Ahmad Khodim. Beliau berkata kepada kami bahwasanya beliau
selama ini mengira dan mendengar bahwasanya Ahmad Khodim adalah dari Al
Jami’atul Islamiyyah Madinah, ternyata cuma TKI yang memanfaatkan
sebagian waktu untuk menimba ilmu di Madinah. Dengan ini maka kesalahan
telah diperbaiki ( إن شاء الله تعالى).
([2]) Lihat tafsir Ibnu katsir -rohimahullohu- terhadap ayat ini
([3]) Sengaja ana tampilkan ucapan
beliau -rohimahulloh- karena sebagian hizby Luqmaniyyah bilang: “Kembali
ke ulama Saudi!”, “Thoriqoh Su’udiyyah lebih cocok diterapkan di
Indonesia daripada Thoriqoh Yamaniyyah!”
([4]) Jika ada kesalahan dalam menulis
alamat mohon dimaafkan, tapi memang alamat inilah yang kami buka dari
situs Akhuna Firman. Dan juga ana akan memberikan sedikit perbaikan buat
bahasa yang dipergunakan oleh beliau, tanpa merusak keaslian ( إن شاء
الله). Kalimat aslinya silakan dilihat sendiri di situs beliau. Dan
memang ada beberapa ucapan beliau yang perlu diberi catatan kaki.
([5]) Perlu tambahan beberapa kata agar maksud Akhuna Firman bisa dipahami dengan mudah.
([6]) Walaupun sebenarnya ada. Shaikhuna
Yahya Al Hajury -hafizhohulloh- menyemangati para Salafiyyin untuk
berusaha menebarkan kebaikan kepada saudara-saudaranya semampunya,
walaupun dari sisi dasar-dasar lughoh, atau Al Ushuluts Tsalatsah dan
sebagainya. Yang penting -kata beliau:- jangan sampai bicara tanpa ilmu
atau yang tidak merasa mantap di dalamnya. Dan jika ada problem
hendaknya mencari ilmunya kepada ulama.
([7]) Perasaan apa? Barangkali yang
beliau maksudkan adalah perasaan gersang dengan kehidupan yang jauh dari
nilai-nilai agama (والله أعلم).
([8]) Perlu tambahan beberapa kata agar maksud Akhuna Firman bisa dipahami dengan mudah.
([9]) Sebaik-baik jalan adalah jalan
Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam-. Ada waktunya untuk lembut
–dan inilah asal metode dakwah Rosululloh -shollallohu ‘alaihi
wasallam-. Dan ada waktunya untuk keras. Semuanya harus dikembalikan
kepada syariat. Demikianlah berkali-kali ditekankan oleh Syaikhuna Yahya
Al Hajury -hafizhohulloh-.
([10]) Sepertinya yang dimaksud oleh Akhuna Firman adalah fitnah di antara sebagian du’at di sana.
([11]) Kita semua wajib untuk kembali
kepada Al Kitab dan As Sunnah dengan pemahaman Salaful Ummah. Tidak ada
di antara kita yang sempurna, tapi ( إن شاء الله) situs ALOLOOM.
ASSALAFIYAH adalah situs Salafy, mendakwahkan manhaj Salaf, mengajari
umat ilmu-ilmu syari’ah, memerangi kristenisasi, rofidhoh, komunisme,
Shufiyyah, Ikhwanul Muslimin, sekuler, dan bahkan malpraktek yang ada di
rumah sakit, dan juga hizbiyyah. Ini terbukti dari risalah-risalah yang
ditampilkan. Jadi tidak seperti yang dituduhkan oleh Cak Dul Ghofur
bahwasanya situs itu tidaklah dibuat kecuali untuk merusak dakwah
Salafiyah atau ucapan yang senada dengan itu. Semoga Cak Dul segera
mengumumkan rujuknya dengan jantan. Jika tidak ya silakan memakai
sendiri sepatu merah jambunya dengan dua kuntum mawarnya. Dan tuntutan
di akhirat bisa amat menakutkan.
([12]) Jika berita-berita tentang
kesalahan masa lalu Akhuna Firman itu salah, maka semoga punggung Cak
Dul cukup kuat untuk memikul dosa BUHTAN. Dan jika kesalahan tadi benar
adanya dan tersebar, tapi Akhuna Firman telah mengumumkan tobatnya, maka
dosa BUHTAN juga akan dipanggul oleh Cak Dul. Jika memang belum
ditobati, ya memang harus ditobati. Sama saja, dosa manhaji atau tidak,
dosa itu merusak muru’ah dan berbahaya buat pelakunya, di dunia ataupun
di akhirat. Dan seorang rowi hadits bisa ditolak haditsnya karena
kefasiqan. Demikian pula seorang saksi. Maka kami bersyukur kepada
Akhuna Firman, ataupun siapa saja yang mau merunduk di hadapan Alloh
bertobat dan mengakui kesalahannya. Tobat yang sejati merupakan bukti
kejujuran, keikhlasan dan sekaligus kejantanan. Semoga Cak Dul Ghafur
pun demikian. Jika tidak, ya sepatu merah jambunya tolong dipakai
sendiri. Jangan lupa bunga mawarnya.
([13]) Tobat yang jujur diterima,
meskipun dari kekufuran dan kesyirikan. Yang penting syarat-syarat dari
Alloh dan Rosul-Nya dipenuhi. Alloh itu Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.
([14]) Baik ustadz yang diluar negri ataupun yang di dalam negri, ataupun yang di dalam hati. Alloh ta’ala berfirman:
وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ
لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ
إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ [الأنعام/121]
“Dan sesungguhnya
setan-setan itu benar-benar menurunkan wahyu kepada para wali mereka
untuk mendebat kalian. dan jika kalian menaati mereka sungguh kalian itu
benar-benar orang yang musyrik.” (QS Al An’am 121)
([15]) – Akan tetapi kami tidak pernah
mendapatkan dari Cak Dul dan konco-konconya adanya nasehat atas
kekeliruan yang sangat jelas dan gambalang dari sisi syar’i ataupun adab
sopan-santun, bahkan yang ada adalah bagaimana memperkokoh kesalahan
mereka dengan cara memaksakan dalil untuk digunakan sebagai pendukung,
diantara perkara besar yang tidak mereka nasehatkan apalagi ditaroju’I
adalah seperti dosa tasawwul plus dengan yayasannya, bermudah-mudah
dalam menggunakan jasa perbangkan dalam posisi tidak dhoruri dan masih
banyak jalan seperti yang mereka pampangkan di logo Dauroh Nasional
mereka ketika mereka ngemis, membiarkan teman-teman majahil berteriak
bisu tanpa teguran, seperti Abu Mahfudh,Abu Umar, Dammaj Habibah dst,
bahkan saling bahu- membahu dalam mengkonsumsi dosa,padahal mereka
dibawah ketiak para pembesar yang mereka elu-elukan, ataukah itu semua
kalian anggap remeh yang penting kita bersama para pembesar.
﴿وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلَا ﴾ [الأحزاب/67]
Sementara kesalahan yang
wajar dan bukan diatas kesengajaan dari lawan mereka bawa kelobang
sempit untuk menjepit, sementara kesengajaan kesalahan ustadz-ustadz dan
para pendekar sok jantan mereka dibiarkan tetap bercokol di kalangan
mereka, kalau memang ucapan kami ini salah tolong sebutkan kepada kami
sikap nasehat atau tobat salah seorang dari mereka dalam masalah salah
yang sudah kita maklumi bersama.[Abu Turob]
([16]) – Cak, kata-kata awalmu dengan
akhirnya kok berlawanan, diawal kamu katakan dia tidak berharga, dan
diakhir kamu mengatakan amat berharga, ini menunjukkan bahwa ketetapan
dari pengamatanmu kurang akurat, dan kamu sudah mengakui bahwa kami (dan
kami tidak rela kalau dinisbahkan kepada Hajuriyin atau yang lainnya
yang bukan syar’iy karena ini bukan akhlaq salaf ) tidak menerima
orang-orang yang tidak jelas dari segi manhaj dan akhlaqnya, dan kami
hanya menerima orang yang tsiqoh dan berani bertanggung jawab atas
usahanya, akan tetapi mengapa engkau paksakan celah yang kamu sendiri
telah tahu posisi kami untuk menjepit kami?? Sungguh ini suatu
kedholiman yang harus segera ditaubati.[Abu Turob]
([17]) Mungkin maksud Cak Dul: sejagat
([18]) Sengaja ana tidak menuliskan
dalil-dalilnya karena sudah terkenal, dan sebagiannya telah ana tulis di
syair ketiga “perbaiki Bekal Hari Pembalasan”.
([19]) Perkataan Zaidah bin Qudamah
-rohimahullohu- ini merupakan pengingkaran terhadap pertanyaan Zuhair
-rohimahullohu-. Manakala orang mulai terjatuh ke dalam bid’ah Tasyayyu’
dan yang sezaman dengan itu, mulailah para Imam Salaf menerapkan
seleksi seperti ini. Dan mereka punya dalil-dalil dari Qur’an dan
Sunnah. Maka bagaimana perkara ini terlewatkan oleh Zuhair?
([20]) Barangkali yang dimaksud Cak Dul Ghofur adalah: sejagat, bukan sejawat
([21]) Yaitu: perbuatannya mentahdzir umat dari markiz Dammaj dan caciannya terhadap Syaikhuna Yahya -hafizhohulloh-